Daftar
Daftarkan dirimu sebagai Airy Traveler

DAFTAR
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Sudah punya akun Airy? MASUK
|
Masuk
Masuk sebagai Airy Traveler


MASUK
LUPA PASSWORD?
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Belum punya akun Airy? DAFTAR
Tiket Pesawat ke Manado
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
18 Okt 2018
Tanggal Pulang
20 Okt 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Manado (MDC)

 

Manado

Tentang Kota Manado

Manado begitu tersohor karena adanya Taman Laut Bunaken dengan pemandangan bawah lautnya yang begitu mengagumkan. Ditambah dengan Danau Tondano yang dilatarbelakangi berbagai cerita dan legenda yang terbilang unik, Manado menjadi salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan.

Berdasarkan catatan sejarah pemerintahan setempat, Kota Manado telah ada sejak abad XII silam. Kota yang kala itu berdiri di atas lahan yang disebut “Wanuwenang” oleh masyarakat Minahasa ini didirikan oleh Ruru Ares, yang ketika itu memiliki gelar “Dotu Lolong Lasut”.

Sejarah Singkat Kota Manado

Penggunaan nama Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan dan menggantikan nama “Wenang” ini dimulai pada abad ke-17 atau sekitar tahun 1623. Nama Manado ini sendiri diambil dari Bahasa Minahasa “Manadou” atau “Manarou” yang artinya “jauh”. Kata ini diambil karena pada masa itu, pusat pemerintahan dan kerajaan masyarakat setempat berada di Pulau Manado Tua, bukan di Kota Manado.

Sejak abad ke-17, Manado telah menjadi kota yang terkenal hingga ke Eropa karena hasil buminya yang begitu melimpah, terutama rempah-rempah. Kini, tak hanya kaya akan hasil bumi, Manado telah berkembang begitu pesat menjadi sebuah daerah dengan budaya yang unik dan keindahan alamnya yang tak tergantikan, terutama wisata bawah lautnya.

Kondisi Iklim Manado

Kota Manado memiliki luas wilayah sebesar 15.726 hektare yang didominasi oleh barisan bukit dan gunung. Kondisi ini menjadikan daerah dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 410 ribu jiwa ini memiliki suhu yang cukup sejuk, meski masih termasuk dalam iklim tropis Indonesia, yaitu pada kisaran 24OC hingga 28OC. Saat musim kemarau tiba, suhu tertinggi di Manado bisa mencapai 42OC, sementara suhu akan turun hingga 17OC pada saat musim penghujan.

Kondisi Geografis Manado

Kota Manado memiliki letak yang cukup strategis. Wilayah ini dibatasi oleh Kabupaten Minahasa dan Selat Mantehage di bagian utara, Teluk Manado di bagian barat, dan Kabupaten Minahasa di bagian timur dan selatan. Kota ini termasuk ke dalam wilayah Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) dengan perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Jakarta atau GMT+8.

Penduduk di Kota Manado

Mayoritas penduduk yang mendiami Provinsi Sulawesi Utara berasal dari Suku Minahasa, tidak terkecuali Manado. Namun, tetap ada beberapa suku bangsa lain yang turut ada di sini, seperti Suku Bantik, Sangir, Gorontalo, Tombulu, Mongodow, dan Talud. Bahasa yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari meliputi bahasa daerah asli dan Bahasa Indonesia yang diucapkan dengan logat Manado yang unik.

Persebaran Agama di Kota Manado

Kristen menjadi agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Manado. Namun, tetap ada masyarakat yang menganut agama lain, seperti Islam, Buddha, Hindu, Katolik, dan Khong Hu Chu. Sementara itu, alat musik yang paling populer di Manado adalah kulintang dengan suara nada yang begitu khas.

Bandara di Kota Manado

Manado hanya memiliki satu bandara, yaitu Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi (MDC). Bandara inilah yang menghubungkan Kota Manado sekaligus Provinsi Sulawesi Utara dengan berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga ke berbagai negara lain di lima benua, mulai dari Hong Kong, Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan masih banyak lagi. Jadi jangan heran ketika anda membeli tiket pesawat ke Manado Anda akan tiba di Bandara yang satu ini.

Siapa sangka, ternyata bandara dengan kode MDC ini menjadi salah satu dari 11 pintu utama gerbang pariwisata di Indonesia. Fasilitas yang disuguhkan untuk para calon penumpang pun tidak kalah mewah dan berstandar internasional. Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi (MDC) juga dilengkapi dengan fasilitas berupa garbarata sebanyak empat buah.

Maskapai di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi (MDC)

Bandara Internasional Sam Ratulangi menjadi destinasi utama dari maskapai Garuda Indonesia berikut Citilink Indonesia. Bandara ini juga menjadi destinasi transit atau penghubung untuk beberapa maskapai lain, seperti maskapai Wings Air, maskapai Lion Air, maskapai Nam Air dan maskapai Batik Air. Dari pusat Kota Manado, pusat transportasi udara ini hanya berjarak 13 kilometer atau dapat ditempuh selama kurang lebih 30 menit dengan berkendara.

Terminal di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi (MDC)

Ada dua terminal yang dimiliki oleh Bandara Internasional Sam Ratulangi, yaitu Terminal Domestik dan Terminal Internasional. Masing-masing terminal dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang telah sesuai dengan standar internasional untuk meningkatkan kenyamanan calon penumpang, baik yang akan bepergian, baru saja mendarat, atau hanya sekadar singgah.

Transportasi Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi (MDC)

Transportasi yang bisa digunakan untuk menuju atau meninggalkan bandara pun beragam, seperti taksi bandara, taksi konvensional, kendaraan umum berbasis aplikasi online, dan Bus Damri yang melayani rute Bandara Internasional Sam Ratulangi dan Kota Malalayang yang lokasinya memang cukup jauh. Tentunya, tarif yang dibebankan pun beragam.

Pajak Bandara

Setiap bandara membebankan biaya pajak untuk para calon penumpang. Biaya pajak bandara berkisar antara Rp30.000,00 hingga Rp40.000,00. Namun, kini beberapa bandara di Indonesia tak lagi membebankan bea pajak bandara kepada calon penumpang. Biaya ini sudah termasuk harga tiket pesawat yang dibeli oleh calon penumpang.

Transportasi Lainnya di Manado

Selain jalur udara, Manado juga memiliki berbagai jenis transportasi lain yang menghubungkan daerah satu dengan yang lainnya. Mikrolet menjadi pilihan transportasi umum masyarakat sehari-hari untuk bepergian jarak dekat. Kendaraan laiknya angkot di ibu kota ini terbilang unik, karena setiap mobil biasanya dilengkapi dengan LCD, sound system, juga aksesori yang terbilang nyentrik. Selain mikrolet, transportasi darat lain yang banyak dipilih adalah taksi atau kendaraan berbasis aplikasi online.

Sementara itu, jalur laut di Manado umumnya hanya digunakan oleh kapal-kapal berukuran kecil dengan tujuan Kepulauan Sangir atau Talaud, karena perairan kota ini yang terbilang dangkal. Lokasinya yang dekat dengan Taman Laut Bunaken membuat kapal-kapal besar tidak bisa berlabuh, karena lokasi sekitar Bunaken yang memang dijaga ketat untuk menunjang kelestarian biota bawah lautnya.

Tips Bepergian ke Manado

Musim kemarau atau musim panas menjadi waktu terbaik untuk berkunjung ke Manado di Sulawesi Utara ini. Pasalnya, sebagian besar destinasi wisata yang ada di Manado menyuguhkan pemandangan alam, baik di darat maupun di air. Saat musim hujan, ombak di laut akan meninggi, sehingga bukan menjadi waktu terbaik untuk menyelam atau pun melakukan aktivitas bahari lainnya.

Harga tiket pesawat pada saat musim panas menjelang atau antara bulan April hingga September akan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan saat musim penghujan atau antara bulan Oktober hingga Maret, terlebih pada momen-momen tertentu, seperti saat hari raya Idulfitri atau Natal, liburan sekolah, dan tahun baru.

Saat berkunjung ke Manado, sebaiknya bawalah pakaian berupa kaus dengan bahan yang mudah menyerap keringat dan tidak terlalu tebal. Cuaca Kota Manado akan cukup terik ketika musim kemarau, sehingga tubuh akan mudah berkeringat. Jangan lupa juga bawa pakaian ganti ketika bepergian, terutama jika ingin berkunjung ke pantai.

Destinasi Wisata di Manado

Kota Manado begitu kaya akan destinasi wisatanya, baik berupa wisata budaya atau sejarah, wisata keluarga, wisata alam, hingga wisata kuliner. Jika Anda belum membeli tiket pesawat ke Palembang, tiket pesawat ke Jogja, tiket pesawat ke Lombok, atau tiket pesawat ke Malang untuk liburan Anda, simak beberapa rekomendasi destinasi wisata yang bisa dikunjungi saat singgah ke Manado ini sebagai pertimbangan Anda untuk membeli tiket pesawat :

1.                 Danau Tondano

Danau yang tak kalah indahnya dari Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara ini memiliki luas lebih dari 4 hektare dan terbentuk karena dampak letusan gunung berapi. Danau Tondano terlihat begitu memesona di tengah padatnya pemukiman penduduk di sekitarnya, bagaikan hamparan lautan yang luas dengan air berwarna biru jernih tanpa riak.

Ternyata, ada kisah yang cukup unik dari masyarakat setempat tentang bagaimana danau ini terbentuk. Konon, adanya danau ini adalah akibat dari amukan alam karena terlanggarnya sumpah salah satu pasangan kekasih yang tetap nekat menikah. Namun, dibalik berbagai cerita masa lalu yang masih belum jelas kebenarannya, danau ini tetap saja indah dengan berbagai destinasi wisata yang tak kalah menarik di sekitarnya, seperti Resort Wisata Bukit Pinus, Gua Tikus Tasuka, dan Sumaro Endo di Remboken.

2.                 Taman Laut Bunaken

Taman laut ini menjadi destinasi wisata Manado yang paling diminati, bahkan hingga kalangan wisatawan mancanegara. Bagaimana tidak, pemandangan alam bawah lautnya begitu cantik dengan berbagai biota laut yang hidup di dalamnya. Wisatawan bisa berinteraksi langsung dengan menyelam, snorkelling, atau sekadar berenang dan bersantai.

Diresmikan pada tahun 1991 silam, taman laut paling indah di dunia ini juga dikelilingi pulau yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Ada Pulau Manado Tua, Pulau Mantehage, Pulau Naen, Pulau Siladen, dan Pulau Bunaken. Beberapa tempat terbaik untuk melakukan penyelaman adalah pada Lekukan 1 hingga 3, Pangalisang, Bunaken Timur, Muka Kampung, Fukui, Ron’s Point, dan Mandolin.

3.                 Pulau Lihaga

Terlepas dari hiruk pikuk dan kesibukan adalah salah satu tujuan berlibur. Di Manado, tempat terbaik untuk mendapatkan suasana tenang yang tak tergantikan ada di Pulau Lihaga, surga wisata bahari di Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau kecil tak berpenghuni ini berada di kawasan Likupang, Minahasa, kira-kira sejauh dua jam perjalanan dari pusat Kota Manado.

Di pulau ini, wisatawan akan disambut dengan air laut berwarna biru yang begitu jernih, lengkap dengan pasir putih pantainya yang sangat lembut saat tersentuh kaki. Menyelam dan snorkelling menjadi aktivitas terbaik yang bisa dilakukan di Pulau Lihaga, karena pulau ini juga memiliki pemandangan bawah laut yang tak kalah indahnya dengan Bunaken.

4.                 Bukit Kasih Kawangkoan

Wisata rohani juga cukup populer di kalangan para pelancong modern, terlebih bagi para wisatawan domestik. Di Manado, ada sebuah tempat yang memiliki lima rumah ibadah, masing-masing melambangkan lima agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia bernama Bukit Kasih. Bukit ini berlokasi di kawasan Kawangkoan dengan jarak tempuh selama dua jam perjalanan dari pusat Kota Manado.

Bukan tanpa alasan pemerintah setempat memutuskan untuk membangun lima rumah ibadah sekaligus di Bukit Kasih. Kabarnya, pembangunan ini bertujuan untuk mempererat persatuan dan kesatuan antarumat beragama di Indonesia. Meski berbeda keyakinan, setiap pemeluk agama tetap bisa beribadah berdampingan dengan nyaman. Setiap tempat ibadah dibatasi oleh deretan anak tangga dengan jalur mendaki, jadi siapkan fisik yang kuat untuk menaklukkan satu demi satu deretan anak tangga ini.

5.                 Museum Negeri Sulawesi Utara

Manado juga memiliki berbagai destinasi wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah Museum Negeri Sulawesi Utara yang beralamat di Jalan W.R. Supratman No. 72, Manado. Museum ini menjadi tempat terbaik untuk mengetahui perkembangan Kota Manado, serta napak tilas dari sejarah perjuangan dan budaya masa lampau yang ada di kota ini.

Di sini, ditampilkan koleksi cerita berbagai adat, budaya, dan tradisi masa lampau di Kota Manado lengkap dengan benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari pada masa itu. Terpampang pula berbagai koleksi pakaian adat yang pernah dipakai oleh masyarakat Manado, seperti pakaian adat Sasak, Samawa, dan Mbojo. Tak ketinggalan juga koleksi lengkap benda-benda peninggalan zaman purbakala.

Budaya dan Adat di Manado

1.                 Bahasa Asli Manado

Masing-masing daerah di Indonesia memiliki bahasa yang unik dan khas, baik dari segi penuturan maupun logatnya. Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa wajib di setiap wilayah untuk memudahkan komunikasi. Namun, setiap daerah tetap memiliki bahasa asli yang hanya digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat setempat.

Bahasa asli Manado merupakan hasil serapan dari empat bahasa asing asal Benua Eropa, yaitu Portugis, Inggris, Belanda, dan Spanyol. Keempat negara ini pernah mengunjungi Kota Manado dan singgah dalam waktu yang cukup lama untuk berdagang dan membeli hasil bumi Manado yang kaya akan rempah-rempahnya. Tentunya, bahasa asli atau bahasa daerah ini juga memiliki tingkat kesopanan masing-masing, seperti misalnya bagaimana tutur bahasa yang digunakan saat berbincang pada orang yang lebih tua.

Kini, masyarakat Manado telah begitu mahir berbahasa Indonesia dan mampu berkomunikasi kepada para wisatawan dengan mudah, meski logat dan dialek khas Minahasa masih mendominasi. Bagi wisatawan yang baru saja menginjakkan kaki di Tanah Minahasa Manado, aksen dan dialek masyarakat setempat saat berbincang akan terdengar aneh dan lucu.

2.                 Alat Musik Kulintang dari Manado

Seperti halnya daerah-daerah lain di seluruh penjuru Indonesia, Manado juga memiliki alat musik yang khas, yaitu kulintang. Alat musik yang termasuk jenis pukul ini terbuat dari kayu yang dibentuk menjadi gong-gong kecil dan disusun secara mendatar. Masing-masing gong memiliki nada yang merdu dan unik. Nama kulintang sendiri diambil dari bunyi nada yang terdengar di telinga. Nada “tong” berarti nada rendah, “ting” berarti nada tinggi, dan “tang” yang berarti nada biasa.

Agar bisa membentuk lagu yang harmonis, dibutuhkan beberapa kulintang pendukung, seperti saat sebuah grup band memainkan sebuah lagu. Masing-masing pemain bertanggungjawab terhadap nada yang harus dibunyikan. Selain kulintang, Manado masih memiliki beberapa jenis alat musik tradisional lainnya, yaitu alat musik tiup bambu dan alat musik bia.

3.                 Rumah Adat di Manado

Sementara itu, arsitektur bangunan tempo dulu yang ada di Manado mengusung konsep Rumah Panggung, termasuk rumah adat Manado yang dikenal dengan nama Walewangko. Dibuat dari material kayu yang begitu kuat dan kokoh, Walewangko yang berarti “Rumah Pewaris” ini memiliki dua buah tiang penyangga yang menurut penuturan masyarakat setempat tidak boleh disambung dengan benda apa pun.

Rumah Walewangko terbagi menjadi beberapa ruangan, seperti halnya rumah biasa. Bagian depannya, atau yang disebut Lesar dibuat menyerupai beranda tanpa adanya dinding. Bagian ini biasanya digunakan oleh para kepala suku dan tetua memberikan pidato kepada masyarakat. Menuju bagian selanjutnya, terdapat serambi depan yang disebut Sekey. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang tamu untuk tamu asing. Terakhir, ada Pores yang berfungsi sebagai ruang tamu untuk menyambut tamu keluarga.

Jika diamati dengan lebih teliti, terdapat satu keunikan dari Rumah Walewangko di Manado ini, yaitu pada tangganya yang terdiri dari dua susun di bagian kiri dan kanan rumah. Kabarnya, pembuatan tangga yang sedemikian rupa ini erat dihubungkan dengan kepercayaan Suku Minahasa dalam mengusir roh-roh jahat. Jika roh jahat naik melalui salah satu tangga, ia akan turun melalui tangga yang lain.

4.                 Kebiasaan Mapalus

Berkaitan dengan adat dan kebiasaan sehari-hari, cara masyarakat asli Minahasa yang berdiam di Manado bersosialisasi masih menggunakan konsep Mapalus. Metode yang telah ada sejak zaman nenek moyang ini mengajarkan masyarakat Minahasa untuk selalu bergotong royong dan bekerja sama agar bisa mencapai kepentingan bersama.

Ini disebabkan karena perbedaan kemampuan pada setiap lapisan masyarakat, sehingga dengan menerapkan konsep Mapalus, masing-masing individu tetap saling menghargai dan membantu satu sama lain.

5.                 Tari Daerah khas Manado

Selain bahasa, alat musik, adat istiadat, dan rumah tradisional, Manado juga memiliki tarian khas daerah. Tari Maengket adalah tarian khas yang berasal dari Manado dan salah satu tradisi asal Minahasa yang masih dipertahankan dan dilestarikan hingga sekarang.

Kata Maengket sendiri berasal dari bahasa asli Minahasa, yaitu “engket” yang berarti “mengangkat tumit kaki naik dan turun”. Penambahan kata “ma” pada awalnya diartikan sebagai “menari naik dan turun”. Tarian ini memang begitu khas dengan bagian kaki depan yang naik turun seperti per mengikuti alunan musik.

Tari Maengket mulai diperkenalkan ketika masyarakat Minahasa mulai mengenal sektor bercocok tanam atau bertani. Pada masa itu, tarian ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan hasil panen yang berlimpah.

Terdapat tiga babak pada Tari Maengket, yaitu “Maowey Kamberu” yang mengungkapkan rasa syukur, “Marambak” yang menggambarkan semangat masyarakat Minahasa yang mengutamakan gotong royong, dan “Lalayaan” yang menggambarkan semangat generasi muda dalam mencari pasangan hidup.

Selain Tari Maengket yang memang berasal dari Manado, Provinsi Sulawesi Utara masih memiliki berbagai tarian tradisional lain yang berasal dari berbagai suku yang tersebar di Tanah Minahasa ini. Beberapa di antaranya seperti Tari Kabasaran yang menggambarkan peperangan, Tari Mahambak yang berasal dari Suku Bantik, dan Tari Tumatenden yang mengisahkan tentang hubungan antara seorang petani dan bidadari berdasarkan salah satu cerita rakyat Minahasa.

6.                 Pakaian Adat Khas Manado

Budaya khas Manado pun tak luput dari pakaian tradisional yang dikenakan oleh masyarakat setempat saat melangsungkan atau menghadiri berbagai perayaan. Busana adat model putri duyung dikhususkan untuk wanita pada acara resepsi pernikahan. Busana adat ini dilengkapi dengan berbagai aksesori, mulai dari kalung, anting, gelang, hingga konde dengan bentuk yang unik.

Sementara itu, pengantin pria akan menggunakan setelan jas lengkap dengan topi yang disebut “Porong” dan selendang yang dipakai di bagian pinggang. Busana yang dinamai “Tatutu” ini tidak dilengkapi dengan saku atau krah pada bagian leher.

Bagi para pemuka adat, pakaian tradisional yang banyak digunakan adalah busana “Tonaas Wangko”. Bagian atas baju adat ini memiliki krah yang tinggi dengan kancing dan tanpa saku. Terdapat motif berupa bunga padi yang disematkan di bagian leher, ujung lengan, dan bagian depan yang terpisah oleh kancing dengan warna keemasan.

Selain itu, masih ada pula berbagai baju kedaerahan lain yang sering digunakan untuk acara-acara tertentu yang sifatnya resmi, seperti baju kebaya berwarna putih dengan bawahan berupa kain songket khas Manado berwarna paduan merah dan kuning serta baju adat khusus untuk tarian perang dan berbagai tarian tradisional daerah lainnya.

Berbagai Hal yang Harus Dilakukan Saat Berkunjung ke Manado

Ada banyak sekali atraksi menarik yang bisa dilakukan sesampainya di Kota Manado. Pastinya, destinasi pertama yang harus dikunjungi adalah Taman Laut Bunaken, dengan menyelam atau snorkelling sebagai aktivitas utama. Ada banyak tempat yang menyewakan sarana menyelam dan snorkelling dengan harga yang beragam, tetapi akan lebih baik apabila wisatawan sudah memiliki peralatan menyelam sendiri.

Tidak mahir menyelam atau snorkelling tetapi ingin merasakan sensasi melihat dan berinteraksi langsung dengan kehidupan bawah laut Bunaken? Tenang saja, ada banyak guide yang bisa mendampingi selama wisatawan menyelam atau snkorkelling. Semua guide dijamin terlatih dan profesional.

Puas bermain dengan terumbu karang dan aneka jenis ikan di Taman Laut Bunaken, saatnya beranjak dengan mengunjungi destinasi wisata lainnya. Pantai Malalayang menjadi tujuan paling tepat berikutnya yang harus didatangi. Pantai ini kabarnya merupakan destinasi dengan fenomena matahari terbenam paling cantik di Manado. jaraknya pun tidak jauh, hanya 20 menit berkendara dari pusat Kota Manado.

Masih ingin menikmati suasana alam pantai di Manado? Coba kunjungi Pantai Likupang yang berada sejauh 48 kilometer dari Kota Manado. Pantai ini tak kalah indahnya dari Pantai Malalayang, dengan pasir putihnya yang lembut dan warna biru airnya yang teramat jernih. Pantai ini juga memiliki kehidupan bawah laut yang tak kalah cantik daripada Bunaken. Di Pantai Malalayang juga hidup salah satu spesies satwa langka yang hampir punah, yaitu Penyu Hijau atau Chelonia mydas.

Bagi wisatawan yang ingin melakukan wisata pacu adrenalin, Batu Dinding Kilo Tiga adalah destinasi yang paling tepat untuk dituju. Objek wisata yang berupa tebing setinggi 90 meter ini menjadi surga bagi para pecinta olahraga panjat tebing. Teksturnya yang unik membuat batu dinding ini begitu sulit untuk ditaklukkan. Dua jalur panjat yang paling sulit ditempuh adalah Jalur Malaria dan Jalur Ratapan.

Sempatkan pula untuk mencoba sensasi berkeliling Kota Manado dengan menggunakan mikrolet. Angkutan umum ini akan memanjakan para wisatawan dengan segala keunikannya. Pada beberapa mobil, wisatawan akan disuguhkan dengan alunan musik dari sound system dan berbagai tayangan menarik dari LCD untuk meningkatkan kenyamanan selama dalam perjalanan menuju tempat tujuan.

Manado memiliki budaya yang sangat menarik, jadi jangan sampai terlewatkan untuk mengenal dan mempelajari lebih dalam seputar budaya dan adat istiadat khas Tanah Minahasa. Cobalah untuk berkunjung ke Desa Pulutan yang tak jauh dari Danau Tondano. Di sana, wisatawan bisa belajar berkomunikasi dengan dialek khas Manado, mengenakan pakaian adat Manado, serta mencoba menari Maengket.

Puas berjalan-jalan, kini saatnya memanjakan lidah dengan mencicipi berbagai kuliner khas Provinsi Sulawesi Utara ini. Ada Tinutuan, sajian berupa bubur dengan rasa yang begitu gurih sebagai menu sarapan. Coba juga sambal dabu-dabu dengan rasa pedas yang menggoyang lidah. Tak ketinggalan juga sajian cakalang fufu atau olahan ikan tongkol asap yang bisa diolah menjadi berbagai sajian dengan cita rasa yang sangat khas.

Ingin mencoba kuliner yang menyegarkan? Es bernebon jawabannya. Minuman yang terbuat dari bahan dasar kacang merah ini adalah pelepas dahaga terbaik saat musim panas sedang singgah di Manado. Sebelum mengakhiri perjalanan, sediakan waktu untuk mengunjungi berbagai pusat perbelanjaan di Kota Manado, seperti Manado Town Square, Marina Shopping Walk Manado, dan Megamall Manado yang menghadirkan berbagai produk berkelas bagi wisatawan yang gemar belanja.

Demikian tadi ulasan lengkap seputar Manado, mulai dari sejarah, transportasi, adat dan budaya, destinasi wisata, hingga hal-hal menarik yang bisa dilakukan oleh para wisatawan. Semoga bermanfaat.