Daftar
Daftarkan dirimu sebagai Airy Traveler

DAFTAR
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Sudah punya akun Airy? MASUK
|
Masuk
Masuk sebagai Airy Traveler


MASUK
LUPA PASSWORD?
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Belum punya akun Airy? DAFTAR
Tiket Pesawat ke Jayapura
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
17 Des 2018
Tanggal Pulang
19 Des 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Jayapura (DJJ)

 

Jayapura

Tentang Kota Jayapura

Tertarik menyambangi wilayah timur Indonesia? Berkunjung ke Jayapura merupakan pilihan tepat untuk memulai petualangan Anda. Kota ini menghadirkan nuansa berbeda dari kota-kota lain yang mungkin pernah Anda datangi. Letaknya yang berada di Teluk Jayapura memberikan pemandangan kota indah yang memanjakan mata. Jayapura juga merupakan ibukota yang berada di ujung paling Timur Indonesia.

Sejarah Singkat Jayapura

Dilansir dari Wikipedia, nama ibu kota yang terletak paling timur Indonesia ini berarti ‘Kota Kemenangan.’ Nama ini disematkan oleh Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto, pasca keberhasilan Indonesia merebut kembali Tanah Papua dari tangan Belanda lewat operasi Trikora tahun 1962.

Namun, sejarah panjang Jayapura justru sudah berlangsung jauh sebelum masa penjajahan Belanda. Letak strategis menjadikan kota ini sering disambangi para penjelajah. Sebut saja Ynico Ortis De Fretes dari Spanyol yang berlayar dari Tidore ke Meksiko dengan kapal San Juan. Rombongannya singgah di muara Sungai Mamberamo pada 16 Juni 1545. Ia pun menamai wilayah itu sebagai ‘Nova Guinea.’

Pada tahun-tahun berikutnya, para penjelajah datang silih berganti ke sini, seperti Alvaro de Mendana de Neira asal Spanyol pada tahun 1567. Sementara Pemerintah Kolonial Belanda memperbantukan satu detasemen tentara di bawah pimpinan Kapten Infanteri F.J.P Sachse. Rombongan ini berlabuh pada 28 September 1909. Setelah proses penebangan pohon untuk mendirikan pemukiman di wilayah itu, Hollandia pun berdiri pada 7 Maret 1910.

Penghuni pertama Hollandia tentu saja detasemen tentara yang dibawa oleh Sachse. Mereka terdiri dari 4 orang perwira, 80 orang anggota tentara, 60 pemikul, istri para tentara, dan beberapa orang yang membantu mereka. Kelompok ini berjumlah 290 orang dan menetap di pemukiman baru tersebut. 

Hollandia rupanya diambil lantaran kondisi geografis kota yang menyerupai negeri Belanda. Kata ‘hol’ berarti lengkung atau teluk, sedangkan ‘land’ artinya tanah. Hollandia berarti tanah yang berteluk atau melengkung. Nama Hollandia dipakai hingga tahun 1962, sebelum berganti menjadi Kota Baru dan Sukarnopura pada tahun 1964. Baru tahun 1968 resmi menyandang nama Jayapura.

Kondisi Geografis Kota Jayapura

Kota Jayapura menjadi kotamadya berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1993. Peraturan tersebut menetapkan pemekaran wilayah Kabupaten Jayapura, yakni Kabupaten Jayapura sebagai kabupaten induk dan Kotamadya Jayapura. Ibu kota kabupaten berpindah ke Sentani sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2000. Kota ini memiliki luas 940.000 Ha dengan lima distrik yang terbagi dalam 25 kelurahan dan 14 kampung. Kelima distrik tersebut adalah Abepura, Heram, Jayapura Utara, Jayapura Selatan, dan Muara Tami.

Dengan topografi daerah yang beragam, memberikan kemolekan pada wajah kota pesisir utara Pulau Papua ini. Di sini Anda bisa menemukan dataran yang landai hingga perbukitan dengan tinggi mencapai 700 meter di atas permukaan laut. Sebanyak 30% kawasan termasuk dalam kategori tidak layak huni karena berupa hutan lindung yang diisi dengan perbukitan curam dan rawa-rawa.

Kondisi Iklim di Jayapura

Karena terletak di pesisir, Jayapura memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi, rata-rata 79% - 81% dengan suhu sekitar 29 – 31°C. Curah hujan di kota ini bervariasi antara 45 – 255 mm/tahun dengan jumlah hari yang mengalami hujan di kisaran 148 – 175 hari/tahun.

Zona Waktu Jaypura

Dalam pembagian zona waktu, Jayapura termasuk zonasi GMT+9.  Maka kota ini termasuk dalam wilayah Waktu Indonesia Timur (WIT). Terdapat perbedaan waktu 2 jam dari wilayah di Indonesia bagian Barat seperti Jakarta (GMT+7).  Di sini durasi waktu malam dan siang hampir sama.

Penduduk di Jayapura

Berdasarkan data tahun 2015, populasi penduduk Jayapura mencapai 613.227 jiwa. Mayoritas penduduk menganut Kristen Protestan (46,23%). Berturut-turut berikutnya Islam (41,43%), Katolik (11,72%), Buddha (0,30%), dan Hindu (0,32%).

Bandara di Jayapura

Kota Jayapura memiliki sebuah bandar udara berskala internasional yaitu Bandar Udara Internasional Sentani (SNIA) melayani penerbangan dari dan menuju Jayapura. Nama tersebut berasal dari danau yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Secara geografis, bandara ini memang terletak di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura. Dengan jarak sekitar 25 km dari pusat kota Jayapura, bandara ini merupakan bandara terbesar di Papua. Jadi apabila Anda telah membeli tiket pesawat ke Jayapura, maka dipastikan Anda akan tiba di bandara yang satu ini.

Bandar Udara Internasional Sentani merupakan gerbang utama bagi Anda yang ingin pergi menjelajahi Bumi Papua. Kode bandara versi IATA adalah DJJ, sedangkan versi ICAO adalah WAJJ. Saat ini bandara melayani berbagai rute ke pedalaman Papua, seluruh Indonesia, dan juga penerbangan internasional ke Papua Nugini. Beberapa rute yang dilayani oleh bandara ini adalah rute penerbangan Aceh-Jayapura, Batam Jayapura, Jakarta-Jayapura, Surabaya-Jayapura, Makassar-Jayapura, Kupang-Jayapura, Bali-Jayapura, Lombok-Jayapura.

Sejarah Bandar Udara Internasional Sentani (SNIA)

Sejalan dengan sejarah Kota Jayapura, dahulu bandara ini merupakan bagian dari fasilitas Amerika Serikat yang direbut dari tangan Jepang selama masa Perang Dunia II. Satuan tugas dengan kode Operation Reckless berhasil menduduki pangkalan udara ini pada 22 April 1944 setelah dimiliki Jepang dalam kurun waktu 1942 – 1944.

Pangkalan udara ini menjadi pusat kendali dengan beragam unit pesawat tempur yang beroperasi di kawasan tersebut. Di bawah pengelolaan Amerika Serikat, ada tiga lapangan udara militer dalam wilayah itu, yakni Hollandia, Sentani, dan Cyclops. Sayangnya, setelah masa perang berakhir, lokasi ini pun terabaikan hingga tahun 2010. Lapangan udara yang dipakai saat ini merupakan bagian dari kompleks pangkalan udara militer tersebut dan kini masih terus dikembangkan untuk menyambut PON 2020. 

Saat ini Bandar Udara International Sentani (SNIA) justru lebih banyak melayani penerbangan komersil dari berbagai maskapai penerbangan di Indonesia, di antaranya : Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, Nam Air, Lion Air, Batik Air dan penerbangan perintis seperti Xpress Air, Trigana Air, TransNusa.

Terminal Bandar Udara Internasional Sentani

Terdapat tiga terminal di bandara ini, yaitu terminal domestik, terminal internasional, dan terminal kargo. Landasan pacu bandara memiliki panjang 3000 x 45 meter, dengan waktu operasi dari pukul 06.00 – 17.00. Per hari bandara ini mengelola hilir mudik 4.000 orang penumpang. Beberapa rute penerbangan langsung menuju dan dari bandara ini antara lain Jakarta, Padang, Palembang, Surabaya, Semarang, Pontianak, Makassar, Manado, Sorong, Ambon, Manokwari, Timika, Wamena, Merauke, hingga daerah pedalaman Papua.

Saat ini hampir semua maskapai sudah memasukkan pajak bandara sebagai salah satu komponen tiket. Maka, Anda tidak perlu lagi membayar passenger service charge atau pajak bandara secara tunai. Di Bandara Sentani, besaran pajak bandara adalah Rp30.000.

Dengan jarak ±25 km[i] dari pusat kota Jayapura, membuat waktu tempuh dari dan menuju bandara sekitar 40 menit. Anda bisa memanfaatkan transportasi publik seperti Bus DAMRI dengan merogoh kocek sebesar Rp50.000. Selain itu, terdapat pula angkutan taksi resmi bandara, yakni Koangdara, Mutiara Dafon, KPN Pelut, dan Embun Cyclop. Biaya yang harus dibayarkan jelas lebih besar. Untuk rute tunggal ke pusat kota, Anda harus mengeluarkan Rp350.000 – Rp450.000.

Tips Bepergian ke Jayapura

Sama halnya dengan suhu udara lainnya di daerah lain di Indonesia, suhu udara Jayapura tergolong cukup panas dengan kelembapan cukup tinggi. Peluang untuk hujan sangat mungkin terjadi sepanjang tahun. Namun, bulan-bulan terpanas ada di sekitar bulan November dan Desember. Jika Anda sudah terbiasa dengan iklim tropis Indonesia, tentu panas hujan bukanlah isu besar yang bisa menunda kunjungan Anda ke Jayapura.

Sementara untuk bulan tersibuk dan teramai kunjungan wisatawan di Jayapura adalah Juli, diikuti bulan Desember dan Maret. Biasanya, harga tiket pesawat dan hotel tergolong tinggi. Apabila Anda hendak berkunjung ke Jayapura pada bulan tersebut, ada baiknya membeli tiket dan memesan penginapan lebih awal. Sedangkan untuk memperoleh harga tiket pesawat dan hotel termurah, Anda bisa datang ke Jayapura pada bulan Oktober. Bulan tersebut relatif sepi dari kunjungan wisatawan. 

Festival Danau Sentani

Terlepas dari kondisi cuaca dan bulan sibuk pariwisata kota ini, waktu terbaik datang ke Jayapura adalah sekitar bulan Juni. Pada bulan ini diselenggarakan Festival Danau Sentani (FDS). Berupa rangkaian karnaval yang mengusung budaya Papua, pameran hasil kerajinan Papua, dan tur ke destinasi wisata di sekitar Jayapura, festival ini merupakan agenda tahunan yang wajib dikunjungi.

Pagelaran FDS pertama kali dilakukan pada tahun 2007 untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten Jayapura, baik domestik maupun mancanegara. FDS berlangsung lima hari berturutan dengan menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya yang memikat. Apalagi, lokasi FDS tepat di Pantai Kalkote yang berada di kawasan Danau Sentani. Sudah tentu Anda bisa menikmati indahnya alam Danau Sentani berpadu dengan atraksi budaya setempat.

FDS jelas menempatkan Danau Sentani sebagai destinasi wisata utama di Jayapura. Pemandangan elok hamparan air membiru tak akan bisa Anda lewatkan, bahkan Anda sudah bisa menikmatinya dari balik kaca jendela pesawat. Selain menghadiri FDS, beberapa aktivitas lain yang bisa dilakukan di kawasan Danau Sentani adalah sebagai berikut.

  1. Berenang
  2. Berwisata kuliner dengan mencicipi papeda, buah matoa, hingga belajar bagaimana memproduksi sagu di Desa Abar
  3. Berkunjung ke Tugu McArthur
  4. Mengintip tifa keramat di Desa Yobeh
  5. Mengepang rambut sesuai tradisi gadis Papua

Pantai di Jayapura

Dengan letak yang berada di pesisir utara Pulau Papua, menjadikan kota ini memiliki beragam pilihan wisata pantai yang pasti membuat siapa pun terpesona. Anda bisa menemukan hamparan pasir putih yang berpadu dengan deburan ombak dan bentangan laut biru nan memikat. Beberapa pantai yang populer antara lain Pantai Base-G, Pantai Holtekamp, Pantai Dok-2, Pantai Pasir Dua, Pantai Pasir 6, Pantai Harlem, Pantai Hamadi, dan Pantai Yakoba.

Wisata Alam Lain di Jayapura

Kontur perbukitan memberikan variasi tempat wisata lain untuk para pelancong. Beberapa destinasi wisata alam favorit wisatawan saat ke Jayapura adalah Kali Biru Genyem, Danau Imfote, Bukit Teletubbies di Sentani, Bukit Salib Doyo Lama di Waibu, Gunung Ifar, dan Bukit Pemancar Polimak.

Wisata Budaya di Jayapura

Tertarik mengenal lebih jauh budaya masyarakat Papua? Di Jayapura Anda bisa mengunjungi Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih. Di sini terdapat berbagai koleksi seputar kebudayaan Papua yang bernilai tinggi. Sementara jika Anda ingin membeli hasil kerajinan khas Papua, berkunjunglah ke Pasar Hamadi. Mulai dari koteka, tifa, batik Papua, hingga ukiran-ukiran unik bisa Anda temukan di sini.

Bahasa Daerah

Seperti dikenal luas, ada banyak sekali etnis di Papua. Di Jayapura, komposisi penduduknya terdiri dari penduduk lokal dan pendatang. Semakin derasnya arus budaya dari luar membuat budaya lokal pun perlahan memudar. Apalagi, soal penggunaan bahasa daerah. Saat ini tinggal bahasa Moso yang masih sering digunakan oleh penduduk Jayapura. Bahasa Moso banyak dituturkan oleh penduduk yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia – Papua Nugini.

Selain bahasa Moso, beberapa bahasa daerah yang sering dipakai penduduk Jayapura adalah bahasa Nafri, bahasa Skouw, bahasa Sentani, bahasa Tobati-Enggros, dan bahasa Kayu Pulo. Bahasa Kayu Pulo dinyatakan sudah terancam punah karena jumlah penutur yang semakin sedikit dalam kehidupan sehari-hari.

Musik Tradisional

Anda bisa menemukan irama khas musik tradisional Papua lewat beragam alat musik yang sering dimainkan masyarakat setempat. Beberapa jenis alat musik tersebut adalah:

·                    Tifa

Bentuknya mirip tabung dengan bagian menyempit di tengahnya, ini merupakan alat musik Papua yang paling tersohor. Terbuat dari kayu bulat, rotan, dan kulit rusa kering, cara memainkannya adalah dengan ditabuh dan menghasilkan irama yang rancak.

·                    Yi

Alat ini digunakan sebagai alat memanggil penduduk agar berkumpul di suatu tempat. Ketua adat memainkan Yi sebelum mengumumkan sesuatu atau menyelenggarakan acara adat. Terbuat dari kayu gelondongan yang berongga di bagian dalam, Yi dipukul dengan keras untuk menimbulkan bunyi.

·                    Fuu

Ini merupakan alat musik tiup dari suku Asmat. Sama seperti Yi, fungsinya untuk memanggil penduduk berkumpul dan juga menjadi pengiring tarian. Fuu dibuat dari bambu yang ujungnya dilubangi sedemikian rupa.

·                    Amyen

Masih berupa alat musik tiup, Amyen merupakan trompet yang dibuat dari kayu oleh suku Web. Suku ini tinggal di Kabupaten Keerom. Alat ini sering dipakai sebagai penanda peringatan tanda bahaya saat perang suku terjadi. Selain itu, Amyen juga digunakan sebagai pengiring tarian.

·                    Butshake

Sejatinya, alat ini berupa susunan biji kenari atau buah lain dalam satu bilah bambu melengkung. Bebijian ini akan bergemericik ketika diayunkan. Berasal dari suku Muyu di Kabupaten Merauke, Butshake biasa dipakai pula untuk mengiringi tarian adat.

Tari Daerah Jayapura

Bagi masyarakat Papua, tarian adalah bagian tidak terpisahkan dari siklus hidup mereka. Setiap upacara adat selalu dimeriahkan dengan berbagai tarian yang unik. Pada dasarnya, gerakan tarian Papua cukup sederhana. Mereka menciptakannya dengan meniru apa yang dilihat di alam dan lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, meniru gerak-gerik kus kus, burung cenderawasih, atau burung kasuari. Beberapa upacara adat yang sering menampilkan tarian antara lain pernikahan, kematian, pengobatan, tolak bala, upacara bakar batu (pulang perang), dan penyambutan tamu.

·                    Tari Sajojo

Tarian ini sudah lama populer di kalangan masyarakat Papua, juga hingga tingkat nasional. Mirip dengan poco-poco, tari Sajojo merupakan tari pergaulan. Disebut Sajojo karena lagu pengiringnya berjudul sama dan terus diulang-ulang untuk mengikuti gerakan penari. Tarian ini mewakili karakter masyarakat Papua yang senang sekali berkumpul dan bergaul. Tidak ada batasan usia dan jumlah penari. Malah, tarian ini bisa ditarikan secara massal.

·                    Tari Yospan

Mirip dengan Tari Sajojo, tarian ini juga menjadi simbol pergaulan penduduk Papua. Gerakan yang energik membuat tarian ini mengundang semangat dari yang menontonnya, seperti gerakan melompat atau memutar. Biasa ditampilkan saat acara besar, misalnya penyambutan tamu, upacara adat, dan acara seni lainnya. Kata Yospan rupanya kombinasi dari Tari Yosim dan Tari Pancar. Karena merupakan tari pergaulan, Tari Yospan bisa ditarikan beramai-ramai alias secara massal, sehingga jumlah penarinya tidak dibatasi.

·                    Tari Selamat Datang

Kunjungan tamu kehormatan di Tanah Papua harus disambut dengan Tari Selamat Datang. Baik laki-laki maupun perempuan bisa menarikan tarian kebanggaan masyarakat Papua ini. Pakaian adat tradisional Papua melengkapi para penarinya, termasuk atribut khas seperti senjata dan topi berbulu yang menyerupai ekor burung cenderawasih. Tabuhan tifa mengiringi gerakan energik dari tarian ini.

·                    Tari Perang

Perang antarsuku mengilhami lahirnya Tari Perang. Tarian ini diciptakan untuk memberi semangat pada para pasukan yang hendak berperang. Meski kini peperangan tidak lagi terjadi, tarian ini tetap ditampilkan sebagai upaya menghargai jasa nenek moyang penduduk setempat yang telah melindungi wilayah tersebut. Tarian ini menonjolkan keperkasaan penari laki-laki yang mengenakan pakaian adat lengkap dengan senjata. Biasa ditarikan tujuh orang atau lebih dengan iringan tifa, gendang, dan kerang.

Hal yang Harus Dilakukan di Jayapura

Jayapura jelas memiliki eksotisme tersendiri yang berbeda dengan destinasi wisata Indonesia lainnya. Ini menjadi bukti bahwa negeri ini begitu kaya dengan beragam keindahan alam yang berpadu dengan keelokan budaya, sehingga memikat siapa saja yang berkunjung. Bagi Anda yang sedang merencanakan perjalanan liburan berikut ke Jayapura, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu di Jayapura.

Menjelajahi Kemolekan Danau Sentani

Pesan penting dari mereka yang sudah pernah menjejakkan kaki di Jayapura: buka mata lebar-lebar ketika pesawat hendak mendarat! Mengapa demikian? Sebab Anda bisa menyesapi kemolekan Danau Sentani dari ketinggian. Panorama spektakuler ini tentu menjadikan Danau Sentani sebagai  salah satu tujuan wisata favorit di Jayapura. Itulah mengapa Festival Danau Sentani sengaja digelar di sini karena danau alam ini merupakan magnet utama bagi pariwisata Jayapura. Ini dia tiga keunikan Danau Sentani yang wajib Anda ketahui.

  • Jumlah Pulau

Meski mirip ‘kolam’ raksasa, danau ini ternyata memiliki 22 pulau kecil di sekitar area danau. Beberapa pulau di antaranya menjadi tujuan wisata favorit dan sudah dilengkapi dengan fasilitas wisatawan yang cukup memadai. Misalnya, di Pulau Asei terdapat penginapan yang bisa disinggahi. Selain itu, pulau ini juga terkenal dengan hasil kerajinan lukisan kulit yang dibuat oleh penduduk Asei.  

  • Habitat Ikan Air Tawar

Danau yang memiliki luas 9.360 hektare dan berlokasi di ketinggian 75 meter di atas permukaan laut ini menjadi rumah bagi beragam spesies ikan air tawar. Terdapat sekitar 30 spesies ikan air tawar, dengan empat dari spesies tersebut merupakan endemis alias hanya hidup di Danau Sentani. Empat spesies tersebut adalah ikan pelangi Sentani, ikan gabus Sentani, hiu gergaji, dan ikan pelangi merah.

  • Perbukitan Hijau Nan Asri

Keunikan Danau Sentani adalah perbukitan hijau bergelombang yang mengelilingi tepi danau. Sekilas perbukitan ini menyerupai Bukit Teletubbies yang ada di serial anak televisi Teletubbies. Merupakan ciri khas danau ini, Anda bisa menikmati perbukitan hijau nan asri ini dari atas pesawat maupun naik ke kawasan Tugu McArthur yang terletak di Kompleks Rindam Jaya Kodam VIII Trikora, Pegunungan Cyclop.

Bermain di Pantai

Mengunjungi pantai di sekitar Jayapura tentu menjadi agenda wajib yang tidak boleh dilewatkan. Pada bagian atas sudah disebutkan beberapa pantai yang harus didatangi. Nah, berikut ini akan dijelaskan mengapa pantai tersebut layak Anda masukkan dalam to do list activities di Jayapura.

  • Pantai Holtekamp

Terletak di Distrik Abepura dan Muara Tami, pantai ini masih tampak alami. Anda akan melewatinya jika melakukan perjalanan ke perbatasan Indonesia – Papua Nugini.

  • Pantai Base-G

Terletak di Distrik Jayapura Utara, pantai berpasir putih ini cukup dekat dari pusat kota. Cocok untuk disinggahi jika Anda hanya singgah sejenak di Jayapura.

  • Pantai Harlem

Distrik Depapre memiliki Pantai Harlem yang relatif belum terjamah wisatawan. Berada di kawasan teluk, pantai ini cocok untuk snorkeling. Anda harus menggunakan boat untuk menuju pantai ini karena tidak ada jalur darat yang tersedia.

Mencicipi Kelezatan Papeda

Papeda berupa bubur sagu yang biasa dimakan oleh penduduk Maluku dan Papua. Bertekstur lengket seperti lem dan berwarna putih, rasa asli papeda sebetulnya tawar. Oleh karena itu, biasanya papeda dihidangkan sebagai ‘teman makan’ berbagai lauk khas Papua.

Bubur sagu ini biasanya disantap dengan ikan kuah pedas bumbu kuning atau sayur tagas-tagas (campuran bunga papaya, ubi jalar, dan daun singkong). Beberapa jenis ikan yang populer menjadi pendamping papeda adalah ikan gabus, tongkol, mubara, dan gurame. Perlu diingat, lebih lezat menyantap papeda selagi hangat. Anda bisa menggunakan dua buah sumpit untuk ‘menggulung’ papeda atau diseruput langsung seperti kebiasaan penduduk setempat.

Menelusuri Jejak Budaya di Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih

Sebagai ibu kota provinsi, Jayapura menjadi persinggahan yang tepat bagi Anda untuk menyelami kebudayaan masyarakat Papua. Salah satunya dengan mengunjungi Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih. Boleh dibilang, ini merupakan satu-satunya museum di Indonesia yang dikelola oleh instansi perguruan tinggi.

Berdiri sejak tahun 1970, terdapat lebih dari 2.500 benda yang merupakan representasi jejak budaya Papua di sini. Bahkan, sebagian besar berasal dari sumbangan John Rockefeller, jutawan berkebangsaan Amerika Serikat yang sangat mencintai Papua. Selain artefak unik yang biasa digunakan masyarakat Papua sehari-hari, Anda juga bisa menemukan berbagai hewan yang sudah diawetkan. Mulai dari kus-kus hingga biawak.  Buka setiap hari dari pukul 08.00 – 15.00, Anda tidak dipungut biaya apa pun untuk mengunjungi museum ini.

Berburu Oleh-Oleh di Pasar Hamadi

Sebelum mengakhiri perjalanan Anda di Jayapura, sebaiknya berkunjunglah ke Pasar Hamadi. Sekilas memang pasar ini mirip dengan pasar tradisional di kota-kota lain di Indonesia. Banyak barang kebutuhan sehari-hari yang diperjualbelikan di sini. Boleh dibilang, penduduk Jayapura mengandalkan pasar ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Namun, Pasar Hamadi juga menjadi pusat penjualan berbagai kerajinan tangan khas Papua. Dibandingkan kota-kota lain di Papua, pasar ini paling lengkap. Anda bisa menjumpai barang bernilai seni tinggi yang dihasilkan oleh suku-suku pedalaman Papua. Wajar jika Pasar Hamadi menjadi rujukan para wisatawan untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga di rumah.

Beberapa benda seni yang terkenal diburu turis asing maupun domestik adalah lukisan kulit kayu Danau Sentani, patung totem Asmat, hiasan cenderawasih Raja Ampat, dan Noken dari Wamena. Soal keaslian, Anda tidak perlu khawatir. Para pedagang di sini langsung mengambil barang dari pengrajin, sehingga terjamin keaslian dan kekhasan benda tersebut. Harganya pun relatif murah dan bisa bersaing.

Mendatangi Pasar Hamadi tentu memudahkan Anda untuk menemukan beragam karya seni unik dan khas Papua. Anda pun tidak perlu bersusah payah mengunjungi pelosok pulau ini untuk berburu barang seni nan unik sebagai buah tangan. Cukup ke Pasar Hamadi dan Anda bisa mendapatkan semuanya.

Demikianlah sekelumit informasi tentang Jayapura yang perlu Anda ketahui. Semoga informasi ini dapat menjadi bekal perjalanan Anda untuk memulai petualangan menyenangkan di Tanah Papua. Selamat menjelajah!

Hotel Termurah di Jayapura (DJJ)
Lihat semua hotel di Jayapura