Tiket Pesawat ke Batam
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
16 Ags 2018
Tanggal Pulang
18 Ags 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Batam (BTH)

 

Batam

Tentang Kota Batam

Kota Batam dulunya merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Riau-Lingga. Pada masa pemerintahan Sultan Abdulrahman Syah (1812-1832), Batam belum sepenuhnya dihuni. Adalah seorang bernama Raja Isa, putra dari Yang Dipertuan Muda Riau Raja Jakfar, yang mulai mendirikan perkampungan di daerah Nongsa.

Raja Isa, atau sebutan lainnya Nong Isa, dikenal sebagai tokoh paling berperan dalam sejarah kemajuan Batam sebagai pelabuhan dagang. Pada masa lalu, para utusan Riau yang hendak berlayar ke Lingga hampir selalu menyempatkan diri untuk singgah ke Nongsa. Raja Isa banyak membantu para utusan ini dengan memberikan perbekalan, demi pelayaran mereka sampai ke tujuan. Nama Raja Isa mulai tersebar ke seantero Kerajaan Riau-Lingga, sehingga raja memberinya tugas untuk memimpin di sana.

Ketika Inggris berkuasa di Semenanjung Malaka dan Belanda sampai di Sumatera, kepada Nong Isa pulalah mereka menyerahkan kekuasaannya atas Batam. Peristiwa itu terjadi pada 11 Desember 1829, 5 tahun setelah ditandatanganinya Traktat London, perjanjian pembagian daerah kekuasaan di Semenanjung Malaka oleh Inggris dan Belanda. Hal ini terdokumentasikan dengan baik di Arsip Nasional Republik Indonesia. Tanggal pengukuhan kekuasaan Raja Isa tersebut akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kota Batam.

Seiring dengan kemerdekaan Indonesia, Batam jatuh ke tangan NKRI. Presiden Soekarno menjadikan Pulau Batam sebagai basis pertahanan KKO kala Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Presiden pertama RI berpandangan bahwa Batam memiliki posisi strategis, menghadap langsung ke Singapura dan Malaysia.

Selain itu, dari segi ekonomi, Batam terletak di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Hal ini pula yang menjadi alasan bapak proklamator memberikan arahan kepada penerusnya, Presiden Soeharto untuk memberikan perhatian khusus pada wilayah tersebut. Kemudian diikuti dengan keputusan Presiden Soeharto yang menjadikan Batam sebagai pangkalan minyak Pertamina pada tahun 1969.

Berawal dari penetapan tersebut, dimulailah fase industrialisasi Pulau Batam. Pada tahun 1975 pemerintah secara resmi mengambil alih kedudukan Pertamina sebagai penanggung jawab pembangunan Batam. Pemerintah membentuk Badan Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (BP Batam) yang masih beroperasi sampai sekarang. Status Batam kemudian berubah menjadi daerah otonomi khusus pada era reformasi, masih dengan pendampingan dari BP Batam.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali mengubah status Batam. Kali ini, pada tahun 2007, wilayah Batam menjadi kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone). Di mana kegiatan perdagangan dan ekspor impor berstandar internasional bebas dilakukan tanpa dikenakan bea cukai di sini.

Kondisi Geografis Kota Batam

Kota Batam merupakan bagian dari Kepulauan Riau, yang diresmikan menjadi provinsi ke-32 pada tahun 2004. Wilayahnya seluas 1.647 km persegi dan sebagian besar adalah lautan. Kotamadya ini mencakup 186 pulau, 106 di antaranya masih belum dihuni. Pulau terbesar adalah Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Batam sendiri yang memiliki luas 415 km persegi.

Seperti umumnya kota-kota di Indonesia, Batam beriklim tropis. Suhu rata-rata di daerah ini berkisar antara 24 sampai 34 derajat celcius dan mengalami 2 kali pergantian musim. Curah hujan rata-rata 2 mm dalam setahun.

Permukaan tanahnya bervariasi, antara datar dan berbukit-bukit. Daerah pesisir utara dan selatan ditumbuhi banyak hutan mangrove. Meski dialiri banyak sungai kecil, lahan di daerah ini kurang cocok untuk pertanian.

Kota Batam terbagi menjadi 12 kecamatan dan 74 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Batam Kota (Batam Centre). Kawasan ini dikembangkan sebagai daerah khusus industri dan pariwisata. Tentunya karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan, serta jaraknya yang dekat dengan Singapura, sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kapal feri.

Pengembangan infrastruktur pariwisata mendapat pusat perhatian dari pemerintah, seiring dengan agenda Visit Batam 2010 yang digelar untuk menarik minat wisatawan. Pilihan objek wisata cukup beragam, mulai dari wisata bahari, belanja, sejarah, religi, hiburan, hingga olahraga.

Penduduk di Pulau Batam

Pulau Batam dulunya disebut dengan nama Pulau Batang. Seperti tercantum pada peta pelayaran VOC 1675 yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, bersanding dengan Pulau Bintang (Bintan). Orang Melayu adalah yang pertama kali tinggal di pulau ini. Mereka mendirikan perkampungan di pesisir dan bermatapencaharian sebagai nelayan.

Menurut Mengungkap Fakta Pembangunan Batam Era Ibnu Sutowo-JB Sumarlin (2012), suku inilah yang dikenal dengan Tambus, Orang Selat, atau yang lebih populer disebut Orang Laut. Setidaknya mereka telah menghuni Pulau Batang sejak awal abad ke-14.  Sumber lain menyebutkan bahwa Orang Laut telah hidup di pulau yang kini merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau sekitar tahun 231 M.

Sementara itu di bagian lain pulau ini terdapat penduduk lain dari suku pedalaman, seperti Suku Mantang, Jakun, dan Benan. Disebutkan pula bahwa orang Bugis juga mendiami wilayah pesisir Pulau Batam selama ratusan tahun lamanya. Salah satunya ditelusuri dari catatan Kerajaan Temasek (Singapura), ketika Batam masih menjadi bagian  dari Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kedua suku tersebut berasimilasi dan masih ada sampai sekarang.

Ketika era industrialisasi, wilayah ini didatangi sejumlah besar pendatang. Hanya dalam waktu 40 tahun, jumlah penduduk Batam yang semula hanya sekitar 4.000 jiwa, melonjak menjadi 1 juta lebih. Menurut data BPS pada sensus 2010, Batam dihuni oleh 944 285 jiwa. 97 Persennya adalah masyarakat perkotaan, sedang sisanya tinggal di daerah pedesaan. Suku Jawa dan Melayu mendominasi dengan persentasi masing-masing 26 dan 17 persen. Suku Batak dan Minang sebanyak masing-masing 14 persen.  Sedangkan sisanya adalah warga keturunan Tionghoa, Bugis, Banjar, dan etnis lain.

Informasi Bandara di Kota Batam

Hanya ada satu pelabuhan udara di Kota Batam. Namanya diambil dari seorang tokoh pelaut heroik dari Kesultanan Malaka, Laksamana Hang Nadim. Bandara Udara Hang Nadim melayani penerbangan domestik dan internasional. Saat ini Bandara Hang Nadim telah beroperasi selama 24 jam setiap hari. Untuk mengunjungi kota Batam dari bandara ini, Anda bisa mengecek harga tiket pesawat di Airy.

Mudah saja untuk menemukan rute menuju Bandara Hang Nadim. Setiap penerbangan dengan kode BTH, pasti berasal dari bandara internasional ini. Beberapa rute paling sibuk dari dan menuju Bandara Hang Nadim, antara lain Batam-Jakarta, Batam-Surabaya, Batam-Medan, Batam-Kuala Lumpur, Batam-Penang, dan Batam-Subang. Sementara maskapai lokal yang beroperasi di bandara ini, seperti Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Batik Air, dan sejumlah maskapai internasional. Lion Air, Wings Air, dan Citilink juga menempatkan hub-nya di bandara yang berlokasi di Batu Besar, Nongsa ini.

Pelabuhan udara yang berperan sebagai pendukung penerbangan Bandara Changi, Singapura, ini memiliki landasan pacu terpanjang di Indonesia. Hang Nadim juga merupakan pelabuhan udara terbesar kedua di Sumatera, setelah Bandara Kualanamu Medan.

Satu-satunya terminal di bandara yang dikelola oleh UPT Ditjen Hubud Kelas I Utama ini mampu menampung 3,3 juta penumpang setiap tahunnya. Sejak Oktober 2016 lalu, pihak pengelola telah menetapkan perubahan pajak bandara. Yakni sebesar Rp60.000,-  per orang untuk penumpang domestik dan Rp200.000,- untuk penumpang dengan penerbangan internasional.

Banyaknya jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura melalui Batam, menyebabkan penerbangan di Bandara Hang Nadim kian ramai. Oleh karena itu, pengelola bandara berencana untuk meningkatkan kapasitas penumpang dengan membangun satu terminal lagi. Jika proyek ini rampung, Bandara Hang Nadim akan dapat menampung sekitar 8,3 juta calon penumpang.

Bandara Hang Nadim beralamat di Jalan Hang Nadim No. 1, Batam. Lokasi ini hanya berjarak sekitar 40 km atau sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota (Batam Kota/Batam Centre). Untuk menjangkaunya, ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan.

Tersedia Bus Damri jurusan Batu Ampar, Batu Aji, dan Barelang. Tiketnya Rp22.000,- untuk semua jurusan dan bisa dipesan di agen yang berada dekat bandara, tepatnya di sebelah Rumah Makan Singgalang, sekitar area lobi. Bus Damri beroperasi mulai jam 07.30 pagi dan pemberangkatan armada berlangsung setiap 30 menit.

Selain Bus Damri, transportasi umum dari dan menuju Bandara Internasional Hang Nadim dengan menggunakan taksi. Perusahaan taksi yang beroperasi di sini, antara lain Ala Taxi, Koptiba, Citra Wahara, Union Taxi, Barelang Express, Pinky Taxi, Barelang Taxi, dan Sea Port Taxi. Semuanya menggunakan tarif seseuai jarak tempuh. Tidak ada sistem tawar menawar, karena taksi di sini diwajibkan mengaktifkan argo. Untuk alternatif lain, tersedia transportasi online yang biasanya hanya melayani perjalanan menuju bandara.

Tips Bepergian ke Kota Batam

Cara termudah menuju Kota Batam adalah menggunakan pesawat terbang dan turun di Bandara Hang Nadim. Untuk tiket pesawat ke Batam, ini biasanya bisa Anda dapatkan melalui penyedia tiket pesawat online seperti Airy. MelaluiApabila memiliki jatah liburan yang panjang, transportasi laut bisa digunakan.

Ada beberapa pelabuhan yang menghubungkan Batam dengan wilayah lain di Sumatera, seperti Tanjung Pinang, Dumai, Pekanbaru, Pulau Karimun, dan daerah lainnya. Perjalanan dilakukan oleh sejumlah armada, mulai dari feri, kapal cepat Baruna, hingga kapal milik Pelni yang melayani pelayaran dari berbagai pelabuhan di Indonesia.

Berkunjung ke Kota Batam paling tepat menjelang pertengahan tahun, sekitar Mei-Juni sebelum musim liburan tiba. Pada bulan-bulan tersebut sudah memasuki musim panas dan cuaca relatif lebih bersahabat. Lagipula kondisi tempat-tempat wisata yang akan dikunjungi umumnya tidak terlalu ramai, sehingga pengunjung bisa lebih menikmati suasana.

Meskipun begitu cuaca Kota Batam cukup panas karena berada di dataran rendah. Sebaiknya wisatawan menggunakan tabir surya, terutama saat berwisata di pantai. Tujuannya demi menjaga kelembapan kulit dan mengurangi dampak negatif dari paparan sinar matahari.

Objek Wisata di Kota Batam

Kota Batam banyak dikunjungi karena menawarkan konsep liburan unik di wilayah metropolitan. Sebagian besar wilayahnya merupakan area bisnis dan industri, tetapi banyak spot menarik di setiap distrik yang patut dikunjungi.

1.                 Batam Centre

Di daerah ini misalnya. Selain kedudukannya sebagai pusat pemerintahan, Batam Centre juga menawarkan keunikan wisata tersendiri. Wilayah ini cocok dikunjungi oleh wisatawan yang suka berjalan-jalan sambil sesekali mengabadikan sudut-sudut kota.

Salah satu tempat menarik di Batam Centre adalah Maha Vihara Duta Meitreya, tempat ibadah umat Budha Maitreya yang terbesar se-Asia Tenggara. Di setiap sudutnya terdapat patung-patung Budha Maitreya yang berperawakan gemuk dan tinggi, serta selalu mengekspresikan kegembiraan. Vihara ini biasanya menggelar pentas kesenian dan acara perayaan khusus pada momen Imlek dan Cap Go Meh.

Bagi umat Islam, ada Masjid Raya Batam yang bisa dikunjungi untuk berwisata religi. Tidak ada makam ulama di sini, tetapi wisatawan akan kagum dengan arsitektur bangunan yang dirancang oleh Ir. Achmat Noe’man, si Arsitek Seribu Masjid ini. Masjid yang dibangun pada 1991 ini berbentuk balok dan beratap limas. Pada malam hari dihiasi lampu-lampu pada setiap tingkat atapnya, membuatnya makin cantik.  

Batam Centre juga memiliki objek wisata serupa Ancol di Jakarta, yaitu Ocarina. Wahana wisata untuk keluarga ini memberlakukan tiket masuk yang cukup murah, mulai Rp5.000,- saja. Terdapat sejumlah wahana bermain, yang populer di antaranya adalah Kincir Raksasa setinggi 30 meter, pasar kerajinan di Kampoeng Seni, festival pantai, taman bermain anak, serta mandi busa khusus hari Minggu.

2.                 Nagoya

Nama lain dari Lubuk Baja, yaitu kawasan bisnis utama di Kota Batam. Lokasinya di bagian utara Pulau Batam, menjadi favorit wisatawan khususnya dari Singapura. Sebagai pusat bisnis, maka tidak heran jika di daerah ini tersebar banyak pusat kebugaran dan spa. Tentunya pebisnis memerlukan sarana bersantai yang praktis dan sekaligus mengembalikan kebugaran tanpa menghabiskan banyak waktu.

Daerah ini merupakan surganya wisata belanja. Penggila barang elektronik bisa mengunjungi Nagoya IT Centre. Sementara Nagoya City Walk hadir untuk wisatawan yang ingin melepas penat dengan makan-makan dan mencari hiburan keluarga.

Lokasi wisata belanja lainnya terdapat di Batam City Square, mal paling ramai di Kota Batam. Juga mal terbesar, Nagoya Hills, di mana pengunjung bisa berbelanja banyak barang, mulai dari sandang hingga panganan khas Batam.

Selain itu, tidak ketinggalan objek wisata religi, antara lain Klenteng Tua Pek Kong, Vihara Budi Bhakti, dan Masjid Jabal Arafah. Khusus di lokasi yang disebut terakhir, wisatawan bisa menikmati pemandangan Kota Batam dari atas menara masjid.

3.                 Nongsa

Wilayah Nongsa cukup jauh dari hiruk pikuk bisnis dan industri. Karenanya, wisata alam dan budaya menjadi sajian utama di sini. Banyak resort dan pantai-pantai berjajar di garis pantai sepanjang 19 km di Nongsa. Nongsa Point Marina misalnya, di mana wisatawan bisa menyantap kuliner lezat di dermaga yang terletak di bibir pantai, menyelam di laut dangkal, atau sekadar berjemur.

Selain Nongsa Point Marina, kecamatan di bagian barat Pulau Batam ini masih menyimpan sejumlah objek wisata pantai. Di antaranya Pantai Melayu, Pantai Pulau Puteri, Pantai Sekilak, Pantai Lagorap, Teluk Mata Ikan, Tanjung Bemban, dan sejumlah pantai lain di Kampung Tua Nongsa.

Kampung Tua Nongsa sendiri adalah wilayah tertua di Pulau Batam yang pernah dihuni manusia. Setidaknya hingga kini, masih terdapat 14 perkampungan nelayan tua di Nongsa. Pemerintah Kota Batam sengaja menjadikan wilayah ini sebagai salah satu tujuan wisata budaya. Suasana dibiarkan apa adanya, tetap mempertahankan ciri tradisional nelayan Melayu yang kebanyakan masih tinggal di rumah-rumah apung. 

4.                 Objek Wisata Menarik Lainnya

Batam Centre, Nagoya, dan Nongsa boleh jadi tujuan utama, tetapi beberapa objek wisata ini juga sayang jika dilewatkan. Seperti Pantai Marina yang terletak di bagian barat Pulau Batam, hanya sejauh 30 menit berkendara dari Batam Centre. Atau landmark ikonik Jembatan Barelang, yaitu 6 buah jembatan penghubung Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru.

Bagi penyuka wisata sejarah dan misteri, wajib datang ke Pulau Galang, tempat bermukim para pengungsi Vietnam pada masa perang. Juga Marina City, sebuah kota mati yang merupakan bekas pusat perjudian yang sudah dilarang beroperasi.

Sejumlah atraksi seru bisa dinikmati di Waterpark Top 100 Batu Aji dan Queen Garden Waterboom. Jangan lewatkan juga kunjungan ke Bukit Senyum di Kecamatan Batu Ampar, Kebun Raya Batam di Sembulang, atau Jodoh Centre. Kalau bisa, agendakan waktu seminggu penuh jika ingin puas berkeliling di Kota Batam.

Budaya Daerah Batam

Meski Bahasa Indonesia digunakan dalam aktivitas sehari-hari, beberapa kelompok masyarakat masih memakai bahasa ibunya masing-masing. Di antaranya Bahasa Melayu, Bahasa Jawa, dan Bahasa Minang. Di pusat-pusat bisnis, sering terdengar penutur Bahasa Inggris dan Mandarin sebagai bahasa sehari-hari.  

Suku Jawa mendominasi penduduk Batam, tetapi budaya Melayu telah mengakar kuat di daerah ini. Hal ini tercermin pada seni musik tradisional Batam. Alat-alat musik khas Melayu, seperti akordion, gambus, biola, dan gong, umum digunakan untuk mengiringi tari-tarian.

Masyarakat Batam juga mengenal tradisi kompang, yakni musik khas Melayu. Alat musik yang digunakan berupa rebana berbingkai kayu dengan membran yang terbuat dari kulit kambing betina. Musik kompang biasanya digunakan untuk mengiringi upacara pernikahan.  

Budaya Melayu pun terasa kental pada kesenian tari khas Batam, yakni Tari Melemang dan Tari Zapin. Tari Melemang dimainkan oleh 14 orang berkostum khas Melayu. Masing-masing memerankan tokoh yang berbeda, seperti raja, permaisuri, putri kerajaan, pemusik, penyanyi dan penari biasa. Tarian rakyat yang berasal dari daerah Bintan ini bercerita tentang kehidupan seorang raja.

Tarian berikutnya adalah Zapin yang berarti derap kaki mengikuti bunyi alat musik pukul. Kesenian yang konon berasal dari Yaman ini dulunya hanya dilakukan oleh kaum pria. Tapi seiring berjalannya waktu, banyak pula perempuan yang mulai memainkannya. Dibawa oleh para utusan agama, tarian ini tidak hanya dikenal di Batam dan Riau, tetapi juga di daerah Kalimantan, Brunei, dan Semenanjung Malaka.

Hal yang Harus Dilakukan di Batam

Tidak ada yang namanya mati gaya kalau berlibur di Kota Batam. Terlalu banyak lokasi wisata, bahkan bisa membikin bingung bagaimana mengatur jadwal kunjungannya. Selain objek wisata yang telah disebutkan di atas, berikut ini beberapa aktivitas menarik sebagai referensi kala berkunjung ke Kota Batam.

1.                 Olahraga Air

Wisata pantai sudah lumrah, tetapi bagaimana jika sambil berolahraga air? Tempat-tempat wisata seperti Pulau Abang, Pulau Petong, dan Pulau Hantu menawarkan spot snorkelling yang menarik. Sementara itu dengan dana lebih, wisatawan bisa memilih resort dengan fasilitas olahraga air, seperti water ski, wakeboarding, kano, jet ski, hingga cable ski di Batam Cable Ski Park di Sekupang.

2.                 Belanja di Pasar

Pasar Aviari di Batu Aji menyediakan segala jenis barang bekas, mulai dari pakaian hingga peralatan rumah tangga. Pusat pakaian bekas lainnya bisa ditemukan di daerah Jodoh, tepatnya di Pasar Pagi Jodoh. Ada pasar kaget yang digelar tiap pagi di sana.

Bagi umat Islam, pastikan mengunjungi Diamond City Mall untuk berbelanja busana muslim pria dan wanita. Ada lagi mal khusus untuk jual beli ponsel, yakni Lucky Plaza yang berada di dekat Nagoya Hills. Mal ini tidak hanya menjual barang baru, tetapi juga ponsel bekas. Harganya pasti miring, dan beberapa pedagang juga melayani pembelian secara grosir. 

3.                 Wisata Kuliner Batam

Tidak perlu memutar otak kalau sekadar ingin mengisi perut di Kota Batam. Banyak pilihan makanan berat dan camilan yang bakal membuat ketagihan.

Batam terkenal akan cita rasa olahan mi yang khas. Ada mi tarempa yang sekilas mirip kwetiaw, dengan kuah daging ikan dan bumbu rempah yang pekat. Jika ingin mencicipi, cobalah datang ke Rumah Makan Mi Tarempa di kawasan Ruko Royal Sincom, Batam Centre. Rumah makan Mi Tarempa juga menyediakan menu camilan khas Batam lainnya, yaitu luti gendang. Jajanan ini menyerupai roti goreng, tetapi dengan isian daging ikan tuna yang dicincang halus.

Ada pula mi lendir, yaitu mi biasa dengan siraman kuah kental dan bahan pelengkap, seperti kecambah, bawang goreng, udang, hingga telur rebus. Salah satu rumah makan mi lendir yang terkenal adalah Kedai Kopi Sudi Mampir di Nagoya.

Selain mi, ada beberapa rekomendasi restoran seafood yang patut dicoba. Wisatawan wajib merasakan sup ikan Yong Kee di Batam Centre. Menyantap aneka ragam seafood di tepi pantai di Restoran Golden Prawn yang pernah dikunjungi Pak SBY. Atau mencicipi menu khas Batam lainnya, gonggong (siput laut), di Restoran Sri Rejeki, Nongsa.

Jika ingin membawa camilan khas Batam sebagai buah tangan, silakan mengunjungi Bingka Nayadam. Masih di Batam Centre, pusat oleh-oleh ini menjual berbagai camilan khas, seperti kue bingka bakar dalam berbagai varian rasa. Pilihan lain, yaitu roti lapis atau layer cake, juga bisa dijadikan oleh-oleh usai liburan di Batam. Jajanan ini cukup mudah ditemui, misalnya di booth Layers Batam di mal Nagoya Hills, Diana Layer Cakes di Batam Centre, dan masih banyak lagi. 

4.                 Menjelajah Nongsa dan Pulau Bertam

Sisi lain dari kehidupan modern di kota metropolitan Batam bisa ditemui di Pulau Bertam dan wilayah pesisir Nongsa. Di kedua lokasi ini terdapat perkampungan nelayan. Pemukiman nelayan tua di Nongsa telah ditetapkan sebagai kampung wisata budaya.  Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sini. Berjalan-jalan di hutan mangrove, bersantap ria di rumah makan, atau menikmati pemandangan pantai yang masih alami.

Penduduk asli Batam, yaitu Orang Laut, masih bisa ditemui hingga saat ini di Pulau Bertam. Jaraknya sekitar 11 km dari pelabuhan terdekat di Pulau Batam, yaitu Tanjung Uncang.

Sebagian Orang Laut kini tidak lagi bermukim nomaden di atas sampan. Beberapa di antara mereka menduduki Pulau Bertam, menghuni rumah-rumah panggung di pesisir pulau tersebut. Kini Orang Laut tidak lagi tertutup dari dunia luar, mereka sudah berkenan menerima pendatang yang berkunjung. Namun sebaiknya mengajak orang yang fasih berbahasa Melayu jika berkunjung ke sini. Kebanyakan Orang Laut masih tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.

5.                 Menikmati Hiburan Malam

Menyelinap sejenak dari penginapan untuk mencicipi suasana malam di Kota Batam sepertinya akan menjadi pengalaman seru. Kawasan Nagoya dan Waterfront City adalah gudangnya hiburan malam. Nagoya dan Waterfront City begitu populer di kalangan turis mancanegara. Tidak heran jika banyak ditemui ekspatriat mencari hiburan di dua kawasan ini.

Bahkan di Nagoya terdapat area bernama kampung bule yang merupakan lokasi nongkrong favorit wisatawan mancanegara. Banyak pub dan bar berjajar di setiap sisi jalan.  Wisatawan bisa mendengarkan sajian live music setiap malam sambil menyantap makanan ringan. Beberapa tempat yang direkomendasikan, antara lain Rio Rita, Jungle Bar, Classic, Ice Pub, Steps Music Lounge, dan Lucy’s Oarhouse.

Daerah lain di Nagoya yang menjadi pusat hiburan malam adalah NED (Nagoya Entertainment District). Di kawasan ini berdiri sejumlah hotel yang menyediakan fasilitas hiburan berupa diskotek dan klub malam, sepert Hotel Harmoni, Panorama Regency, Goodway, Planet Holiday, dan sebagainya. Sementara itu Waterfront City memiliki 2 bar yang terkenal, yaitu Danny’s II Bar dan Monkey Bar.