Daftar
Daftarkan dirimu sebagai Airy Traveler

DAFTAR
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Sudah punya akun Airy? MASUK
|
Masuk
Masuk sebagai Airy Traveler


MASUK
LUPA PASSWORD?
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Belum punya akun Airy? DAFTAR
Tiket Pesawat ke Padang
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
17 Nov 2018
Tanggal Pulang
19 Nov 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Padang (PDG)

 

Kota Padang

Tentang Kota Padang

Kota Padang terkenal dengan menu masakan khas daerahnya yang tidak hanya tersebar di kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga mampu menjajal mancanegara. Kota ini juga menjadi tempat berkembangnya legenda si anak durhaka Malin Kundang, serta merupakan kota kelahiran tokoh fiksi legendaris, Sitti Nurbaya. Berikut adalah ulasan mengenai ranah Minang, dari sejarah singkat perkembangannya hingga berbagai aktivitas menarik untuk dilakukan di sejumlah objek wisata dalam kota.

Sejarah dan Kondisi Geografis Kota Padang

Berada di area pantai barat Pulau Sumatera, Padang adalah ibu kota sekaligus kota terbesar di Provinsi Sumatera Barat. Seperti halnya wilayah Indonesia lain yang berada di belahan barat, Kota Padang memiliki zona waktu WIB (Waktu Indonesia Barat) yang sebanding dengan zona waktu internasional GMT+7.

Kota Padang berbatasan dengan sejumlah wilayah kabupaten di Sumatera Barat, yakni Kabupaten Padang Pariaman di sebelah utara, Kabupaten Pesisir Selatan di sebelah selatan, dan Kabupaten Solok di sebelah timur. Sementara itu, wilayah barat kota ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Secara geografis, Kota Padang dikelilingi oleh wilayah laut dan pantai sepanjang 68,12 km, serta area perbukitan yang terkenal dengan nama Bukit Barisan setinggi 1.852 mdpl. Perpaduan antara kondisi geografis lautan dan perbukitan membuat Padang kaya akan keindahan alam yang dijadikan sebagai salah satu potensi wisata kota.

Berdasarkan data sensus kependudukan yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016, jumlah penduduk di dalam kota seluas 694,96 km2 ini adalah 902.413 jiwa. Sebagian besar penduduk yang mendiami Kota Padang berasal dari suku Minangkabau. Meski begitu, banyak pula warga pendatang yang berasal dari suku-suku lain di Indonesia, seperti Batak, Aceh, Jawa, Tionghoa, Tamil, Nias, dan Mentawai.

Padang dalam bahasa Minang memiliki dua arti, yakni tanah lapang dan senjata pedang. Menurut riwayat kuno yang beredar di masyarakat sekitar, Kota Padang pada masa lampau merupakan bagian wilayah perantauan orang-orang Minangkabau yang berasal dari tanah Melayu. Penduduk awal Kota Padang mulanya mendiami kawasan pesisir pantai barat Pulau Sumatera yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung. Wilayah tersebut kemudian beralih menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh di awal abad ke-17.

Sejak pertengahan abad ke-17, Kota Padang telah menjadi tujuan penjelajahan bangsa-bangsa Eropa yang berlayar melalui Samudra Hindia dengan misi memperluas wilayah jajahan. Pelaut Inggris tercatat sebagai bangsa Eropa pertama yang masuk ke dalam wilayah perantauan Minangkabau pada tahun 1649.

Belanda menjadi pendatang Eropa selanjutnya yang berhasil menduduki kota ini. Namun, akibat pecahnya perang antara Belanda dan Inggris, Kota Padang sempat jatuh ke dalam kekuasaan Prancis sebelum akhirnya dikembalikan sebagai wilayah jajahan Hindia-Belanda. Pengalihan kekuasaan ini sesuai dengan isi Traktat London yang dikukuhkan pada 17 Maret 1824.

Kondisi geografis Kota Padang yang dekat dengan wilayah perairan dianggap menguntungkan oleh bangsa Belanda yang menjajah kawasan kota. Pada masa pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Kota Padang memegang peranan penting dalam aktivitas perniagaan, terutama perdagangan hasil bumi seperti kopi, teh, dan rempah-rempah. Selain itu, emas juga menjadi komoditas yang tidak luput dieksploitasi oleh bangsa penjajah.

Penjarahan hasil bumi di ranah Minang terus berlanjut hingga awal abad ke-20. Meski begitu, sejumlah perlawanan rakyat Minang banyak dilakukan untuk mengusir bangsa asing dari tanah kelahiran mereka. Salah satu gerakan perlawanan terbesar dan paling bersejarah adalah perlawanan rakyat Pauh dan Koto Tangah pada tanggal 7 Agustus 1669. Tanggal terjadinya pergolakan tersebut hingga saat ini diperingati sebagai hari jadi Kota Padang.

Informasi Bandara di Kota Padang

Kota Padang sebenarnya memiliki dua bandara, yakni Bandar Udara Tabing dan Bandar Udara Internasional Minangkabau. Namun, karena kurangnya fasilitas keselamatan penerbangan, Bandar Udara Tabing yang namanya diubah menjadi Pangkalan Udara (Lanud) Sutan Sjahrir tidak lagi digunakan sebagai bandara komersial sejak 22 Juli 2005. Terletak di wilayah Nanggalo yang berjarak 9 km dari pusat kota, Lanud Sutan Sjahrir yang sudah beroperasi selama 34 tahun itu saat ini hanya dijadikan sebagai pangkalan dan landasan penerbangan militer.

Bandara di Kota Padang yang kini melayani penerbangan komersial untuk tujuan domestik maupun internasional adalah Bandar Udara Internasional Minangkabau (kode IATA: PDG, kode ICAO: WIPT). Selain menjadi bandara bertaraf internasional pertama di Sumatera Barat, bandara ini menjadi satu-satunya bandara di dunia yang memakai nama etnis daerah. Adat dan kebudayaan Minang tidak hanya disematkan pada nama bandara saja, tetapi juga pada arsitektur bangunan bandara yang mengadopsi bentuk atap meruncing dari Rumah Gadang, rumah tradisional etnis Minangkabau.

Berdiri di atas lahan seluas 4,27 km2, Bandara Internasional Minangkabau memiliki fasilitas yang terbilang lengkap. Fasilitas bandara meliputi ruang tunggu keberangkatan, toko suvenir dan oleh-oleh, area bermain anak, dan beberapa kafe serta restoran makanan tradisional dan makanan cepat saji. Bandara juga dilengkapi dengan 17 gerai check-in, 9 gerai penjualan tiket, dan 5 konveyor bagasi.

Bandara Internasional Minangkabau mulai beroperasi sejak 22 Agustus 2005 dan diresmikan sebagai bandara utama Kota Padang tiga hari kemudian. Bandara ini hanya memiliki satu terminal yang melayani penerbangan domestik sekaligus penerbangan internasional.

Penerbangan domestik yang dilayani Bandara Internasional Minangkabau menghubungkan Padang dengan sejumlah kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Bandung, Palembang, Yogyakarta, Surabaya, Batam, dan Pekanbaru. Sementara itu, untuk akses internasional, bandara ini melayani penerbangan ke Malaysia, Singapura, serta Kota Jeddah dan Madinah di Arab Saudi yang melalui rute transit di Kota Thiruvananthapuram, India.

Maskapai penerbangan yang beroperasi di bandara ini di antaranya adalah Garuda Indonesia, AirAsia, Sriwijaya Air, Citilink, Lion Air, dan Batik Air. Sebagian besar maskapai telah memberlakukan ketetapan pajak bandara yang digabungkan dengan harga tiket pesawat. Per April 2017, nominal pajak bandara yang dibebankan kepada penumpang di Bandara Internasional Minangkabau adalah Rp40.000 untuk penerbangan domestik dan Rp100.000 untuk penerbangan internasional.

Bandara Internasional Minangkabau berlokasi di Jalan Mr. Sutan M. Rasyid, Padang Pariaman, Batang Anai, yang berjarak sekitar 23 km di sebelah barat laut Kota Padang. Untuk mencapai bandara dari pusat kota diperlukan waktu tempuh sekitar 45-60 menit. Terdapat sejumlah pilihan transportasi untuk akses dari dan ke bandara. Selain menggunakan mobil sewaan atau kendaraan pribadi, beberapa pilihan sarana transportasi publik seperti taksi bandara, bus, dan kereta api juga bisa digunakan untuk mengakses bandara.

Seiring dengan pembangunan bandara, Pemerintah Kota Padang juga membangun jalan layang untuk mempermudah akses dari bandara ke jalan utama kota. Jalan layang ini menjadi jalur transportasi dua trayek bus yang melalui kawasan bandara, yakni Bus Damri dengan rute Pasar Raya, dan Bus Tranex Mandiri dengan rute Lubuk Begalung. Di samping itu, dibangun pula jalur rel sepanjang 4,2 km yang melayani perjalanan kereta api jarak pendek dari bandara ke Stasiun Simpang Haru.

Waktu untuk Bepergian ke Kota Padang

Karena memiliki iklim hutan hujan tropis, udara di Kota Padang cenderung panas sepanjang tahun dengan kisaran temperatur 23-31°C dan suhu rata-rata 26°C. Meski begitu, Padang termasuk ke dalam kota di Indonesia yang memiliki curah hujan cukup tinggi, terutama dari pertengahan tahun hingga bulan Januari.

Bagi wisatawan Indonesia yang sudah terbiasa dengan iklim tropis, Padang menjadi kota yang bisa dikunjungi kapan saja, baik saat musim kemarau maupun penghujan. Namun, jika ingin menikmati wisata alam Padang atau beraktivitas di luar ruangan, bulan November sebaiknya dihindari sebagai waktu berkunjung. Pasalnya, November menjadi bulan dengan curah hujan tertinggi di kota ini, sehingga intensitas turunnya hujan yang cukup sering bisa mengganggu perjalanan wisata yang telah direncanakan.  

Tempat Wisata di Kota Padang

Berwisata ke Kota Padang tidak akan lengkap tanpa berkunjung ke sejumlah landmark dan objek wisata yang sangat terkenal di kota ini. Lima destinasi wisata berikut adalah beberapa di antaranya.

Masjid Raya Gantiang

Masjid Raya Gantiang adalah masjid tertua di Kota Padang yang juga menjadi salah satu kawasan masjid bersejarah di Indonesia. Dibangun dalam periode lima tahun dari tahun 1805-1810, masjid yang dindingnya didominasi warna hijau ini mengadopsi gaya arsitektur neoklasik Eropa. Gaya tersebut dipadukan dengan atap utama yang berundak-undak serta dua menara yang berada di sisi kiri dan kanan masjid. Masjid Raya Gantiang menjadi objek wisata religi kebanggaan etnis Minangkabau yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Jembatan Siti Nurbaya

Berawal dari sebuah karya sastra lama, Sitti Nurbaya telah menjadi salah satu ikon kebudayaan Minang yang membuat Kota Padang dikenal banyak orang. Namanya kini diabadikan menjadi nama sebuah jembatan yang berlokasi di kawasan Kota Tua Padang. Setiap harinya, Jembatan Sitti Nurbaya selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada waktu sore hingga malam. Lampu-lampu hias yang menyala setelah matahari terbenam serta kapal-kapal kayu yang berlabuh di sepanjang tepian menciptakan pemandangan cantik dan romantis yang sulit terlupakan.

Pantai Air Manis

Dalam bahasa Minang, pantai ini dikenal dengan nama Pantai Aie Manih. Pantai inilah yang merekam jejak legenda Malin Kundang yang durhaka dan tidak mau mengakui ibu kandungnya. Bersanding dengan hamparan laut lepas nan luas yang berombak sedang, gugusan batu-batu besar dapat ditemukan di tepi pantai. Salah satu batu di gugusan tersebut adalah batu berbentuk mirip manusia yang sedang bersujud. Konon, batu itu dipercaya sebagai wujud Malin Kundang yang dikutuk.  

Lembah Anai

Lembah Anai adalah objek wisata air terjun yang sangat terkenal di Sumatera Barat. Lokasinya berada di kawasan Cagar Alam Lembah Anai, Jalan Trans Sumatera, yang berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Padang. Tiga buah air terjun setinggi 35 km ini menawarkan keindahan alam yang bisa membuat siapa pun yang menyaksikannya terkagum-kagum. Keindahan Lembah Anai semakin bertambah dengan adanya aliran sungai jernih yang berada tak jauh dari lokasi air terjun.

Jam Gadang

Menara jam setinggi 26 meter yang menjadi ikon wisata Provinsi Sumatera Barat ini sebenarnya tidak terletak persis di Kota Padang, melainkan di Bukittingi. Jam Gadang dibangun sejak masa kolonial Belanda. Selain berburu foto dan menyaksikan kemegahan Jam Gadang, wisatawan juga bisa menikmati kuliner lokal yang dijual di sekitar kawasan Pasar Atas atau berkunjung ke sejumlah tempat wisata yang letaknya tidak jauh dari lokasi Jam Gadang.

Tips Bepergian ke Kota Padang

Agar pengalaman wisata di Kota Padang semakin lancar dan berkesan, sejumlah tips di bawah ini bisa dijadikan panduan.

Jangan Ragu untuk Berinteraksi dengan Warga

Sekadar menyapa atau menanyakan jalan menuju lokasi wisata bisa menjadi bahan interaksi dengan warga lokal. Penduduk setempat umumnya akan menyambut ramah kedatangan para wisatawan ke Kota Padang. Saat berkenalan atau berinteraksi, tidak ada salahnya meminta warga setempat untuk mengajari kosakata penting dalam bahasa Minang yang mungkin bisa berguna saat menanyakan arah, memesan makanan di restoran lokal, atau bahkan saat ingin berbelanja.

Gunakan Jasa Pemandu Wisata Lokal Jika Dibutuhkan

Menyusun rencana perjalanan untuk menjelajahi Kota Padang seorang diri atau bersama teman perjalanan memang menyenangkan. Namun, jika dirasa perlu, pemandu wisata lokal juga bisa diandalkan. Pemandu wisata biasanya bisa membantu menemukan rute menarik menuju destinasi wisata atau merekomendasikan tempat makan dan berburu oleh-oleh yang tepercaya. Dengan begitu, wisatawan tak perlu lagi kebingungan mencari lokasi yang diinginkan.

Bijak Memilih Antara Transportasi Umum atau Kendaraan Sewaan

Kota Padang memiliki sejumlah pilihan transportasi umum yang biasa digunakan oleh warga setempat. Meski begitu, tidak sedikit pula penyedia jasa sewa kendaraan untuk keperluan wisata yang menawarkan tarif bervariasi.

Memilih antara menggunakan transportasi umum atau menyewa kendaraan sebenarnya bisa disesuaikan dengan tujuan wisata. Jika destinasi yang ingin dikunjungi jaraknya jauh dari pusat kota, menyewa kendaraan lebih disarankan. Sebaliknya, untuk sekadar berjalan-jalan atau menikmati objek wisata di sekitar kota, transportasi umum adalah pilihan yang lebih utama.

Pilihlah Menu Makanan dengan Hati-Hati

Masakan Padang yang banyak dijumpai di kota-kota lain di Indonesia memang sudah identik dengan cita rasa pedas. Di kota asalnya, masakan khas ranah Minang ini memiliki tingkat kepedasan yang lebih tinggi dibandingkan masakan serupa yang dijual di kota lain.

Oleh karena itu, wisatawan yang tidak menyukai atau alergi terhadap makanan pedas dan berkuah santan harus lebih hati-hati dalam memilih menu makanan di Kota Padang. Sebagai rekomendasi, ayam pop dan gulai manih menjadi dua pilihan menu makanan yang terbilang aman dinikmati siapa saja, terutama bagi mereka yang tidak terlalu menyukai sensasi pedas pada masakan.

Menawar Saat Berburu Oleh-oleh

Berbelanja suvenir atau oleh-oleh telah menjadi agenda wisata yang akan terasa sayang bila dilewatkan, tak terkecuali saat berwisata ke Kota Padang. Jika ingin berburu oleh-oleh di kota ini, pasar tradisional adalah pilihan lokasi yang tepat.

Selain menjual oleh-oleh yang jenisnya sangat beragam, pedagang pasar tradisional sudah lazim melakukan kegiatan tawar-menawar dengan calon pembelinya. Dengan begitu, oleh-oleh yang diinginkan wisatawan bisa dibeli dengan biaya yang tidak terlalu menguras bujet liburan. Namun, saat melakukan tawar-menawar harga, jangan lupa untuk tetap bersikap sopan dan menawar dengan harga yang masuk akal.

Budaya Daerah Padang dan Minangkabau

Suku Minangkabau atau Minang yang menjadi etnis terbesar di Kota Padang diperkirakan telah mendiami wilayah kota sebelum abad ke-16. Pada awalnya, orang-orang Minang yang berkaitan erat dengan suku Melayu ini melakukan migrasi ke Pulau Sumatera dari daratan Cina Selatan melalui aliran Sungai Kampar. Selanjutnya, mereka mendiami daerah-daerah di pesisir pantai Sumatera sebelah barat hingga selatan.   

Bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian besar penduduk di Kota Padang dan suku Minang adalah bahasa Minangkabau yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Melayu. Meski sama-sama berasal dari satu rumpun kebahasaan, bahasa Minang memiliki dialek yang berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Sebagai contoh, penduduk yang berada di wilayah Pesisir Selatan Padang akan menuturkan dialek bahasa Minang yang berbeda dari mereka yang tinggal di Pesisir Timur.

Di samping dialek kebahasaan yang bervariasi, etnis Minangkabau juga memiliki jenis kesenian yang sangat beragam, dari alat musik tradisional hingga tari-tarian daerah. Salah satu alat musik tradisional yang terkenal dari daerah Padang adalah talempong. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul. Bentuknya hampir serupa dengan alat musik gamelan yang berasal dari Jawa.

Atraksi dan tarian daerah turut mewarnai keragaman budaya Minangkabau. Tari-tarian tersebut biasanya ditampilkan dalam pesta adat dan pernikahan serta saat perayaan-perayaan istimewa. Beberapa tarian adat daerah Minangkabau adalah Tari Pasambahan yang dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang bagi tamu istimewa, dan Tari Piring yang ditujukan sebagai ucapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Selain itu, ada pula atraksi Silek, yakni seni bela diri khas Minangkabau yang terkenal hingga benua Eropa dan Amerika.

Hal Wajib Dilakukan saat Berkunjung ke Padang

Berwisata di Kota Padang seakan tak ada habisnya. Dari keindahan alam hingga cita rasa kuliner yang beragam, kota ini memiliki segalanya. Jika bingung menentukan hal-hal menarik apa saja yang akan dilakukan saat berkunjung ke Padang, lima aktivitas berikut bisa dijadikan pilihan.

Berwisata Bahari di Pelabuhan Teluk Bayur dan Pantai Nirwana

Terkenal dari sebuah lagu lawas, Pelabuhan Teluk Bayur adalah lokasi wisata di Kota Padang yang menyuguhkan panorama alam menakjubkan di tepi lautan. Kebanyakan wisatawan memilih waktu senja hari untuk berkunjung ke Teluk Bayur, karena di waktu tersebut objek wisata ini dihiasi lampu-lampu sorot yang berpadu indah dengan suasana langit temaram menjelang matahari terbenam.

Tidak jauh dari lokasi Pelabuhan Teluk Bayur, ada satu pantai cantik yang menawarkan hamparan pasir putih lembut serta lautan luas dan landai. Objek wisata ini terkenal dengan nama Pantai Nirwana. Ombaknya yang tidak terlalu besar membuat Pantai Nirwana cocok dijadikan sebagai destinasi wisata keluarga untuk berenang atau bermain air bersama.

Pantai Nirwana bukan satu-satunya pantai memesona yang bisa dinikmati di Kota Padang. Terdapat sejumlah pantai lain yang alamnya tidak kalah elok dan menawan, yakni Pantai Pasir Jambak di Tabing, Pantai Caroline di Teluk Bungus, serta Pantai Padang yang lokasinya tak jauh dari pusat kota.  

Menikmati Segarnya Mata Air Lubuak Mato Kuciang

Jika belum puas bermain-main air di tepi pantai, objek wisata alam yang harus masuk ke daftar destinasi selanjutnya adalah Lubuak Mato Kuciang. Berada di Padang Panjang, lokasi pemandian alami ini banyak diminati wisatawan karena keindahan alam sekitarnya. Lubuak Mato Kuciang sendiri merupakan titik mata air yang terletak persis di kaki Gunung Singgalang.

Kualitas air di pemandian Lubuak Mato Kuciang sudah tak perlu diragukan lagi. Kesegaran yang menggantikan penat maupun lelah akan segera dirasakan oleh mereka yang berendam di dalam pemandian berair bersih dan jernih ini. Selain itu, keindahan lokasi pemandian juga disempurnakan dengan suasana pegunungan yang masih terjaga keasriannya.

Wisata Religi dengan Berkunjung ke Masjid Bersejarah

Bagi wisatawan yang beragama Islam, Kota Padang merupakan destinasi wisata religi yang cukup digemari. Di kota ini, terdapat banyak sekali masjid-masjid tua yang masih berdiri kokoh hingga sekarang dengan arsitektur bangunan yang masih sama seperti aslinya. Masjid-masjid tersebut menyimpan kisah sejarahnya masing-masing.

Wisata religi di ranah Minang bisa dimulai dengan mengunjungi Masjid Muhammadan yang berada di kawasan Kota Tua Padang. Masjid yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Padang ini terkenal akan material bangunannya yang hanya terbuat dari kapur, pasir, gula, serta putih telur yang dijadikan perekat. Meski demikian, masjid ini tetap berdiri kokoh di tengah modernisasi kota.

Masih banyak masjid bersejarah lain yang layak dikunjungi saat berwisata ke Kota Padang. Di antaranya adalah Masjid Raya Gantiang yang merupakan masjid tertua di Sumatera Barat, Masjid Raya Nanggalo yang sempat dijadikan benteng pertahanan dalam usaha merebut kemerdekaan, serta Masjid Raya Ikur Koto yang pondasi serta dindingnya dibangun dengan material batu-batu sungai.

Wisata Sejarah di Kawasan Kota Tua dan Museum Adityawarman

Seperti halnya Kota Jakarta dan Semarang yang menjadikan kawasan kota tua sebagai destinasi wisata, Padang juga tak mau ketinggalan. Kota ini memiliki kawasan Kota Tua yang terkenal dengan sebutan Padang Lama. Kota Tua Padang terletak di hilir Sungai Batang Arau. Di masa lampau, kawasan ini digunakan sebagai pusat perniagaan dan pelayaran kapal dagang yang berlabuh dan bertolak di Pelabuhan Muara. Jejak-jejak sejarah Kota Padang kini tercermin dari peninggalan bangunan-bangunan zaman kolonial yang berada di kawasan Padang Lama.

Selain Kota Tua Padang, objek wisata sejarah lain yang wajib dikunjungi adalah Museum Adityawarman. Berlokasi di Jalan Diponegoro, museum ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Padang yang terkenal dengan arsitektur rumah gadangnya. Museum Adityawarman adalah lokasi yang tepat untuk mengenal sejarah dan perkembangan Kota Padang, karena di dalam museum ditampilkan beragam koleksi benda-benda bersejarah dan warisan kebudayaan Padang serta Minangkabau.

Mencicipi Kuliner Khas Sumatera Barat di Pasar Padang Panjang

Makanan lokal suatu daerah selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang datang ke daerah tersebut. Untuk mencicipi ragam kuliner khas Padang dan Sumatera Barat, Pasar Padang Panjang adalah destinasi yang tepat. Di tempat ini dijual berbagai macam kuliner dan jajanan lokal yang bisa dicicipi langsung di kios-kios makanan.

Pasar Padang Panjang berlokasi di pusat kota, sehingga akses ke kawasan wisata kuliner ini terbilang sangat mudah. Kawasan pasar akan mulai hidup dan semakin ramai menjelang malam hingga dini hari. Puluhan pedagang yang menyuguhkan aneka masakan andalannya siap melayani pelanggan di kios-kios makan mereka yang berderet di sepanjang jalan.

Hampir seluruh jenis makanan tradisional Padang dapat ditemukan di kawasan ini, mulai dari hidangan utama, minuman segar atau hangat, hingga camilan dan jajanan pasar. Rendang, makanan khas Padang yang paling terkenal, sudah pasti tersedia. Selain itu, ada pula jenis masakan lain yang tidak kalah menggugah selera, seperti gulai gajeboh, cancang kambiang, kalio hati, dan pangek ikan. Bagi wisatawan yang ingin menikmati santapan yang lebih ringan, beragam jenis bubur juga bisa dipesan.

Demikian ulasan mengenai Kota Padang beserta sejarah, ragam budaya, fasilitas bandara, serta potensi wisatanya. Sempat berjaya sebagai kawasan perniagaan di era kolonialisme, ibu kota Provinsi Sumatera Barat ini kini terus membenahi fasilitas dan infrastruktur kota untuk menjadi satu dari sejumlah kota besar di Indonesia yang banyak dijadikan destinasi wisata.