Tiket Pesawat ke Jakarta
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
16 Ags 2018
Tanggal Pulang
18 Ags 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Jakarta (CGK)

 

Jakarta

Tentang Kota Jakarta

Saat mendengar nama Jakarta, apa yang tebersit di benak Anda? Gedung pencakar langit, kemacetan lalu lintas, ataukah modernitas? Pastinya, Jakarta memiliki ketiga hal tersebut. Pun menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, politik, teknologi, serta informasi.

Sejarah Kota Jakarta

Sejarah Jakarta dimulai sejak tahun 397 ketika Kerajaan Sunda masih berdiri. Kala itu, ibu kotanya adalah Dayeuh Pakuan Padjadjaran yang kini menjadi Kota Bogor. Berbagai sumber menyebutkan bahwa, kerajaan tersebut memiliki pelabuhan bernama Sunda Kalapa. Tempat ini dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, terutama lada.

Pelabuhan Sunda Kalapa sangat ramai karena didatangi kapal-kapal asing. Dari mulai kapal Tiongkok, India, Jepang, hingga Negara Timur Tengah. Mereka membeli rempah-rempah dengan sistem barter menggunakan porselen, kopi, sutra, kain, minyak wangi, kuda, anggur, serta zat pewarna.

Pada tahun 1527, Kerajaan Sunda Kalapa diserang oleh Fatahillan dan pasukannya. Setelah berhasil menduduki daerah tersebut, Fatahillah mengganti namanya menjadi Jayakarta; berarti “Kota Kemenangan”. Sejak saat itu, pemerintahan Jayakarta dikendalikan oleh Maulana Hasanuddin. Ia adalah putra Sunan Gunung Jati yang menjadi Raja di Kesultanan Banten.

Memasuki tahun 1596, Belanda singgah di Banten. Tak lama kemudian, mereka mengunjungi Jakarta yang saat itu dipimpin oleh Pangeran Jayakarta. Tepat pada tahun 1916, Belanda di bawah komando Jan Pieterszoon Coen menyerang kawasan Jayakarta. Pangeran Jayakarta berhasil ditaklukan dan wilayahnya dikuasai kolonial. Nama Jayakarta pun diubah menjadi Batavia.

Belanda cukup lama berkuasa di Jayakarta. Namun, kekuasaannya hanya sampai ke kawasan Kota Tua. Ketika itu, Belanda mendatangkan banyak budak dari berbagai etnik. Dari mulai Tiongkok, Bali, India, Malabar, hingga Sulawesi. Konon, munculnya Suku Betawi dipelopori oleh kelompok tersebut.

Saat Jepang berhasil menduduki Indonesia, Belanda meninggalkan Batavia. Kota ini pun berganti nama menjadi Djakarta. Pergantian tersebut bertujuan untuk menarik simpati penduduk atas Perang Dunia II yang melibatkan Jepang.

Usai kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Djakarta dijadikan sebagai provinsi yang dipimpin gubernur. Saat itu, Soemarno Sosroatmodjo menjadi gubernur pertama di Djakarta. Nama Djakarta ini pun digunakan sampai sekarang dengan ejaan baru, yaitu Jakarta.

Lokasi dan Luas Wilayah Jakarta

Kota Jakarta terletak di bagian utara Pulau Jawa. Tepatnya di muara Ciliwung, Teluk Jakarta. Sebagian besar kontur alam kawasan ini berupa dataran rendah dengan ketinggian 8 meter di atas permukaan laut.  

Kurang lebih ada 13 sungai besar yang melintasi Kota Jakarta. Seluruhnya mengalir ke Teluk Jakarta. Salah satu sungai terbesar di Jakarta adalah Ciliwung. Perairan ini membelah Jakarta menjadi dua bagian, yaitu barat dan timur. 

Secara keseluruhan, luas daratan Kota Jakarta mencapai 661,52 km², sedangkan lautannya sekitar 6.977,5 km². Menurut survei dari Jakarta Open Data, jumlah penduduk di kawasan metropolitan ini sekitar 10,3 juta jiwa pada tahun 2016. Wilayah dengan penghuni terbanyak adalah Jakarta Timur. Jumlahnya tidak kurang dari 2,4 juta jiwa.

Zona Waktu Jakarta

Kota Jakarta terletak di zona Waktu Indonesia Barat (WIB). Berdasarkan pengaturan waktu Greenwich Mean Time (GMT), kawasan ini termasuk GMT+7. Artinya, ketika di Royal Greenwich Observatory, London, menunjukkan pukul tujuh pagi, di Jakarta justru jam dua siang.

Penduduk di Jakarta

Sebagian besar penduduk Jakarta menganut agama Islam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlahnya mencapai 83 persen dari total penduduk. Menyusul masyarakat yang beragama Kristen Protestan sekitar 8,62 persen, Katolik 4,04 persen, Hindu 1,2 persen, serta Budha 3,82 persen. Selain kelima agama tersebut, Jakarta juga dihuni penganut Kong Hu Cu dan kepercayaan.

Adapun etnik yang tinggal di kawasan Jakarta didominasi oleh Betawi, Sunda, dan Jawa. Sisanya merupakan keturunan Tionghoa, Melayu, Batak, Minangkabau, Madura, Banten, Bugis, Banjar, dan Minahasa. Selain WNI, ada pula Warga Negara Asing (WNA) yang menetap di Jakarta. Endang Sudirman, Kepala Kantor Perwakilan Imigrasi DKI Jakarta, menyatakan bahwa sepanjang tahun 2016 sekitar enam juta WNA masuk ke Jakarta. Sebagian dari mereka memiliki tujuan wisata, sedangkan lainnya ingin mencari kerja.

Mengenai mata pencaharian, sekitar 28 persen penduduk Jakarta menjadi karyawan di perusahaan swasta. Jumlah wirausaha atau wiraswasta pun tidak kalah banyaknya, mencapai 27 persen. Sementara itu, 17 persen memilih profesi sebagai PNS, TNI, serta POLRI. Adapun jumlah pelajar dan mahasiswa kurang lebih 10 persen. Sementara sisanya merupakan ibu rumah tangga.

Tentang Bandara di Jakarta

Kota Jakarta memiliki dua bandar udara internasional, yaitu Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma. Bandara Soekarno-Hatta terletak di kawasan Tangerang, Banten. Meski tempat ini memiliki three letter code CGK, secara de facto bukan bagian dari Jakarta. Namun, bisa disebut sebagai Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta di Tangerang.

Bandara Soekarno-Hatta pertama kali beroperasi pada tahun 1985. Pelabuhan udara ini melayani penerbangan domestik dan luar negeri dengan puluhan maskapai. Beberapa maskapai yang terbang dari bandara ini, antara lain Garuda Indonesia, Air Asia, Lion Air, Sriwijaya Air, Nam Air, China Airlines, dan Japan Airlines.

Sementara itu, Bandara Halim Perdanakusuma berlokasi di Jakarta Timur. Luas bandara ini kurang lebih 170 hektare. Semula, tempat tersebut hanya dijadikan markas Komando Operasi Angkatan Udara I TNI-AU. Setelah tanggal 10 Januari 2014, mulai dialihkan sebagai bandara komersil yang melayani penerbangan domestik dan internasional.

Bandara Halim Perdanakusuma hanya memiliki enam maskapai utama, yaitu Batik Air, Citilink, Wings Air, Susi Air, TransNusa Air Service, dan Pelita Air Service. Maskapai ini melayani rute ke seluruh bandara di tanah air. Khusus penerbangan ke luar negeri, semua pesawat harus transit di bandara tertentu. Semisal, keberangkatan dengan Citilink menuju Melbourne harus transit di Denpasar, Bali. Kemudian, melanjutkan perjalanan menggunakan Qantas Airlines Limited.

Kode Bandara di Jakarta

Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma Jakarta memiliki kode berdasarkan IATA (International Air Transport Association) dan ICAO (International Civil Aviation Organization). Berikut informasi kode bandara selengkapnya.

No.

Nama Bandara

Kode IATA

Kode ICAO

1.

Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta

CGK

WIII

2.

Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma

HLP

WIHH

Jarak dan Lama Perjalanan dari Pusat Kota ke Bandara

Jarak dari Bandara Soekarno-Hatta ke pusat Kota Jakarta sekitar 29 km. Jika ditempuh menggunakan naik Bus Damri, membutuhkan waktu kurang lebih 60 menit (kondisi jalan bebas macet). Namun kini, perjalanan ke sana hanya memerlukan durasi 52 menit dengan naik kereta api bandara.

Sementara itu, jarak Bandara Halim Perdanakusuma ke pusat kota kurang lebih 15 km. Lama perjalanan ke sana sekitar 35 menit dengan kondisi jalan lancar. Kalau keadaan lalu lintas sedang macet, durasinya bisa mencapai satu jam.

Jumlah Terminal di Bandara

Saat ini, Bandara Soekarno-Hatta memiliki delapan terminal, yaitu 1A, 1B, 1C, 2D, 2E, 2F, 3, dan kargo. Khusus penerbangan internasional, menggunakan terminal 2D, 2F, dan 3. Rencananya, tahun 2020 mendatang, akan ditambahkan terminal 4 yang dirancang lebih megah daripada terminal 3.

Berbeda dengan Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma Airport hanya memiliki terminal domestik. Meski belum ada rencana penambahan terminal, lalu lintas penerbangan di bandara ini cukup padat. Lebih dari 48 rute dilayani oleh maskapai yang berangkat dari airport tersebut.

Transportasi Bandara di Jakarta

Berikut ini merupakan beberapa jenis moda transportasi yang bisa digunakan dari pusat Kota Jakarta ke Bandara atau sebaliknya.

Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Pusat Kota Jakarta

Antara Bandara Halim Perdanakusuma dan Pusat Kota Jakarta

KA Bandara

Bus Damri

Transportasi online, semisal Gojek, Grab, dan Uber

Taksi

 

Bus Damri

Transportasi online, semisal Gojek, Grab, dan Uber

Taksi

KRL Commuter Line

Pajak Bandara di Jakarta

Pajak bandara merupakan sejumlah biaya yang harus dibayar oleh penumpang pesawat karena menggunakan layanan dan fasilitasnya. Sejak tanggal 1 April 2016 lalu, airport tax di beberapa bandara mengalami kenaikan. Ketetapan itu pun berlaku di Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma Jakarta. Berikut daftar tarif pajak terbaru di kedua pelabuhan udara tersebut.

Bandar Udara Soekarno-Hatta Jakarta

Bandar Udara Halim Perdanakusuma

Terminal 1 Rp50.000

Terminal 2 Rp60.000

Terminal 3 PSC Rp60.000

Terminal 3 Ultimate Rp200.000

 

Terminal domestik Rp50.000

 

Tips Bepergian ke Kota Jakarta

Berlokasi di kawasan tropis, suhu udara di Jakarta cenderung panas dan kering. Puncaknya terjadi di musim kemarau, sekitar bulan Agustus-September. Sementara itu, di musim hujan, Jakarta kerap terkena banjir. Meskipun hanya terjadi di beberapa daerah, hal itu cukup mengganggu kenyamanan. Itulah sebabnya, Anda memilih waktu yang tepat dan objek wisata terbaik jika ingin berkunjung ke Jakarta.

Saat Terbaik untuk Datang ke Kota Jakarta

Liburan akhir tahun merupakan salah satu waktu terbaik untuk berkunjung ke ibu kota Negara Indonesia ini. Pasalnya, ketika itu, Jakarta menyelenggarakan berbagai acara menarik. Semisal, Jakarta Night Festival, event rutin di malam pergantian tahun. Anda bisa menyaksikan momen tersebut di beberapa lokasi, yaitu Monas, Jalan Merdeka, dam Jalan Raya Sarinah.

Biasanya, festival ini dimeriahkan oleh artis-artis ibu kota. Tak hanya itu, Anda pun disuguhi sajian aneka kuliner dan pesta kembang api. Ada pula perayaan tahun baru di Taman Impian Jaya Ancol yang tidak kalah meriah. Jika memungkinkan, cobalah menyambangi midnight sale di pusat perbelanjaan. Tempat ini menyediakan beragam barang dengan harga murah, fesyen cuci gudang, hingga diskon 70 persen.

Bulan Juni juga menjadi waktu yang tepat untuk mengunjungi Kota Jakarta. Pasalnya, saat itu, Pemerintah DKI menyelenggarakan berbagai festival dalam rangka ulang tahun Jakarta. Salah satu festival terbesarnya adalah Pekan Raya Jakarta (PRJ). Di acara ini, pengunjung bisa menyaksikan aneka pameran, pentas musik, karnaval, hingga pesta kuliner.

Tempat Wisata di Kota Jakarta

Jakarta tidak hanya identik dengan gedung pencakar langit atau Monasnya. Kota tersebut juga memiliki sejumlah tempat wisata yang bisa dikunjungi. Berikut ini rekomendasi atraksi terbaik di Jakarta.

  • Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

TMII merupakan kawasan wisata bertema budaya yang berdiri di atas lahan seluas 150 hektare. Lokasinya berada di Jakarta Timur. Tempat rekreasi dan edukasi ini menawarkan beragam wahana, semisal Teater IMAX Keong Emas, Istana Anak-Anak Indonesia, Kereta Gantung, Teater 4D'Motion, Taman Budaya Tionghoa Indonesia, serta Snowbay Waterpark. Ada pula Taman Legenda Keong Emas dengan atraksi, antara lain pohon bicara, mata legenda,  dan bajak laut.

  • Kota Tua

Kota Tua Jakarta adalah saksi bisu tragedi di masa lampau. Luas wilayah ini mencapai 1,3 kilometer persegi; mulai dari Jakarta Utara hingga Jakarta Timur.

Selain menyuguhkan panorama bangunan tua, kawasan tersebut juga menawarkan aneka kuliner khas Betawi. Beberapa sajian yang tidak boleh terlewatkan, antara lain soto Betawi, kerak telur, gado-gado, dan es selendang mayang.

  • Museum Fatahillah

Bangunan museum ini didirikan pada tahun 1626 oleh Pieterszoon Coen. Ketika itu, gedung tersebut digunakan sebagai pusat pemerintahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya tahun 1939, Yayasan Oud Batavia meresmikannya menjadi Museum Djakarta Lama.

Beberapa koleksi yang terdapat di Museum Fatahillah, antara lain sejarah Jakarta, replika benda peninggalan Kerajaan Tarumanegara, serta galian arkeologi. Ada pula barang antik dengan corak khas Eropa, Tiongkok, dan Indonesia. Anda juga bisa melihat koleksi budaya Betawi, patung Dewa Hermes, dan bekas penjara bawah tanah.

 

  • Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Taman Wisata Alam Angke Kapuk terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Tempat ini menyuguhkan keindahan hutan mangrove yang dikelilingi perairan jernih. Area taman terbentang di atas papan berbahan kayu dan bambu. Sementara kawasan hutannya bisa dikunjungi dengan naik perahu.

Budaya Kota Jakarta

Di balik modernitas Jakarta, ternyata kota ini kaya akan budaya. Kebudayaan Jakarta disebut mestizo karena tersusun dari budaya beragam etnik. Dari mulai Sunda, Jawa, Bugis, Minang, Batak, Cina, Arab, India, dan Portugis. Berikut ini beberapa budaya yang ada di Jakarta.

Bahasa Daerah

Keragaman etnik di Jakarta juga memengaruhi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia formal, rata-rata penduduknya memakai bahasa Indonesia. Namun, masyarakat di Kampung Jatinegara Kaum berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Sunda. Begitu pun orang Betawi di beberapa kawasan kerap menerapkan bahasa Melayu dialek Betawi.

Bahasa lainnya yang sering terdengar, yaitu Jawa, Minang, Batak, Bugis, Inggris, Mandarin, dan Madura. Biasanya, hanya dipakai oleh penduduk di kawasan tertentu atau ketika bertemu dengan sesama etnik. Sementara anak-anak muda di Jakarta lebih sering menggunakan bahasa gaul; campuran bahasa Betawi dan Indonesia.

Musik Tradisional

Berbicara soal musik tradisional di Jakarta, tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai kota yang mempertemukan beragam suku bangsa. Semisal, Betawi; hasil perkawinan antara Bangsa Eropa atau Tionghoa dengan suku asli Indonesia.

Karena itu, tidak mengherankan, muncul berbagai macam alat musik tradisional di Jakarta. Salah satunya adalah gambang keromong. Instrumen ini merupakan bukti perpaduan etnik dari dua bangsa, yaitu Tionghoa dan Indonesia. Adapun alat yang dimainkan, yaitu tehyan, kongahyan, sukong, gambang, keromong, gendang, kecrek, gong.

Selain gambang keromong, ada juga tanjidor yang menampilkan musik orkes khas Betawi. Dalam pertunjukan tersebut menyuguhkan beberapa alat musik tradisional, antara lain baritone, tuba, simbal, dan casaba. Pertunjukan musik lainnya meliputi, marawis, keroncong tugu, dan gambus.

Tarian Daerah

Meski Jakarta didominasi budaya modern, tari daerah masih dilestarikan. Salah satunya adalah tarian dari etnik Betawi yang kerap ditampilkan di berbagai acara. Semisal, dalam penyambutan tamu kenegaraan, festival, karnaval budaya, serta Pekan Raya Jakarta. Beberapa contoh tariannya, antara lain Lenggang Nyai, Cokek, dan Zapin.

Tari Lenggang Nyai merupakan tarian yang menggabungkan budaya Cina dan Betawi. Pertunjukan ini mengisahkan tentang kehidupan asmara Nyai Dasimah. Diceritakan, ia bimbang memilih calon suaminya; keturunan Belanda atau orang Indonesia. Pada akhirnya, Nyai Dasimah melabuhkan hati pada pria Belanda. Namun, pernikahan itu diselimuti kemelut karena pemberontakan Nyai Dasimah terhadap suaminya.

Tarian yang tidak kalah menarik adalah tari Cokek. Seluruh penari menggunakan kostum perpaduan Betawi dan Cina. Jika seorang penari membelitkan selendang kepada penonton, ia tak boleh menolaknya.

Sementara itu, tari Zapin menjadi bukti akulturasi budaya Betawi dan Arab. Tarian ini diiringi musik gambus. Penarinya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Ketika menari, mereka harus memperagakan berbagai gerakan dan melantunkan nyanyian berbahasa Arab.

Hal yang Harus Dilakukan di Jakarta

Kota Jakarta kerap menyita perhatian banyak orang, baik dari sisi kehidupannya, maupun keragaman atraksi di sana. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan ketika berkunjung ke Jakarta.

Berkunjung ke Taman Impian Jaya Ancol

Taman Impian Jaya Ancol terletak di kawasan pantai utara Jakarta. Tempat wisata ini merupakan destinasi wajib saat wisatawan berkunjung ke ibu kota. Pasalnya, di sini terdapat wahana rekreasi yang lengkap, menarik, dan mendidik.

Dunia Fantasi (Dufan) adalah wahana Ancol yang paling banyak pengunjungnya. Tempat ini menjadi theme park terbesar di Indonesia. Dengan mengandalkan teknologi canggih, Dufan menghadirkan zona permainan keliling dunia. Content wahananya meliputi 8 kawasan, yaitu Balada Kera, Hikayat, Indonesia, Eropa, Asia, Jakarta, Amerika, dan Yunani.

Tahun 2017 lalu, Dufan mempersembahkan tema wahana baru; Dream Playground, Colour of Kingdom, Time Adventure, dan Galactica. Khusus Dream Playground, dibangun di atas lahan seluas 900 meter persegi. Tempat ini dilengkapi beragam fasilitas, antara lain trampoline, soft play toys, wall climbing, futsal, play panel, dan sand pool.

Selain Dufan, ada wahana lain yang tidak kalah menarik, antara lain Atlantis Water Adventure, Gelanggang Samudera, Sea World,  Putri Duyung Cottages, pantai, dan padang golf. Di sekitar Ancol juga terdapat wisata kuliner dengan menu seafood.

Bermain di Pantai Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu memiliki banyak pantai eksotis yang harus Anda kunjungi. Secara administrasi, daerah ini adalah salah satu kabupaten di DKI Jakarta. Karena keindahan dan keunikan alamnya, gugusan pulau tersebut dijadikan kawasan wisata dan konservasi.

Salah satu pantai terindah di Kepulauan Seribu terletak di Pulau Bidadari. Pantai tersebut mempunyai pasir putih, ombak kecil, serta dikelilingi pepohonan rindang. Pengunjung bisa melakukan berbagai aktivitas di tempat ini. Dari mulai bersantai di tepi laut, snorkeling, diving, atau mengitari pulau dengan naik kano.

Selain pantai, Pulau Bidadari juga menghadirkan Benteng Martello. Bangunan kuno ini didirikan pada abad ke-17 sebagai benteng pertahanan Belanda. Arsitektur aslinya yang terbuat dari batu bata merah masih dipertahankan. Karena memiliki eksterior lingkaran, benteng tersebut tampak unik.

Untuk keperluan menginap, di Pulau Bidadari tersedia cottage berbahan kayu. Akomodasi tersebut dibangun dengan desain standar hingga eksklusif. Semuanya menghadap ke pantai sehingga terasa segar dan menenangkan.

Mencicipi Kuliner Jalan Sabang

Jalan Sabang di Jakarta Pusat merupakan salah satu sentra kuliner yang menawarkan hidangan tradisional hingga mancanegara. Kawasan ini dikenal sebagai pusat makanan dan minuman murah. Namun soal rasa, jangan ditanya; banyak yang ketagihan untuk kembali mencicipi santapan di tempat tersebut.

Kalau penasaran dengan kuliner khas Betawi, Anda bisa mengunjungi Rumate di Jalan Sabang. Restoran milik mendiang Bondan Winarno ini ahlinya masakan Indonesia, termasuk nasi ulam Betawi dan lumpia Jakarta. Selain itu, juga tersedia minuman es dawet Cikini, teh chai India, serta wedang uwuh imogiri.

Bagi penggemar kopi, bisa mampir ke Kopi Oey yang juga didirikan oleh mendiang Bondan Winarno. Kopi dihidangkan menggunakan gelas dengan coffe drip di atasnya. Anda dapat memilih single origin atau coffe blends. Pastinya, kopi ini terasa nikmat dan menyegarkan kala diminum dalam keadaan hangat.

Naik Kendaraan Umum KRL dan TransJakarta

Menjadi ibu kota Indonesia, Jakarta dibekali sarana transportasi komplet dan mutakhir. Saat berkunjung ke kota ini, jangan lupa menjajal naik KRL atau Transjakarta. Keduanya merupakan moda utama yang kerap digunakan warga Jakarta.

KRL Commuter Line sudah ada sejak tahun 1925. Pada masa kolonial, KRL yang digunakan berasal dari Swiss, Jerman, Belanda, dan Westinghouse. Namun, KRL tersebut sempat disetop penggunannya setelah kemerdekaan Indonesia. Kemudian, tahun 1972, KRL kembali dioperasikan dengan regenerasi kereta dari Jepang. Sampai sekarang, KRL Commuter Line menjadi moda transportasi andalan untuk menghindari kemacetan lalu lintas.

Selain KRL, naik Transjakarta juga tidak kalah asyik. Kendaraan ini menawarkan perjalanan nyaman dengan tarif terjangkau. Pun memiliki jalur khusus sehingga bebas dari kemacetan. Ada 242 Stasiun BRT yang disinggahi bus tersebut. Stasiun itu tersebar dalam 13 koridor. Sebagian koridor kerap beroperasi selama 24 jam.

Mempelajari Budaya di Bentara Budaya Jakarta

Mengunjungi Jakarta kurang sempurna rasanya jika belum mempelajari keunikan budayanya. Salah satu tempat yang bisa Anda sambangi adalah Bentara Budaya Jakarta. Lokasinya berada di Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat. Desain bangunan Bentara Budaya merupakan karya besar Romo Mangunwijaya, arsitek ternama di era 80-an.

Lantas, apa saja yang bisa dipelajari di Bentara Budaya Jakarta? Dalam gedung ini, terdapat 625 keramik dari dinasti asal Tiongkok, antara lain Ching, Yuan, Sung, dan Ming. Pun ada keramik asli Singkawang, Bali, serta Cirebon. Anda bisa mempelajari keunikan dan kekhasan karya seninya.

Koleksi lukisan juga bisa menjadi objek edukasi yang tepat bagi pengunjung. Pasalnya, di sini terdapat lebih dari 500 lukisan karya pelukis terkenal. Mulai dari Affandi dengan aliran abstraknya, Basoeki Abdullah yang memiliki sumbu realis dan naturalis, hingga pelukis asal Bali; I Gusti Nyoman Lempad. Tidak ketinggalan, seni lukis karya seniman muda juga dipamerkan di sana. Semisal, Eddie Hara Wayan yang tersohor karena melukis tentang manusia, hewan, serta metamorfosis alam semesta.

Tidak hanya itu, Anda juga dapat mempelajari wayang golek karya Asep Sunarya. Kurang lebih ada 120 wayang yang ditampilkan di Bentara Budaya. Sebagai penutup kunjungan, Anda bisa menyaksikan koleksi rumah tradisional khas Kudus. Rumah tersebut dihadirkan langsung dari kawasan Kauman dekat Menara Kudus.

Mempelajari Bahasa Daerah Betawi

Hal lain yang bisa dilakukan di Jakarta adalah mempelajari bahasa daerah Betawi. Orang menyebutnya Melayu dialek Jakarta. Logat tersebut berasal dari bahasa Melayu dengan kombinasi kosa kata Sunda, Bali, Cina, Arab, Belanda, dan Eropa. Meski tidak memiliki struktur baku, bahasa Betawi bisa dicirikan dari pengucapan bunyi huruf akhirnya.

Demikian ulasan tentang Kota Jakarta. Semoga artikel ini bisa dijadikan sumber informasi bagi Anda yang ingin berkunjung ke sana.