Daftar
Daftarkan dirimu sebagai Airy Traveler

DAFTAR
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Sudah punya akun Airy? MASUK
|
Masuk
Masuk sebagai Airy Traveler


MASUK
LUPA PASSWORD?
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Belum punya akun Airy? DAFTAR
Tiket Pesawat ke Bandung
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
18 Nov 2018
Tanggal Pulang
20 Nov 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Bandung (BDO)

 

BANDUNG

Tentang Kota Bandung

Kota Bandung berdiri jauh setelah terbentuknya Kabupaten Bandung. Kabupaten Bandung sendiri sudah ada sebagai bagian dari Kerajaan Timbangten (saat itu bernama Ukur atau Tatar Ukur), yang tidak lain berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang (bagian dari Kerajaan Pajajaran). Adapun lokasi yang menjadi ibu kota Kabupaten Bandung kala itu adalah Krapyak (sekarang menjadi Dayeuhkolot) yang berjarak sekitar 11 km ke arah selatan dari pusat pemerintahan Bandung saat ini.

Sejarah Kota Bandung dan Awal Terbentuknya

Di akhir tahun 1799 saat VOC mengalami kebangkrutan, Louis Napoleon yang tidak lain merupakan adik dari Napoleon Bonaparte mengangkat seseorang yang berpengalaman dalam bidang militer untuk mempertahankan wilayah koloninya dari ancaman Inggris. Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda oleh sang raja dengan fokus utama mengamankan kawasan Jawa. Mengingat Inggris memiliki armada kuat di wilayah perairan, maka Daendels memutuskan bahwa mobilisasi darat adalah langkah yang paling bijak.

Gagasan inilah yang kemudian melahirkan kebijakan pembangunan Jalan Raya Pos. Jalan Raya Pos adalah jalan yang memiliki panjang sekitar 1.000 km dan membentang dari Anyer hingga Panarukan. Di samping sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Jawa, jalan ini dibuat untuk memperlancar komunikasi antardaerah dengan mendirikan pos di setiap 4,5 km sebagai tempat pemberhentian sekaligus penghubung dan pengiriman surat-surat. 

Pembangunan Jalan Raya Pos dimulai sekitar pertengahan 1808. Rakyat pribumi menjadi pekerjanya di bawah pimpinan bupati masing-masing daerah. Jalan yang telah ada diperbaiki dan diperlebar. Di Bandung sendiri, jalan raya tersebut tidak lain adalah Jalan Asia Afrika yang bersejarah hingga ke Jalan A. Yani dan berlanjut ke Sumedang dan kawasan lainnya.

Pembangunan ini yang menjadi cikal bakal pindahnya ibu kota pemerintahan. Demi kelancaran pembangunan dan pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels mengeluarkan sebuah perintah. Melalui surat tanggal 25 Mei 1810, Daendels meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibu kota kabupaten. Wilayah yang menjadi target ibu kota baru kala itu adalah Cikapundung dan Andawadak. Namun sebenarnya, jauh sebelum sang Gubernur Jenderal mengeluarkan perintah, bupati Bandung sudah lebih dulu berinisiatif.

Bupati Bandung, Wiranatakusumah II, sudah lebih dulu merencanakan pemindahan ibu kota ke kawasan yang strategis, yakni sebuah lahan kosong berupa hutan yang berada di sisi barat Sungai Cikapundung. Lokasinya bernama Sumur Bandung yang berarti sumur yang berhadapan. Dua sumur yang dimaksud terletak di kawasan Gedung PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten (di Jalan Asia Afrika) dan di bawah bangunan bekas kompleks pertokoan Miramar, yakni Alun-Alun Bandung. Dibandingkan Krapyak yang ada di sisi selatan dan kerap dilanda banjir di setiap musim penghujan, lokasi pemerintahan yang baru tentu jauh lebih baik dan strategis.

Maka pada sekitar awal 1809, bupati berikut rakyatnya pindah ke kawasan calon ibu kota yang baru. Awalnya, bupati tinggal di kawasan Cikalintu (kini dikenal dengan kawasan Cipaganti), lalu pindah ke Balubur Hilir sebelum akhirnya menduduki kawasan Kampung Bogor yang kini menjadi lahan Gedung Pakuan (rumah dinas gubernur Jawa Barat saat ini).

Untuk pembangunannya sendiri, bupati dan sejumlah rakyat menggunakan konsep tata ruang tradisional. Pendopo dibangun di sisi selatan Alun-Alun Bandung dan menghadap ke arah Gunung Tangkuban Perahu (sesuai dengan simbol kepercayaan masyarakat Sunda). Sementara itu, Masjid Agung Bandung (Masjid Raya Bandung) dibangun di sebelah barat Alun-Alun Bandung dan pasar berada di sisi timur.

Kota Bandung resmi menjadi ibu kota baru Kabupaten Bandung berdasarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810. Kemudian di tahun 1906, Kota Bandung ditingkatkan statusnya menjadi Pemerintah Kota pada tahun 1906 di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal J.B. Van Heutz. Dengan demikian, resmilah Kota Bandung lepas dari Kabupaten Bandung meski ibu kota Kabupaten Bandung juga masih terletak di Kota Bandung.

Asal Nama Kota Bandung

Belum diketahui dengan pasti asal muasal terbentuknya nama ‘Bandung’, tetapi ada beberapa versi cerita yang berkembang dan diyakini masyarakat. Salah satunya adalah Bandung yang berasal dari kata bendung alias bendungan. Hal ini dikarenakan konon kota metropolitan di Jawa Barat ini terbentuk sebagai telaga yang dihasilkan oleh bendungan Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang meletus berkali-kali ratusan ribu tahun lalu.

Kawasan telaga ini pun menjadi pemukiman penduduk setempat—setidaknya sekitar 9.000 tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan fosil manusia Homo Sapiens di Gua Pawon (gua pertama di Pulau Jawa bagian barat), Padalarang. Dari tahun ke tahun, populasi yang tinggal di kawasan tersebut semakin banyak hingga membentuk masyarakat seperti saat ini.

Sebuah versi lain juga menyebutkan sejarah nama Bandung diambil dari nama sebuah kendaraan air yang terdiri atas dua perahu yang diikat berdampingan. Perahu tersebut disebut perahu bandung yang juga digunakan oleh Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah untuk mengraungi Sungai Citarum dalam rangka mencari tempat pusat pemerintahan baru sebagai pengganti Dayeuhkolot.

Namun bila ditinjau dari versi filosofi Sunda, nama Bandung diambil dari sebuah kalimat sakral “nga-Bandung-an Banda Indung.” ­Nga-Bandungan berarti menyaksikan atau bersaksi, sementara banda adalah segala sesuatu, baik benda hidup maupun tak hidup, yang ada di alam semesta, dan indung berarti bumi. Dengan demikian, Bandung memiliki nilai filosofis sebagai alam semesta, tempat segala makhluk, baik makhluk hidup maupun benda mati, yang ada di Ibu Pertiwi dan keberadaannya disaksikan oleh Yang Maha Kuasa.

Letak, Luas, dan Batas Wilayah Kota Bandung

Kota Bandung berada sekitar 140 km di sebelah tenggara ibu kota negara Jakarta. Ibu kota Provinsi Jawa Barat ini terletak di posisi 107⁰36’ Bujur Timur dan 6⁰55’ Lintang Selatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989, luas wilayah Kota Bandung adalah 16.729,65 Ha.

Adapun secara administratif, Kota Bandung memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.
  • Bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Bandung.
  • Bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung.
  • Bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi.

Kondisi Geografis Bandung

Kawasan Bandung dikelilingi oleh pegunungan yang membuat wilayah ini memiliki bentuk morfologi seperti mangkuk raksasa atau yang lebih kerap disebut Cekungan Bandung. Bersama dengan Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang, Kota Bandung berada dalam lingkaran gunung berapi yang masih aktif hingga hari ini sekaligus berada di antara tiga daerah sumber gempa bumi: sumber gempa bumi Sukabumi-Padalarang-Bandung, sumber gempa bumi Bogor-Puncak-Cianjur, dan sumber gempa bumi Garut-Tasikmalaya-Ciamis. Dengan demikian, potensi terjadinya gempa tektonik sewaktu-waktu cukup besar di wilayah ini.

Di sisi lain, akibat letusan Gunung Tangkuban Perahu ratusan ribu tahun yang lalu, Kota Bandung memiliki lapisan tanah aluvial. Di bagian utara, tengah, dan barat, material yang terkandung di dalamnya didominasi oleh andosol. Sementara itu di bagian timur dan selatan, jenis tanah aluvial yang ada didominasi oleh material endapan tanah liat.

Kondisi Topografi Bandung

Kota Bandung berada di ketinggian 791 mdpl. Adapun titik tertingginya ialah di wilayah utara dengan ketinggian 1.050 mdpl dan titik terendahnya ialah di wilayah selatan dengan ketinggian 675 mdpl.

Waktu Kota Bandung

Berdasarkan Keputusan Presiden No. 41 Tahun 1987, Kota Bandung merupakan wilayah dengan zona Waktu Indonesia Barat alias WIB (UTC+07.00) sejak 1 Januari 1988. Adapun wilayah lain yang termasuk dalam zona waktu ini adalah seluruh kawasan di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah

Penduduk di Kota Bandung

Menurut data yang didapat oleh BPS, terjadi peningkatan jumlah penduduk Kota Bandung selama beberapa tahun terakhir seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.

Tahun

Jumlah Penduduk

Laju Pertumbuhan per Tahun (%)

2011

2.429.176

0,71

2012

2.444.617

0,64

2013

2.458.503

0,57

2014

2.470.802

0,50

2015

2.481.469

0,43

2016

2.490.622

0,37

Informasi Bandara

Tentang Bandara di Bandung

Kota Bandung memiliki bandara berskala internasional dengan nama Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara. Lokasinya berada di Jalan Pajajaran Nomor 156 Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.

Bandara ini merupakan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada tahun 1920 dengan nama Luch Waart Afleading. Pada masa kependudukan Jepang di Indonesia, lapangan udara tersebut lantas diambil alih oleh pihak Jepang hingga tahun 1945. Pasca kemerdekaan Indonesia hingga tahun 1949, bandar udara mengalami masa vakum sebelum kemudian diambil alih oleh TNI-AU sebagai pangkalan militer.

Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara menjadi bandara penerbangan komersial pada tahun 1973. Kegiatan pelayanan lalu lintas dan angkutan udara komersial dilakukan secara resmi di tahun 1974 yang ditandai dengan berdirinya Kantor Perwakilan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Adapun nama Husein Sastranegara diambil dari nama seorang pilot militer AURI yang gugur pada saat latihan terbang di Yogyakarta pada tanggal 26 September 1946.

Kode Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara

Kode ICAO Husein Sastranegara     : WICC

Kode IATA Husein Sastranegara     : BDO

Maskapai Penerbangan

Bandar Udara Husein Sastranegara mengakomodasi perjalanan jalur udara untuk rute domestic dan internasional dengan 12 maskapai penerbangan, yakni Air Asia, Batik Air, Citilink, Express Air, Garuda Indonesia, Kavl Star Aviation, Lion Air, Malindo Air, NAM Air, Silk Air, Susi Air, dan Wings Air.

Jarak Bandara dari Pusat Kota

Jarak dari Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara ke pusat kota cukup dekat, yakni sekitar 5 km. Dalam keadaan normal, jarak ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit menggunakan mobil atau kendaraan bermotor sehingga posisinya terbilang sangat strategis.

Transportasi Bandara Kota Bandung

  • Angkutan Taksi

Pihak Bandara Huesin Sastranegara mengakomodasi kebutuhan taksi Primkopau Husein Sastranegara untuk mengantar penumpang dari bandara menuju lokasi tujuan. Hanya taksi inilah yang diperbolehkan untuk mengantar penumpang dari bandara.

Pihak Primkopau Husein Sastranegara telah menetapkan tarif yang tetap ke beragam tujuan di Kota Bandung dan sekitarnya. Untuk mendapatkan tiket, penumpang dapat membeli di loket yang tersedia di pintu keluar bandara baik domestik maupun internasional.

  • Angkutan Kota

Angkutan kota juga tersedia untuk mengantar penumpang ke berbagai tujuan. Namun untuk menggunakan angkutan kota, penumpang harus berjalan dulu sekitar 10 menit menuju ruas jalan utama.

Pajak Bandara Husein Sastranegara

Pajak domestik          : Rp60.000,00

Pajak internasional   : Rp130.000,00

Tips Bepergian ke Bandung

Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bandung selalu meningkat setiap tahunnya. Hal ini tidak dapat dimungkiri karena wajah Kota Bandung yang semakin cantik setiap harinya. Di samping potensi alam yang mempesona, kerja sama antara pemerintah, investor, dan masyarakat untuk mewujudkan beragam objek wisata dan suasana yang harmonis juga sangat berperan penting.

Kota Bandung dapat dikunjungi setiap saat sepanjang tahun. Kecuali untuk menikmati objek wisata tertentu, ada baiknya berkunjung ke kota ini di luar musim penghujan. Selain itu bila hanya memiliki waktu yang singkat, hindari berkunjung pada saat akhir pekan untuk menghindari risiko macet yang akan membuang banyak waktu hanya di perjalanan.

Budaya Kota Bandung

Meski dijuluki sebagai kota mode lantaran gaya hidup masyarakatnya (terutama generasi muda) yang sangat up to date sesuai perkembangan zaman, Kota Bandung masih kental dengan budaya daerahnya. Sehari-hari, masyarakat berbicara dengan bahasa Sunda yang khas dengan karakter yang lemah lembut. Masyarakat Sunda juga dikenal dengan budayanya yang menjunjung tinggi sopan santun.

Dalam bidang seni, Bandung memiliki alat musik tradisional yang disebut dengan degung alias gamelan. Seperangkat alat musik ini terdiri dari gong, jenglong, kendang, saron, dan suling. Selain itu, beberapa alat musik tradisional lainnya yang mudah ditemui di Bandung adalah kecapi, suling, angklung, dan karinding.

Sementara itu dalam seni tari, ada banyak pagelaran tarian Sunda yang dapat dinikmati selagi di Bandung, antara lain tari jaipong, tari buyung, tari topeng priangan, dan tari kursus.

Tempat Wisata di Pusat Kota

Bandung memiliki beragam objek wisata yang sayang untuk dilewatkan. Bagi wisatawan yang ingin berjalan-jalan di sekitar pusat kota, beberapa tempat berikut menjadi destinasi yang wajib dikunjungi.

  • Kawasan Braga

Belum lengkap rasanya mengunjungi Bandung tanpa menginjakkan kaki di kawasan populer Braga. Sejak zaman kependudukan Belanda, Jalan Braga sudah menjadi wilayah yang terkenal dan ramai.

Di sepanjang Jalan Braga, wisatawan akan menemukan kompleks pertokoan yang masih kental dengan arsitektur kolonialnya. Tata letak pertokoan sengaja dibuat menyerupai model yang ada di Eropa pada masa itu dan membuat Bandung seolah-olah menjadi kota mode seperti Paris kala itu. Dari sinilah asal muasal sebutan Paris van Java muncul.

  • Cihampelas Walk

Bila menginginkan suasana yang lebih modern di pusat kota, Cihampelas Walk boleh jadi alternatif yang tepat. Seperti namanya, pusat perbelanjaan ini berada di Jalan Cihampelas yang selalu hibuk, terutama di akhir pekan.

Ada banyak pertokoan dengan merek lokal maupun internasional yang ada di Cihampelas Walk alias CiWalk. Mulai dari outlet makanan di bioskop, pengunjung dapat menghabiskan seharian di tempat ini. Menariknya, CiWalk juga memiliki konsep taman yang sangat cantik. Pengunjung dapat sejenak menikmati segarnya udara di bangku-bangku pada taman outdoor.

  • Gedung Sate

Sebagai ikon Kota Bandung, Gedung Sate juga menjadi objek wisata yang perlu dikunjungi. Meski gedung ini merupakan kantor pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, aristekturnya yang unik menarik perhatian wisatawan untuk menyaksikannya secara langsung.

Di samping itu, Gedung Sate juga berseberangan dengan Lapangan Gasibu. Di akhir pekan, lapangan Gasibu yang kerap menjadi tempat berolahraga warga Bandung disulap menjadi sebuah pasar kaget dari pagi hingga menjelang siang.

  • Trans Studio Bandung

Bila menginginkan sebuah tempat wisata terpadu, wisatawan dapat mengunjungi Trans Studio Bandung. Taman hiburan keluarga dengan konsep indoor ini berdiri di atas lahan sekitar 4,2 hektare dengan beragam wahana yang seru dan edukatif.

Hal yang Harus Dilakukan Saat di Bandung

Bandung adalah destinasi yang tepat untuk dikunjungi oleh solo traveler maupun bersama dengan keluarga, teman, atau orang-orang terkasih lainnya. Kota ini memiliki banyak daya tarik dengan suasana yang sangat seru dan mengasyikkan.

Wisata Kuliner

  • Batagor

Batagor merupakan sebuah kudapan yang merupakan singkatan dari baso tahu goreng. Salah satu hal yang menjadikan batagor Bandung menjadi begitu lezat adalah karena banyaknya produsen tahu lezat di kota ini.

Menemukan batagor Bandung tidaklah susah. Namun bila ingin mencicipi terbaik, beberapa tempat populer seperti Batagor Riri, Batagor Kingsley, dan Batagor H. Isan dapat menjadi referensi.

  • Paskal Food Market

Paskal merupakan singkatan dari Pasar Kaliki, sebuah kawasan di Kota Bandung. Paskal Food Market sendiri tidak lain adalah sebuah tempat makan yang menjadi kesukaan para warga Bandung untuk menongkrong sembari menikmati beragam sajian lezat.

Berada di pusat kota dan dekat dari Stasiun Hall bandung, Paskal Food Market menyediakan lebih dari 50 stand makanan dengan lebih dari 1.000 jenis hidangan. Tempat makan ini dibuat dengan konsep semi outdoor yang keren sekaligus romantis. Mulai sore, pengunjung akan memadati Paskal Food Market hingga malam hari.

  • Pungkur

Bila menginginkan sarapan yang tenang dengan segelas susu sapi segar, kawasan Pungkur adalah pilihan yang tepat. Meski terkesan kuno, kedai-kedai jajanan basah di pinggir jalan ini menyajikan tidak kalah soal rasa.

Segelas susu sapi segar dapat dipilih dengan variasi rasa sesuai selera. Sebagai pendamping, beragam sajian kue basah dan pastry siap membuat waktu sarapan menjadi lebih nikmat.

Wisata Budaya

  • Saung Angklung Udjo

Di awal tahun 1950-an, sepasang suami istri bernama Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati mendirikan sebuah paguyuban kesenian Sunda. Tujuannya tidak lain adalah untuk melestarikan kebudayaan setempat.

Ada beberapa fasilitas kesenian yang tersedia di Saung Angklung Udjo. Sesuai namanya, wisatawan juga dapat memainkan alat musik tradisional angklung di tempat ini.

  • Taman Budaya Jawa Barat

Di zaman kolonialisme Belanda, Taman Budaya Jawa Barat merupakan sebuah tempat untuk minum teh dan kuliner. Dulunya, tempat ini bernama Dago The Huis yang berarti Rumah The Dago.

Di sini, wisatawan dapat menikmati pertunjukan dan teater terbuka khas Sunda. Didukung lokasinya yang berada di kawasan sejuk Dago, Taman Budaya Jawa Barat akan membuat wisatawan betah berlama-lama di sni sembari menikmati hidangan lezat yang tersedia.

Wisata Alam

  • Taman Hutan Raya Ir. Juanda

Bagi wisatawan yang gemar melakukan hiking atau berkunjung ke tempat-tempat yang menyejukkan, Taman Hutan Raya Ir. Juanda sebaiknya tidak terlewatkan. Kawasan ini merupakan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman. Adapun luasnya mencapai 590 hektare yang membentang dari kawasan terkenal Dago Pakar hingga Maribaya.

Wisatawan dapat berkunjung setiap hari. Bila ingin menjelajah seluruh hutan, maka estimasi waktu yang diperlukan sekitar 2-3 jam, sesuai kondisi fisik masing-masing. Selain destinasi wisata, Tahura juga kerap dijadikan sebagai tempat berolahraga lari.

  • Kawasan Kawah Putih

Kawasan wisata alam ini semakin banyak dikunjungi setelah sebuah film layar lebar Indonesia beberapa tahun lalu yang melakukan pengambilan gambar di tempat ini. Kawah Putih sendiri sebenarnya merupakan bagian dari Ciwidey yang terletak sekitar 50 km ke arah selatan Kota Bandung.

Kawah Putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang ada di tempat ini berwarna putih akibat campuran belerang, sementara air danaunya berwarna putih kehijauan yang berubah-ubah sesuai kadar sulfur, suhu, dan cuaca. Karena lokasinya yang berada sekitar 2.400 mdpl, wisatawan yang akan mengunjungi objek wisata ini sebaiknya mempersiapkan baju hangat karena suhu yang mencapai 8 derajat Celsius.

  • Ranca Upas

Ranca Upas sebenarnya merupakan kawasan konservasi sekaligus perkemahan. Luasnya mencapai 215 hektare dan dipenuhi dengan beragam fauna seperti rusa dan flora langka seperti huru, jamuju, kitambang, dan lain-lain.

Kawasan ini berada pada ketinggian sekitar 1700 mdpl dengan suhu yang berkisar di angka 17 sampai 20 derajat Celsius. Bahkan pada saat yang ekstrem, suhu di malam hari dapat mencapai di bawah 0 derajat Celsius. Selain sebagai bumi perkemahan, Ranca Upas juga memiliki fasilitas seperti penangkaran rusa, pemandian air panas, dan wahana outbond.

Wisata Keluarga

  • Farm House

Sejak dibuka di akhir 2015 lalu, Farm House menjadi objek wisata keluarga yang selalu ramai. Lokasinya berada di Kecamatan Lembang dan ruas jalan utama sehingga mudah untuk ditemukan.

Farm House adalah tempat wisata yang menawarkan konsep peternakan ala Eropa. Bangunan yang ada di dalam objek wisata ini dibuat dengan arsitektur bergaya Eropa klasik dengan tatanan taman yang sangat cantik. Selain itu, adanya rumah Hobbit yang sangat khas juga menjadi daya tarik tersendiri.

  • The Lodge Maribaya

The Lodge Maribaya merupakan kawasan wisata yang menawarkan kecantikan khas hutan pinus. Sepanjang mata memandang, pengunjung akan dimanjakan dengan pesona pinus yang sangat apik dan teduh.

Selain berkemah, pengujung juga dapat menikmati beragam wahana seru selama berada di The Lodge Maribaya. Beberapa wahana yang paling diminati antara lain adalah gantole, sky bike, sky swing, dan masih banyak lainnya. Selain itu, tempat ini juga menyediakan fasilitas untuk aktivitas bersantap, baik restoran untuk sajian berat maupun kafe untuk kudapan yang lebih ringan dengan suasana lebih santai.

  • De’Ranch

De’Ranch juga merupakan objek wisata keluarga dengan konsep peternakan. Bedanya, peternakan yang dimaksud adalah peternakan kuda ala koboi di film-film khas Amerika.

Pengunjung dapat menunggangi kuda selama berada di De’Ranch yang luas dengan pemandangan alam yang hijau, segar, dan luas. Asyiknya, selagi berkuda, pengunjung juga dapat menyewa kostum ala koboi sehingga sensasi ala American Cowboy menjadi lebih terasa.

Wisata Sejarah

  • Gedung Merdeka

Saat berada di kawasan Asia Afrika atau Braga, wisatawan dapat singgah sejenak ke Gedung Merdeka. Lokasinya berada di kanan jalan dan sangat mudah ditemukan lantaran berada tepat di tikungan.

Pada April 1955, Gedung Merdeka menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika yang momentum. Namun awalnya, gedung ini tidak lain adalah sebuah kedai kopi tempat menongkrongnya para kaum Belanda sebelum akhirnya dirombak. Kini, Gedung Merdeka menjadi museum yang memajang beragam koleksi benda dan foto KAA.

  • Gedung Indonesia Menggugat

Dari kejauhan, Gedung Indonesia Menggugat tampak seperti rumah tinggal biasa dengan arsitektur kolonial yang kuno. Namun sesungguhnya, bangunan ini merupakan saksi biksu salah satu momen penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Seperti namanya, tempat ini merupakan lokasi Ir. Soekarno melakukan sebuah gugatan yang terkenal dengan nama Indonesia Menggugat. Gedung ini berada di Jalan Perintis Kemerdekaan dan kini mejadi tempat penelitian, pameran, dan ruang pertemuan.