Tiket Pesawat ke Medan
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
16 Ags 2018
Tanggal Pulang
18 Ags 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Medan (KNO)

 

Medan

Tentang Kota Medan

Medan tak hanya menjadi salah satu kota penting di Indonesia. Ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini juga memiliki keunikan budaya yang tecermin dalam keragaman etnis, tradisi, dan arsitektur bangunan di sekitarnya. Kekayaan budaya dan alam yang dimiliki Medan membuatnya dipilih sebagai salah satu destinasi wisata populer di Indonesia. Di kota ini, Anda dapat menyaksikan kebudayaan Batak dan Melayu yang berpadu menjadi sebuah daya tarik yang menakjubkan.

Sejarah Kota Medan

Dulu, Medan lebih dikenal sebagai perkampungan bernama Tanah Deli yang dipimpin oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Wilayah Tanah Deli tersebar dari Sungai Ular (Deli Serdang), hingga ke Sungai Waru atau yang kini dikenal dengan nama Langkat.

Asal muasal nama Medan sebenarnya cukup beragam. Banyak yang menyebut nama Medan pertama kali dicetuskan oleh penjelajah Portugis pada abad ke-16. Melalui buku catatannya, penjelajah tersebut menjuluki tanah di Sumatera tersebut sebagai “Medina”, mirip dengan nama kota suci di tanah Arab.

Nama Medan pun sebenarnya ditemukan dalam kamus bahasa Karo karya Darwin Prinst yang diterbitkan pada 2002. Dalam kamus tersebut kata “madan” yang merupakan cikal-bakal nama Medan, memiliki arti sembuh. Menurut catatan sejarah, sesepuh Tanah Deli, Guru Patimpus pun pernah mencetuskan kata “madan” dalam percakapannya dengan seorang pasien yang datang mengunjunginya.   

Pada masa kolonial Belanda, sebagian besar lahan Kota Medan dijadikan sebagai ladang tembakau. Perubahan alih fungsi lahan tersebut mau tidak mau berpengaruh besar bagi perkembangan ekonomi Kota Medan. Pada tahun 1915, Medan secara resmi dinobatkan sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan di Sumatera Utara oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Lokasi dan Luas Wilayah Medan

Kota Medan terletak di Provinsi Sumatera Utara pada koordinat 3°35′LU dan 98°40′BT. Berdasarkan lokasi koordinatnya tersebut, Medan berada di zona Waktu Indonesia Barat (WIB) atau UTC+07:00. Medan berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara dan Kabupaten Deli Serdang di sebelah selatan, barat, dan timur. Medan memiliki luas wilayah 26.510 hektare atau sekitar 3,6 persen dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Luas wilayah Medan dapat dikatakan relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Sumatera Utara.

Secara geografis, Medan dikelilingi daerah dengan kekayaan alam yang melimpah seperti Deli Serdang, Tapanuli Utara, Simalungun, Mandailing Natal, Karo, dan Binjai. Kondisi geografis yang menguntungkan tersebut menciptakan hubungan yang saling menguntungkan, terutama dalam hal ekonomi. Di samping itu, lokasi Medan yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka pun menjadikan ibu kota Sumatera Utara ini sebagai gerbang kegiatan perdagangan domestik maupun internasional.

Iklim Kota Medan

Sama dengan wilayah lain di Indonesia, Medan memiliki iklim hutan hujan tropis dengan cuaca relatif hangat dan curah hujan sekitar 2200 mm setiap tahunnya. Suhu rata-rata harian Kota Medan sekitar 27 derajat celsius sepanjang tahunnya.

Penduduk Kota Medan

Jumlah penduduk Kota Medan berdasarkan sensus tahun 2010 mencapai kurang lebih 2 juta jiwa. Jika digabungkan dengan jumlah penduduk kota satelitnya, seperti Binjai dan Deli Serdang, penduduk Medan dapat mencapai 4 juta jiwa. Fakta tersebut menjadikan Medan sebagai kota berpenduduk terbesar di Sumatera Utara sekaligus kota terbesar keempat di Indonesia.

Kota Medan memiliki keragaman etnis dan budaya dengan mayoritas penduduk berasal dari etnis Batak, Melayu, Jawa, Tionghoa, dan Minangkabau. Keragaman etnis dan budaya tersebut dapat dilihat dari jumlah tempat peribadatan yang tersebar di seluruh kota. Bahkan, di Medan terdapat sebuah perkampungan kecil bernama Kampung Keling, yang notabene merupakan permukiman warga keturunan India.

Keragaman etnis yang dimiliki Medan juga diiringi dengan keragaman agama dan kepercayaan yang dianut warganya. Berdasarkan sensus Kota Medan pada tahun 2015, 59.68 persen penduduk Medan memeluk agama Islam, 21.16 beragama Protestan, 9.90 persen Budha, 7.10 persen Katholik, 2.15 persen Hindu, dan 0.01 persen Konghuchu. Meski terdiri dari beragam etnis dan agama, warga Medan tetap mampu menjaga kerukunan dan perdamaian antar sesama.

Informasi Bandara di Kota Medan

Kota Medan memiliki satu bandara utama yakni Bandara Internasional Kualanamu (kode penerbangan: KNO), yang juga menggantikan kegiatan operasional Bandara Polonia. Bandara Kualanamu terletak di Kabupaten Deli Serdang yang berjarak 39 kilometer dari pusat Kota Medan dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam. Lokasi Bandara Kualanamu berada di bekas wilayah perkebunan PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa, Deli Serdang. Bandara yang diresmikan pada Maret 2014 ini juga merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng. Untuk mencapai bandara yang satu ini Anda dapat memesan tiket pesawat ke Medan dari berbagai maskapai pilihan.

  1. Angkasa Pura II menetapkan tarif pajak domestik Bandara Kualanamu sebesar Rp75.000, dan internasional Rp200.000. Tarif pajak bandara tersebut sudah dimasukkan ke dalam harga tiket pesawat. Jadi, penumpang tidak perlu lagi membayar pajak bandara saat melakukan check-in.

Terminal di Bandara Kualanamu Medan

Bandara Kualanamu terdiri dari dua terminal, yakni terminal penumpang dan terminal kargo. Gedung lantai 1 bandara digunakan untuk terminal kedatangan dan Pier, sedangkan lantai 2 dioperasikan sebagai terminal keberangkatan. Adapun maskapai yang beroperasi di Bandara Kualanamu meliputi:

Transportasi di Bandara Kualanamu Medan

Ada beberapa pilihan transportasi dari dan ke Bandara Kualanamu :

Kendaraan pribadi dan mobil rental

Bandara Kualanamu dapat dijangkau menggunakan mobil pribadi maupun rental dengan lama perjalanan sekitar 60-90 menit. Untuk menghemat waktu tempuh, Anda dapat mengambil rute perjalanan menggunakan Tol Bandara Kualanamu-Sei Rempah. Jalan tol Bandara Kualanamu-Sei Rempah memiliki panjang mencapai 61,2 kilometer dan terhubung dengan tol Belawan, Medan, dan Tanjung Morawa.

Bagi Anda yang ingin menyewa mobil, ada beberapa jasa penyewaan mobil yang tersedia di Bandara Kualanamu seperti Golden Bird, ASSA Rent, dan Wisata Armada. Tarif sewa mobil di Medan per harinya dapat dijangkau dengan biaya sekitar Rp250.000 tanpa supir, dan Rp350.000 dengan supir.

Kereta Bandara

Bandara Kualanamu menyediakan layanan kereta menuju pusat Kota Medan. Layanan kereta di Bandara Kualanamu ini bisa dibilang sebagai pionir di Indonesia. Pasca diresmikan pada 2013 lalu, kereta bandara langsung menjadi sarana transportasi favorit para penumpang yang datang dari atau pergi ke Bandara Kualanamu.

Kereta bandara melayani rute perjalanan dari Bandara Kualanamu ke Stasiun Medan dengan frekuensi kedatangan sekitar satu jam. Tarif kereta bandara dapat dijangkau dengan harga Rp100.000 dan dapat dipesan secara online. Lama perjalanan kereta bandara menuju Stasiun Medan kurang lebih 37 menit.

Bus

Bus menjadi saranan transportasi favorit lainnya di Bandara Kualanamu. Bus Almasar Bandara Kualanamu beroperasi untuk rute menuju Cemara, Binjai, dan Amplas dengan frekuensi kedatangan sekitar 45 menit. Tarif bus Almasar ini dapat dijangkau dengan harga Rp20.000-Rp45.000 tergantung jarak tempuh.

Selain bus Almasar, Bandara Kualanamu pun menyediakan bus DAMRI dengan tujuan Amplas dan Carrefour. Tarif DAMRI bandara ini lebih terjangkau dibanding bus Almasar, yakni hanya sekitar Rp15.000-Rp20.000.

Taksi

Di Bandara Kualanamu, Anda dapat menjumpai berbagai armada taksi menuju pusat kota Medan dan sekitarnya. Beberapa armada taksi yang jamak ditemukan di bandara meliputi Blue Bird, Nice, Karsa, dan Matra. Keempat perusahaan taksi tersebut mematok tarif awal Rp6.000, dengan tarif per kilometernya sebesar Rp3.500.

Tips Bepergian ke Kota Medan

Berlibur ke Tanah Deli alias Medan bisa jadi pilihan yang tepat bagi Anda yang menginginkan suasana liburan yang berbeda. Sebelum berangkat ke Medan, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang kota yang khas dengan bika ambonnya ini. Salah satu hal yang perlu Anda pertimbangkan adalah mencari tahu waktu terbaik untuk berkunjung ke Medan.

Dilihat dari segi iklim, Medan tidak jauh berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang didominasi cuaca cerah dengan curah hujan relatif tinggi tiap tahunnya. Namun, Anda baiknya berkunjung ke Medan pada bulan Juni-September saat cuaca relatif cerah dan intensitas hujan juga tidak terlalu tinggi.

Setiap tahunnya, pemerintah Kota Medan pun menggelar sejumlah acara menarik dan festival kebudayaan yang dapat menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Beberapa festival yang menjadi agenda pariwisata tahunan Kota Medan meliputi:

Festival Danau Toba

Festival Danau Toba tidak hanya memamerkan pesona kebudayaan khas Sumatera Utara. Pada festival yang biasa digelar tiap akhir tahun ini, pengunjung dapat turut berpartisipasi dalam kompetisi olahraga tradisional, atau sekadar menikmati pertunjukkan musik dan tari sembari menjelajahi panorama Danau Toba yang memukau.

Tahun lalu, Festival Danau Toba digelar selama empat hari yakni pada tanggal 6-9 Desember 2017. Pada acara tahunan tersebut, penyelenggara festival mengajak pengunjung untuk menikmati asyiknya agenda festival di tiga lokasi berbeda, yakni di Bakkara atau area pinggiran Danau Toba, Sipinsur yang merupakan area perbukitan Danau Toba, dan Doloksanggul yang notabene merupakan salah satu kota di Kabupaten Humbang Hasundatan.

Pekan Raya Sumatera Utara

Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) bisa jadi merupakan ajang promosi budaya khas dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Ajang pariwisata yang digelar pada bulan Maret-April ini diikuti oleh kota/kabupaten dari seluruh Sumatera Utara. Setiap daerah menampilkan kesenian, budaya, dan produk UMKM khas masing-masing. Tak hanya itu, di PRSU Anda juga dapat menyaksikan beragam atraksi hiburan menarik yang tak jarang pula ditampilkan oleh pesohor tanah air.

Festival Gondang Naposo

Festival Gondang Naposo digelar Pemerintah Samosir dalam rangka mempromosikan potensi wisata Samosir dengan menghadirkan kebudayaan khas Batak yang masih jarang diketahui masyarakat banyak. Tahun lalu, festival budaya ini digelar pada bulan April dan diikuti lebih dari 12 sanggar tari dari seluruh Sumatera Utara.

Di Festival Gondang Naposo, pengunjung akan dibuat takjub saat menyaksikan pertunjukan tari tradisional dan ritual khas Batak yang memiliki nilai filosofis luar biasa. Bahkan, penyelenggara Festival Gondang Naposo pun turut membuat program kontak jodoh serupa program televisi Take Me Out yang dipadukan dengan kearifan lokal budaya Batak.

Medan Melayu Fashion Day

Berbicara mengenai kebudayaan tak melulu harus selalu berkaitan dengan tarian dan musik tradisional. Busana adat pun punya daya tarik tersendiri yang juga dapat menunjukkan identitas sebuah kebudayaan. Hal itulah yang coba dipromosikan Pemerintah Kota Medan melalui penyelenggaraan Medan Melayu Fashion Day yang terakhir kali digelar pada 2016.

Pada acara pagelaran busana khas Melayu ini, Anda dapat mengenal beragam kain tekstil ala Melayu yang mengusung corak warna cerah dan didominasi nuansa keemasan yang erat kaitannya dengan kejayaan Kesultanan Melayu pada masa lampau. Ajang ini tentunya dapat menjadi inspirasi bagi pengunjung yang memiliki minat di bidang fashion.

Daya Tarik Unggulan Kota Medan

Medan memiliki sejumlah destinasi wisata menarik yang menanti untuk Anda kunjungi. Beberapa destinasi wisata favorit warga Medan dan sekitarnya tersebut melliputi:

Danau Toba

Siapa yang tak kenal dengan objek wisata satu ini. Danau Toba merupakan satu dari sekian banyak kekayaan alam Indonesia yang harus Anda kunjungi setidaknya sekali seumur hidup. Objek wisata unggulan Pulau Samosir ini punya sejumlah atraksi wisata menarik seperti Air Terjun Sipisopiso, Bukit Indah Simarjarunjung, Museum Batak, dan Pantai Pasir Putih Parbaba. Di Danau Toba, Anda tidak hanya dapat bersantai sambil menikmati keindahan alam sekitar. Anda pun dapat berkenalan dengan sejarah dan budaya warga Batak Danau Toba.

Istana Maimun

Ingin tahu megahnya peninggalan Kesultanan Melayu? Datang saja ke Istana Maimun yang berada di Jalan Sultan Ma’moen Al-Rasyid Nomor 66, Medan. Salah satu ikon Kota Medan ini banyak disebut-sebut sebagai istana terindah di Indonesia. Pasalnya, Istana Maimun memiliki perpaduan arsitektur bergaya Melayu, Timur Tengah, Spanyol, India, dan Italia. Warna kuning keemasan yang mendominasi Istana Maimun melambangkan kebudayaan Melayu sekaligus warna kebesaran Kesultanan Deli. Jika masuk ke dalam bangunan istana, Anda dapat melihat-lihat berbagai macam koleksi kesenian khas Melayu masa lampau seperti pakaian adat, lukisan, singgasana, dan benda bersejarah lain yang tak ternilai harganya.

Masjid Raya Medan

Peninggalan Kesultanan Deli bukan hanya Istana Maimun. Masjid Raya Medan yang juga merupakan ikon wisata Kota Medan pun turut menyimpan sejarah kejayaan Kesultanan Deli. Masjid yang dibangun sekitar 110 tahun lalu ini tampak megah berkat perpaduan arsitektur khas Timur Tengah, Melayu, dan Eropa serta sejumlah ornamen asli yang masih awet hingga saat ini. Di kompleks Masjid Raya Medan ini Anda juga dapat berziarah di makam para raja dan Sultan Deli yang terletak di sisi barat masjid.

Budaya Kota Medan

Warga Medan dan sekitarnya setidaknya menggunakan tiga bahasa dalam kehidupan sehari-hari, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Batak, dan Bahasa Mandailing. Meski sebagian besar warga Medan fasih berbahasa Indonesia, tidak ada salahnya untuk mempelajari beberapa kosakata dalam bahasa lokal untuk menjalin keakraban dan rasa familier dengan warga setempat.

Suku Melayu, warga asli Sumatera, banyak memilih untuk tinggal di daerah pinggiran kota. Senada dengan warga suku Melayu, suku Mandailing pun lebih suka bermukim di daerah pinggir kota yang nyaman dan jauh lebih sepi dibanding permukiman di daerah perkotaan. Sementara suku Minangkabau dan Tionghoa sering bermukim di pusat kota karena kebanyakan berprofesi sebagai pedagang.

Musik Tradisional Khas Sumatera Utara

Musik merupakan elemen yang tidak terpisahkan dari ritual adat warga Suku Batak. Masyarakat Toba mengenal beberapa jenis musik ensembel yang kerap dimainkan dalam acara-acara adat. Alat musik tradisional Batak yang paling populer terdiri dari gondang sabangunan, uning-uningan, dan gondang hasapi.

Gondang sabangunan merupakan alat musik ensembel terbesar dan paling dominan saat dimainkan di upacara-upacara adat warga suku Batak. Gondang hasapi dan uning-uningan lebih sering bertindak sebagai alat musik pelengkap. Para pemain alat musik ini disebut dengan pargonsi.

Tarian Tradisional Batak

Ada musik, ada pula tarian. Masyarakat Batak sering kali menyertakan tarian tradisional dalam setiap perayaan hari besar keagamaan atau ritual-ritual adat. Beberapa tari tradisional Batak yang masih eksis hingga saat ini di antaranya:

Tari Huda-huda

Tari huda-huda merupakan seni tari tradisional yang berasal dari daerah Simalungun. Awalnya, hanya keluarga kerajaan yang menarikan tari huda-huda. Seiring berjalannya waktu, tari huda-huda pun kini banyak digunakan warga dari berbagai kelas sosial untuk melengkapi acara ritual adat suku Batak. Tarian ini sering disertakan dalam upacara kematian warga Batak di Kabupaten Simalungun. Dengan tari huda-huda, keluarga yang tengah berduka diharapkan dapat sedikit terhibur dan mampu mengikhlaskan anggota keluarga yang telah berpulang.

Tari Piso Surit

Tari piso surit sering kali ditampilkan untuk menyambut tamu besar yang datang di wilayah Batak Karo. Umumnya, tari ini ditampilkan sekelompok wanita muda yang mengenakan pakaian adat dan ulos yang dihiasi warna merah, hitam, dan cokelat. Tari piso surit menggambarkan seseorang yang menantikan kedatangan kekasihnya. Dalam bahasa Batak Karo, piso surit dapat juga diartikan sebagai nama burung yang suka bernyanyi.

Tari Serampang Dua Belas

Nama tarian satu ini mungkin sudah tidak asing di telinga Anda. Tari serampang dua belas berasal dari Serdang Bedagai. Tarian ini sering ditampilkan pada acaraadat dan budaya masyarakat Batak. Selain memiliki gerakan yang indah, tari serampang dua belas pun kaya akan nilai filosofis. Tari ini menggambarkan fase percintaan sepasang muda-mudi sejak awal pertemuan, menjadi sepasang kekasih, hingga berakhir di pelaminan.

Hal yang Harus Dilakukan di Medan

Medan punya banyak tempat menarik yang pastinya akan membuat liburan Anda semakin menyenangkan. Pastikan Anda tidak melewatkan beberapa kegiatan menarik berikut ini saat berkunjung ke Medan:

Berkunjung ke Bangunan Bersejarah yang Ada di Medan

Sebagai kota dengan beragam etnis dan budaya, Medan punya deretan bangunan bersejarah yang akan memberikan gambaran kehidupan masyarakat Medan dari masa ke masa. Selain Istana Maimun, ada satu lagi bangunan bersejarah yang patut Anda kunjungi selama berlibur di Medan, yakni Tjong A Fie Mansion.

Tjong A Fie Mansion merupakan museum yang dulunya sempat menjadi tempat tinggal saudagar Tiongkok yang juga bernama Tjong A Fie. Semasa hidupnya, Tjong A Fie dikenal sebagai saudagar yang dermawan dan memiliki peran penting dalam pembangunan Medan. Di museum yang masih memiliki nuansa hunian era kolonial ini, Anda dapat melihat peninggalan Tjong A Fie dari mulai foto, perabotan antik, piano kuno, lampu hias dengan ornamen khas Eropa, hingga tumpukan buku koleksi sang saudagar.

Tjong A Fie Mansion berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani VII No. 105, Kesawan, Medan dan dibuka setiap hari sejak pukul 09:00-17:00. Harga tiket masuk Tjong A Fie Mansion adalah Rp35.000 untuk umum dan Rp20.000 untuk pelajar.

Menikmati Embusan Angin Pantai Cermin, Serdang Bedagai

Warga Medan punya sejumlah pantai favorit yang biasa dikunjungi saat liburan. Dari sekian banyak pantai yang ada di Medan dan sekitarnya, Pantai Cermin di Serdang Bedagai bisa dikatakan sebagai pantai paling indah yang letaknya tak jauh dari pusat Kota Medan.

Hanya dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit, Anda dapat bersantai sambil bermain di pasir putih Pantai Cermin. Di Pantai Cermin, Anda tidak hanya bisa duduk-duduk di tepi pantai sambil menikmati embusan angin pantai yang menyejukkan. Pantai Cermin punya taman rekreasi yang punya sejumlah spot foto menarik yang akan membuat feeds media sosial Anda semakin cantik.

Wisata Kuliner di Pagaruyung, Kampung Keling

Kampung Keling dikenal sebagai Little India-nya Medan. Di daerah permukiman warga keturunan India ini Anda dapat menemukan sejumlah jajanan dan kuliner khas Melayu peranakan yang menggugah selera. Kuliner Pagaruyung Kampung Keling merupakan area wisata kuliner seluas 10 hektare yang didiami deretan pedagang makanan yang sudah buka sejak pukul 6 sore.

Di Kuliner Pagaruyung Anda bisa menikmati sajian kuliner khas India dan nusantara seperti sate, martabak, teh tarik, dan aneka mi. Soal harga, Anda tidak perlu khawatir sebab seluruh jajanan dan makanan di Kuliner Pagaruyung dibanderol mulai harga Rp10.000. Cukup terjangkau, bukan? Nah, kalau penasaran, Anda bisa langsung datang ke lokasi Kuliner Pagaruyung di Jalan KH. Zainul Arifin, Petisan Tengah, Kota Medan.

Berkeliling Medan dengan Menaiki Becak Motor (Bentor)

Becak motor alias bentor bisa jadi kendaraan umum paling ikonik di Kota Medan. Kendaraan umum yang merupakan gabungan dari becak tradisional dan motor ini paling enak digunakan berkeliling Kota Medan. Warga Medan mengandalkan bentor sebagai sarana transportasi sehari-hari karena selain murah, pengemudi bentor juga biasa menggeber kendaraannya dalam kecepatan tinggi sehingga memudahkan penumpang yang ingin sampai tujuan lebih cepat.

Selain bentor, Medan juga masih punya beberapa angkutan umum yang unik. Salah satunya adalah Sudako alias Sumatera Daihatsu Company yang merupakan angkutan umum berwarna kuning yang kerap memainkan musik dengan volume suara tinggi.

Menyaksikan Proses Penenunan Ulos

Ulos merupakan kain tenun khas suku Batak yang sering dikenakan pada acara-acara spesial. Saat berkunjung ke Medan, tidak ada salahnya untuk mengenal kain khas Batak yang cantik ini dengan berkunjung ke Galeri Sianipar di Jalan AR. Hakim, Gang Pendidikan, Medan. Galeri Sianipar memiliki berbagai koleksi ulos, pakaian tradisional Batak, dan patung-patung dengan berbagai ukuran. Di galeri Sianipar, Anda tidak hanya dapat membeli ulos sebagai buah tangan. Anda juga dapat menyaksikan proses penenunan ulos.

Di Galeri Sianipar, ulos sadum merupakan varian ulos yang paling banyak digemari masyarakat. Anda dapat menemukan motif ulos sadum pada kemeja, sarung bantal, atau taplak meja. Harga ulos di Galeri Sianipar dibanderol mulai Rp15.000-Rp10.000.000. Sementara untuk kain songket, harganya dipatok mulai Rp300.000-Rp3.000.000.

Tamasya ke Pagoda Taman Alam Lumbini

Pagoda tidak hanya ditemukan di Thailand atau Vietnam. Kabupaten Karo pun punya pagoda mewah sekaligus tertinggi di Indonesia, tepatnya di Taman Alam Lumbini. Begitu menginjakkan kaki di Taman Alam Lumbini, Anda akan dibuat takjub saat menyaksikan kemegahan pagoda emas yang sangat mirip dengan Pagoda Shwedagon yang ada di Myanmar.

Pesona Taman Alam Lumbini tidak hanya ada pada pagodanya. Anda pun dapat berkeliling di tamannya yang indah atau sekadar berfoto di atas jembatan berwarna emas sepanjang 20 meter. Dari atas jembatan tersebut, Anda dapat melihat berbagai jenis bunga yang menghuni Taman Alam Lumbini serta jernihnya kolam yang didiami ikan-ikan dengan corak warna yang menarik.

Taman Alam Lumbini berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Medan, atau dapat ditempuh selama kurang lebih dua jam.