Daftar
Daftarkan dirimu sebagai Airy Traveler

DAFTAR
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Sudah punya akun Airy? MASUK
|
Masuk
Masuk sebagai Airy Traveler


MASUK
LUPA PASSWORD?
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Belum punya akun Airy? DAFTAR
Tiket Pesawat ke Banda Aceh
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
17 Nov 2018
Tanggal Pulang
19 Nov 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Banda Aceh (BTJ)

 

Aceh

Tentang Kota Aceh

Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki otonomi khusus. Lewat otonomi khusus yang mereka miliki, tidak heran kalau peraturan yang diterapkan di wilayah ini cukup berbeda dengan di provinsi lain. Namun, dengan catatan, peraturan itu dibuat tidak bertentangan dengan Pancasila.

Provinsi yang berlokasi di wilayah paling barat Indonesia ini memiliki kultur agama Islam yang tinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau lewat otonomi khusus yang mereka miliki, Aceh menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam.

Penduduk di Kota Aceh

Provinsi Aceh memiliki penduduk dengan jumlah mencapai 4,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 98% di antaranya beragama Islam. Sebagian kecil lain terdiri dari pemeluk agama Kristen Protestan, Katolik, Budha, Konghucu, serta Hindu.

Selain itu, keragaman etnis di sini juga sangat tinggi. Etnis Aceh menjadi penduduk paling dominan, kemudian disusul oleh warga suku Jawa dan Gayu. Selain itu, ada pula sebagian kecil masyarakat yang berasal dari suku Tamiang, Alas, Haloban, Singkil, Aneuk Jamee, Kluet, Gayo, Simeulue, Devayan, serta Sigulai.

Sejarah Singkat Kota Aceh

Sebelum kedatangan Islam, mayoritas penduduk Aceh memeluk agama Hindu dan Budha. Keberadaan pemeluk agama Hindu dan Budha diketahui dengan adanya beberapa kerajaan kecil yang berlokasi di Aceh Besar, seperti Indra Patra, Indra Purwa, serta Indrapuri.

Selanjutnya, Islam datang ke Aceh ditandai dengan berdirinya Kesultanan Perlak. Kesultanan ini dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Aceh, berdiri pada tahun 840 sampai 1292 Masehi. Kerajaan ini memiliki kekuasaan di wilayah Peureulak, Aceh Timur.

Setelah keruntuhan Kerajaan Perlak, muncul Kesultanan Aceh yang merupakan pecahan dari Kesultanan Samudra Pasai yang telah runtuh pada abad ke-14. Kesultanan Aceh beribu kota di Kutaraja yang saat ini disebut dengan Banda Aceh. Kerajaan ini pun menguasai Aceh dalam tempo yang cukup panjang, antara 1496 hingga 1903.

Kesultanan Aceh runtuh setelah terjadinya Perang Aceh yang berlangsung sejak tahun 1873 sampai 1903. Perang ini menjadi salah satu pertempuran terpanjang yang dilakukan oleh Pasukan Belanda di Indonesia dan menimbulkan kerugian terbesar sepanjang sejarah mereka. Hal tersebut, memperlihatkan betapa kerasnya perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang Aceh.

Setelah runtuhnya Kesultanan Aceh, perjuangan melawan Belanda terus dilakukan oleh para pejuang Aceh. Hingga akhirnya, para tokoh masyarakat di Aceh membantu Jepang dalam mengusir pasukan Belanda pada tahun 1940. Namun, tidak disangka, tindakan ini malah membuat Aceh ke dalam genggaman Jepang.

Pada awalnya, Jepang memperlihatkan sikap yang ramah kepada masyarakat Aceh. Keramahan tersebut mendapat sikap yang simpatik dari masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya partisipasi rakyat Aceh dalam program pembangunan yang dilakukan Jepang. Namun, pada akhirnya, Jepang menunjukkan sifat aslinya dengan melakukan beragam pelecehan.

Pertempuran melawan Jepang pecah setelah terjadinya pemaksaan kepada rakyat Aceh untuk membungkuk ke arah matahari pada pagi hari. Pemaksaan itu dianggap sebagai pelecehan terhadap rakyat Aceh yang mayoritas beragama Islam. Salah satu tokoh ulama yang memimpin perjuangan melawan Jepang adalah Teungku Abdul Jalil yang berasal dari Lhokseumawe.

Ketika Indonesia merdeka, Aceh sempat mengalami pergolakan yang disebabkan karena adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang muncul pada tahun 1976. Gerakan ini merupakan tindakan separatis yang menginginkan Aceh lepas dari Indonesia. Namun, gerakan ini akhirnya berhasil diredam pada tahun 2005 lewat perjanjian yang dilakukan di Finlandia.

Bandara di Kota Aceh

Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (BTJ) merupakan bandara yang menjadi pintu masuk utama Provinsi Aceh. Bandara ini melayani penerbangan domestik dari berbagai kota di Indonesia. Untuk penerbangan internasional, tersedia rute menuju Kuala Lumpur dan Penang di Malaysia yang disediakan oleh maskapai Air Asia, serta Firefly. Sedangkan untuk penerbangan domestik, penerbangan dilayani oleh lebih banyak maskapai, mulai dari maskapai Lion Air, maskapai Batik Air, maskapai Citilink, hingga maskapai Garuda.

Bandara yang berlokasi di Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar ini sempat mengalami kerusakan pada peristiwa Tsunami Aceh yang terjadi pada 2004. Namun, kerusakan akibat tsunami itu telah diperbaiki secara menyeluruh. Alhasil, bandara ini bisa berjalan normal dan bahkan bisa dipakai untuk mendarat pesawat berukuran besar seperti Boeing 747-400.

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter dengan lebar mencapai 45 meter. Hanya ada 1 terminal di bandara ini, yang dipakai untuk keberangkatan penerbangan domestik dan internasional. Terminal ini mampu menampung sebanyak 1,7 juta penumpang per tahun. Jika Anda telah memesan tiket pesawat ke Aceh, maka Anda dipastikan akan tiba di bandara ini.

Meski bukan merupakan bandara yang besar, bandara dengan kode IATA BTJ ini dikenal memiliki fasilitas yang komplet. Bahkan, Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda meraih gelar sebagai Bandara Terbaik Dunia untuk Wisatawan Halal pada Halal Tourism Awards Tahun 2016.

Secara khusus, fasilitas musala tersedia cukup banyak di bandara ini. Total, ada 5 musala yang bisa menjadi lokasi beribadah para wisatawan muslim. Lima musala itu masing-masing berada di ruang tunggu domestik, ruang tunggu internasional, ruang kedatangan domestik, ruang kedatangan internasional, serta area parkir sepeda motor.

Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (BTJ) melayanai penerbangan ke berbagai destinasi domestik dan internasional. Untuk tujuan domestik, bandara ini melayani antara lain, penerbangan dengan tujuan ke Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Palembang, Padang, Belitung, Batam, Lampung dan Manado. Sedangkan untuk tujuan internasional, bandara ini melayani penerbangan ke berbagai negara di Asia Tenggara.

Pajak Bandara di Kota Aceh

Setiap penumpang yang melakukan perjalanan lewat bandara dengan bangunan 2 lantai ini akan dikenakan airport tax, yang besarannya disesuaikan dengan jenis penerbangan yang dilakukan. Untuk penerbangan domestik, besaran airport tax-nya senilai Rp35.000. Sementara itu, bagi penumpang penerbangan internasional, dikenakan pajak bandara sebesar Rp100.000.

Bandara yang beralamat di Jl. Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang ini memiliki jarak yang relatif dekat dengan pusat Kota Banda Aceh. Kedua tempat tersebut hanya terpisahkan oleh jarak sekitar 15 km. Mengenai pilihan transportasi, tersedia opsi menggunakan Bus Damri serta taksi.

Transportasi Bandara di Kota Aceh

Bus Damri yang melayani transportasi ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (BTJ) beroperasi antara pukul 06.00 WIB sampai 17.00 WIB. Perlu diketahui, hanya ada 1 rute layanan Bus Damri yang disediakan, yakni menghubungkan bandara dengan Banda Aceh. Lama perjalanan berkisar antara 30-45 menit dengan tarif Rp20.000 (tarif bisa berubah sewaktu-waktu).

Selain itu, Anda juga bisa menjumpai keberadaan taksi di bandara ini. Hanya saja, taksi yang beroperasi di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (BTJ) memiliki tarif yang tetap disesuaikan dengan tujuan. Sebagai contoh, kalau Anda ingin diantarkan ke Banda Aceh, biaya yang harus dibayarkan adalah Rp90.000 (tarif bisa berubah sewaktu-waktu).

Terdapat 11 rute perjalanan yang dilayani oleh taksi bandara di sini. Sebelas rute tersebut adalah Banda Aceh, Ulee Lheeu, Darussalam, Lhoknga, Ujong Bate, Kota Jantho, Krueng Raya, Sigli, Sare, Bireuen, serta Lhokseumawe.

Tips Liburan ke Aceh

Seperti kata peribahasa, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Demikian pula ketika wisatawan berniat untuk liburan ke Provinsi Aceh. Tidak seperti di provinsi lain, di sini diberlakukan syariat Islam dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, wisatawan harus menghormati aturan tersebut dengan memperhatikan beberapa hal, seperti:

·                    Menutup Aurat bagi Traveler Muslim

Setiap wisatawan domestik yang beragama Islam, diharuskan untuk menggunakan pakaian yang sopan dan menutup aurat. Aturan ini tak hanya berlaku bagi wanita, tapi juga laki-laki. Sementara itu, wisatawan yang beragama nonmuslim, disarankan untuk mengenakan pakaian yang rapi dan sopan sebagai bentuk penghormatan.

Bagi wisatawan muslim laki-laki, penggunaan celana pendek tidak disarankan. Mengingat, aurat laki-laki meliputi bagian antar pusar sampai lutut. Sementara itu, wisatawan perempuan, diharuskan untuk membawa jilbab serta tidak mengenakan pakaian ketat.

·                    Bawa buku nikah

Perlu diketahui, aturan di Provinsi Aceh tidak memperbolehkan pasangan yang bukan suami istri keluar di malam hari di atas pukul 22.00 WIB. Aturan ini berlaku ketika ada wisatawan yang bepergian di malam hari hanya berdua.

Untuk mengatasi aturan ini, ada 2 hal yang bisa dilakukan. Pertama, Anda bisa berlibur ke Aceh dengan mengajak pasangan yang sah dan menyertai diri dengan buku nikah. Alternatifnya, biasakan keluar di malam hari secara berombongan. Hanya saja, perlu diketahui, Anda tidak akan mendapati diskotek di Aceh. Sebagai gantinya, terdapat kafe yang melayani pengunjungnya selama 24 jam.

·                    Hari Jumat

Suasana di hari Jumat di Provinsi Aceh, akan terasa seperti hari libur. Toko, restoran, serta kafe akan tutup pada pukul 11.00 WIB dan buka kembali pada pukul 14.00 WIB. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para laki-laki muslim yang wajib melaksanakan salat Jumat di masjid.

Pada rentang waktu tersebut, tidak banyak hal yang bisa dilakukan selama di Aceh. Apalagi, beberapa tempat wisata juga tutup. Oleh karena itu, pastikan untuk menyusun itinerary secara tepat kalau berlibur ke Aceh pada hari Jumat. Beberapa destinasi yang bisa dikunjungi selama hari Jumat di antaranya adalah Pulau Weh, Makam Kerkoff, serta Museum Tsunami.

·                    Hindari duduk mengangkang

Tips berikutnya adalah hindari kebiasaan duduk mengangkang bagi wanita saat naik sepeda motor. Aturan ini secara khusus berlaku di Kota Lhokseumawe. Pelarangan duduk mengangkang bagi wanita ini bermula dari imbauan Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya. Aturan ini pun sampai saat ini masih diterapkan, meski sempat menuai kontroversi.

Destinasi Wisata di Kota Aceh

Mengenai pilihan tempat wisata, Aceh punya beragam lokasi yang menawarkan pengalaman liburan menarik. Dari sekian banyak opsi, berikut ini adalah destinasi yang wajib Anda kunjungi selagi berada di Aceh:

·                    Masjid Raya Baiturrahman

Destinasi wajib yang pertama di Aceh tentu tak lain adalah Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini merupakan peninggalan dari Kesultanan Aceh dan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda di tahun 1612 Masehi. Desain bangunan ini memiliki kemiripan dengan Taj Mahal di India dan berlokasi di pusat Kota Banda Aceh.

Desain arsitektur khas Aceh menjadi identitas utama yang membuat para wisatawan tertarik dengan masjid ini. Di sini, Anda bisa menjumpai keberadaan 7 kubah serta 5 menara  dengan kapasitas mencapai 9 ribu jamaah. Keindahan masjid ini semakin lengkap dengan keberadaan kolam air cantik bergaya Turki Usmani yang ada di bagian luarnya.

Sebagai tambahan, peristiwa Tsunami Aceh tahun 2004 juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk datang ke sini. Seperti diketahui, meski dihantam ombak yang dahsyat, Masjid Raya Baiturrahman masih bisa berdiri dengan kokoh. Bahkan, masjid ini digunakan sebagai lokasi evakuasi jenazah para korban.

·                    Museum Tsunami Aceh

Destinasi berikutnya adalah Museum Tsunami Aceh yang dibangun pada tahun 2009 dan merupakan hasil rancangan arsitek Bandung Ridwan Kamil. Bangunan museum ini memiliki luas mencapai 2.500 meter persegi dan punya 4 lantai. Sementara itu, di bagian atap, bangunan ini memiliki bentuk yang unik mirip gelombang laut.

Sesuai dengan namanya, keberadaan bangunan ini merupakan sarana untuk memperingati peristiwa Tsunami Aceh 2004. Di sini, Anda akan diajak untuk melintasi lorong sempit dan gelap yang diapit oleh 2 dinding air tinggi. Desain lorong tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan suasana dan kepanikan ketika terjadi tsunami.

·                    Pantai Kuala Merisi

Pantai yang satu ini memang berada jauh dari Banda Aceh, tepatnya di Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya. Jarak antara pantai ini dengan Banda Aceh terpisah sejauh 150 km yang harus ditempuh selama 2,5 jam perjalanan. Namun, hal itu tidak membuat pantai ini sepi pengunjung. Malah sebaliknya, Pantai Kuala Merisi merupakan salah satu pantai terpopuler di Aceh.

Pantai yang satu ini terkenal dengan suasananya yang tenang. Di sini, ombaknya tidak terlalu tinggi sehingga aman untuk berenang atau snorkeling. Selain itu, perairan di sini juga terjaga kebersihannya sehingga pemandangan alam bawah laut bisa disaksikan secara maksimal. Ditambah lagi, akses transportasi juga bisa dijumpai dengan relatif cukup mudah.

·                    Danau Laut Tawar

Danau Laut Tawar berada sangat jauh dari Banda Aceh, tepatnya di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Kalau ingin berangkat dari Banda Aceh, Anda harus menempuh perjalanan sekitar 400 km untuk sampai ke salah satu danau tercantik di Provinsi Aceh ini.

Danau Laut Tawar dikenal sebagai danau terluas di Aceh, berukuran mencapai 5.472 hektare. Karena ukurannya yang sangat luas itu, tak heran kalau danau ini disebut sebagai laut yang berbentuk danau. Hingga akhirnya, masyarakat setempat memberi danau ini nama Danau Laut Tawar.

Selagi berada di tempat ini, Anda bisa menghabiskan waktu bersantai di tengah danau sembari menikmati kopi. Fasilitas pendukung wisata di sekitar danau bisa ditemukan dengan mudah. Secara khusus, Danau Laut Tawar jadi pilihan wisata menarik untuk para fotografer, dengan objek foto alami yang memadukan antara danau luas dengan bukit hijau yang indah.

·                    Pulau Weh

Pilihan yang terakhir, Anda harus menyempatkan waktu untuk datang ke Pulau Weh. Pulau ini berlokasi di Laut Andaman dengan luas sekitar 156 km persegi. Di pulau ini, Anda akan mendapati keberadaan gunung api dengan tinggi hanya 617 meter. Selain itu, ada 4 pulau kecil yang berlokasi tak jauh dari Pulau Weh, yakni Pulau Rondo, Rubiah, Klah, serta Seulako. Secara khusus, Pulau Rubiah menjadi destinasi para wisatawan yang hobi menyelam. Di tempat ini, Anda bisa mendapati terumbu karang yang cantik.

Selain itu, ada beragam destinasi menarik lain yang bisa didatangi saat berada di Pulau Weh. Pilihan destinasi tersebut di antaranya adalah Tugu Nol Kilometer, Monkey Road, Pantai Iboih, Pantai Gapang, Air Terjun Pria Laot, Pantai Sumur Tiga, ataupun Pantai Anoi Itam.

Budaya Daerah di Aceh

Keragaman budaya di Aceh sangatlah tinggi. Apalagi, terdapat 11 suku yang telah mendiami Provinsi Aceh sejak dulu. Dengan keragaman suku yang mereka miliki, tidak heran kalau Aceh kaya akan tradisi serta budaya.

·                    Bahasa Daerah

Dalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat Aceh berkomunikasi menggunakan bahasa Aceh, mengingat suku Aceh merupakan suku yang paling dominan. Selain itu, ada pula beberapa bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian kecil masyarakat di provinsi ini. Selain bahasa Aceh, ada 9 bahasa daerah lainnya yang digunakan oleh masyarakat Aceh.

Sembilan bahasa tersebut adalah bahasa Tamiang, bahasa Gayo, bahasa Singkil, bahasa Alas, bahasa Kluet, bahasa Jamee, bahasa Sigulai, bahasa Haloban, serta bahasa Devayan. Tiga bahasa, yakni Sigulai, Devayan, serta Haloban merupakan bahasa yang berkembang di daerah kepulauan. Sementara 6 bahasa daerah lain, berkembang di daratan.

Wisatawan bisa saja mencoba untuk mempelajari bahasa daerah sebagai untuk mendekatkan diri dengan masyarakat lokal. Kalau boleh memilih, bahasa yang bisa dipelajari ketika ingin melakukan liburan ke Aceh adalah bahasa Aceh. Apalagi, bahasa ini merupakan bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Aceh. Selanjutnya, bisa pula mempertimbangkan untuk mempelajari sepatah atau dua patah kata dalam bahasa Gayo yang merupakan bahasa daerah dengan penutur terbanyak kedua di Aceh.

·                    Rumah Adat Aceh

Aceh juga memiliki rumah dengan desain tradisional yang unik. Rumah adat Aceh yang disebut dengan nama Rumoh Aceh ini memiliki desain berupa rumah panggung yang terbagi menjadi 3 bagian utama. Tiga bagian utama tersebut adalah serambi depan, serambi tengah, serta serambi belakang. Selain itu, ada pula area tambahan yang dipakai sebagai dapur. Sementara itu, bagian atap, berguna untuk menyimpan pusaka milik keluarga.

·                    Tari Tradisional Aceh

Provinsi Aceh juga memiliki budaya tari tradisional yang beragam. Tari saman menjadi tari tradisional yang paling dikenal luas. Ada pula beragam tarian tradisional yang tidak kalah unik. Apalagi, tarian tradisional Aceh menggambarkan keseharian masyarakat Aceh secara langsung.

Beberapa tari tradisional dari Aceh yang tidak kalah unik kalau dibandingkan dengan tari saman di antaranya adalah tari laweut, tari meusago, tari bines, tari tarek pukat, tari rapai daboh, tari cangklak, tari seudati, tari didong, tari saman meuseukat, tari ula-ula lembing, tari ranub lempuan, dan lain-lain.

Dalam setiap pementasan tarian tradisional tersebut, masyarakat Aceh juga tetap mempertimbangkan unsur islami. Oleh karena itu, tidak heran kalau penggunaan pakaian oleh para penari terlihat sopan dengan pakaian tertutup melindungi aurat, termasuk di antaranya adalah pemakaian jilbab.

Hal yang Harus Dilakukan di Aceh

Ketika berlibur ke Provinsi Aceh, Anda bisa mencoba beragam pengalaman yang tak terlupakan. Berikut ini adalah pilihan aktivitas yang bisa dilakukan saat berwisata ke Aceh:

·                    Melihat sejarah Aceh di Museum Aceh

Aktivitas pertama yang menarik bisa dilakukan di Aceh adalah dengan berkunjung ke Museum Aceh. Museum ini berlokasi di Jl. Sultan Alaidin Mahmudsyah, Banda Aceh. Di dalamnya, Anda bisa memperoleh pengetahuan sejarah Aceh secara menyeluruh. Apalagi, museum ini memiliki koleksi peninggalan zaman prasejarah hingga era modern.

Rumoh Aceh bisa secara langsung disaksikan ketika berkunjung ke sini. Selain itu, di museum ini juga terdapat manuskrip serta dokumentasi yang memperlihatkan perkembangan Masjid Raya Baiturrahman. Tidak ketinggalan, ada pula lonceng tua bernama Lonceng Cakra Donya yang konon diberikan oleh Kaisar Dinasti Ming kepada Sultan Pasai saat perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia.

·                    Mencicipi kopi khas Aceh

Budaya menikmati kopi menjadi kebiasaan yang banyak dilakukan oleh warga Aceh. Tidak heran kalau Anda akan menjumpai keberadaan banyak warung kopi di berbagai penjuru wilayah Provinsi Aceh. Bahkan, beberapa kedai kopi yang ada di Aceh telah berdiri sejak puluhan tahun lalu, seperti yang dijumpai ketika berkunjung ke Kedai Kopi Solong.

·                    Berkunjung ke Sanggar Jamboe Hikayat

Aceh merupakan wilayah yang kaya akan cerita hikayat rakyat. Secara total, ada 80 cerita hikayat yang bisa dijumpai dan bersumber dari berbagai tempat di Aceh. Nah, kesempatan untuk mengetahui cerita hikayat dari Aceh bisa didapatkan ketika berkunjung ke Sanggar Jamboe Hikayat.

Pemilik sanggar ini, yakni Muda Baliya, merupakan sosok yang fenomenal. Muda merupakan pria yang mendapatkan Rekor Muri karena pencapaiannya dalam membacakan hikayat terlama. Menurut catatan Muri, Muda berhasil membacakan hikayat dengan durasi mencapai 26 jam nonstop, dengan jeda hanya 5 menit setiap jam.  

·                    Naik labi-labi

Aktivitas terakhir yang bisa Anda lakukan ketika berlibur ke Aceh adalah mencoba pengalaman naik labi-labi. Apa itu labi-labi? Labi-labi di sini bukanlah hewan yang masih satu keluarga dengan kura-kura. Labi-labi di Aceh merupakan salah satu jenis transportasi umum yang telah ada sejak tahun 1980-an.

Labi-labi dibuat dengan melakukan modifikasi mobil jenis pick-up sehingga memiliki tempat duduk untuk penumpang. Transportasi umum ini memiliki kapasitas penumpang yang cukup banyak, mencapai 16 orang. Dulu, labi-labi beroperasi dari pagi sampai malam. Namun, kondisi tersebut telah berubah drastis. Saat ini labi-labi hanya bisa dijumpai hingga pukul 18.00 WIB.

Kuliner Khas di Aceh

Berburu kuliner khas menjadi pilihan aktivitas yang sulit untuk dilewatkan saat liburan ke Aceh. Meskipun ada beberapa Ada beragam makanan enak yang bisa dicicipi selagi di sini, di antaranya adalah :

·                    Keumamah

Makanan yang satu ini memiliki penampilan serta nama yang cukup asing di telinga. Namun, dijamin, keumamah jadi pilihan yang menarik kalau ingin membawa pulang oleh-oleh makanan enak untuk saudara di rumah.

Keumamah merupakan makanan yang dibuat dengan bahan utama daging ikan tuna rebus. Daging tersebut kemudian dikeringkan dan dipotong kecil. Keumamah memiliki daya tahan yang lama, bisa berminggu-minggu. Masyarakat Aceh biasanya menggunakan keumamah sebagai hidangan pelengkap di meja makan.

·                    Meuseukat

Meuseukat merupakan jajanan tradisional dari Aceh yang memiliki tekstur lembut dan rasa manis seperti dodol. Makanan ini dibuat dengan bahan utama buah nanas yang dicampung dengan tepung, gula, serta bahan-bahan lain. Cara pembuatannya cukup lama, dan biasa disajikan sebagai hantaran pernikahan, perayaan Idulfitri, dan Iduladha.

·                    Kuah Pliek Ue

Melihat tampilannya, kuah pliek ue ini tak jauh berbeda dengan gulai. Apalagi, dalam proses pembuatannya, kuah pliek ue ini juga menggunakan santan. Hanya saja, di dalamnya tidak terdapat daging sapi atau ayam. Sebagai gantinya, kuah pliek ue ini menggunakan beragam sayuran serta keong sungai.

·                    Mi Aceh

Kuliner yang satu ini menjadi pilihan wajib berikutnya. Meski, mi Aceh memang sudah bisa ditemukan dengan mudah di berbagai kota di Indonesia. Namun, tak ada salahnya untuk mencoba kuliner yang satu ini di tempat aslinya, kan? Anda bisa memilih untuk mencicipi mi tumis, mi goreng, mi rebus, ataupun mi kuah.

·                    Ayam tangkap

Nama makanan yang satu ini cukup unik, sesuai dengan cara penyajiannya. Ayam tangkap dibuat dengan menggunakan daging ayam yang telah digoreng menggunakan bumbu khusus. Dalam penyajiannya, ayam goreng tersebut disertai dengan dedaunan renyah.

·                    Gulai Kambing Khas Aceh

Selanjutnya, ada pula menu gulai kambing khas Aceh yang nikmat. Gulai kambing dari Aceh memiliki perbedaan dibandingkan dengan gulai kambing di tempat lain. Gulai ini dibuat dengan mencampurkan potongan daging kambing dengan beragam jenis rempah serta santan dan kemudian dimasak sampai matang. Untuk proses penyajiannya, gulai ini biasa disajikan bersama dengan potongan cabai rawit serta jeruk nipis.

Hotel Termurah di Banda Aceh (BTJ)
Lihat semua hotel di Banda Aceh