Daftar
Daftarkan dirimu sebagai Airy Traveler

DAFTAR
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Sudah punya akun Airy? MASUK
|
Masuk
Masuk sebagai Airy Traveler


MASUK
LUPA PASSWORD?
atau lanjutkan dengan
FACEBOOK
GOOGLE
Belum punya akun Airy? DAFTAR
Tiket Pesawat ke Pontianak
Kota Asal
Semua Bandara
Kota Tujuan
Semua Bandara
Tanggal Berangkat
26 Sep 2018
Tanggal Pulang
28 Sep 2018
Penumpang
1 penumpang
CARI
Tiket Pesawat ke Pontianak (PNK)

 

Pontianak

Tentang Kota Pontianak

Belum lama ini, presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengumumkan wacana akan memindahkan ibu kota ke dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Tentu ini mengundang pro dan kontra. Hingga kini, memang belum ada informasi lanjutan mengenai rencana pemindahan ini. Namun, rasa penasaran akan potensi yang dimiliki oleh Pulau Kalimantan membuat masyarakat mencari tahu semua provinsi yang dimiliki pulau ini, tak terkecuali Pontianak. Ketahui semua tentang kota yang satu ini sebelum Anda membeli tiket pesawat ke Pontianak.

Sejarah Kota Pontianak

Ternyata, Kota Pontianak didirikan pada tahun 1771 oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie yang membangun sebuah rumah tinggal lengkap beserta balainya dengan membuka hutan yang berada di persimpangan antara Sungai Kapuas Besar, Sungai Landak, dan Sungai Kapuas Kecil. Oleh karena perannya dalam mengembangkan Kota Pontianak menjadi kota pusat perdagangan dan pelabuhan, Syarif Abdurrahman pun diangkat menjadi Sultan Pontianak pertama pada tahun 1192.

Sebagai penanda lokasi pusat pemerintahan Kota Pontianak, Syarif lalu mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jami’ sekaligus sebuah istana bernama Istana Kadriah. Pusat pemerintahan ini tepatnya berada di Kelurahan Dalam Bugis yang termasuk ke dalam wilayah Pontianak Timur. Kini, Masjid Jami’ tersebut telah berganti nama menjadi Masjid Sultan Syarif Abdurrahman untuk mengenang jasa sultan pertama Kota Pontianak tersebut.

Berdasarkan cerita dari masyarakat setempat, kata Pontianak berkaitan dengan kisah sang pendiri yang sering mendapat gangguan berupa munculnya hantu kuntilanak setiap kali beliau menyusuri Sungai Kapuas. Syarif pun kemudian mengusir hantu tadi menggunakan meriam. Saat ditembakkan, peluru meriam tersebut jatuh di persimpangan yang menghubungkan Sungai Landak dan Sungai Kapuas.

Kini, lokasi jatuhnya peluru meriam ini bernama Kampung Beting dan menjadi salah satu pemukiman masyarakat Suku Dayak yang masih terjaga kelestarian adat istiadat serta berbagai tradisinya.

Kota yang juga disebut sebagai Kota Khatulistiwa ini memiliki luas wilayah sebesar 107,82 kilometer persegi. Ketinggian kota ini berada pada kisaran 0,1 hingga 0,5 meter di atas permukaan laut (mdpl). Wilayah yang membatasi Kota Pontianak adalah Siantan dan Mempawah di bagian utara, Sungai Raya, Siantan, Kubu Raya, dan Mempawah di bagian selatan, Sungai Kakap dan Kubu Raya di bagian barat, lalu Sungai Ambawang dan Kubu Raya di bagian timur.

Zona Waktu Pontianak

Kota ini terbagi menjadi tiga bagian besar karena terpisah oleh tiga sungai, yaitu Sungai Landak, Sungai Kapuas Besar, dan Sungan Kapuas Kecil dengan mengikuti zona waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA). Zona waktu ini memiliki perbedaan satu jam lebih cepat dari Jakarta atau GMT+8.

Kondisi Iklim di Pontianak

Sama halnya dengan kota-kota lain di Indonesia, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat ini memiliki iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim penghujan yang jatuh pada bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau pada bulan April hingga September. Suhu rata-rata Kota Pontianak adalah 28OC hingga 32OC dengan suhu terpanas mencapai 33OC pada musim panas dan suhu terendah mencapai 22OC pada musim penghujan.

Penduduk di Kota Pontianak

Kota Pontianak dihuni oleh lebih dari 500 ribu jiwa yang berasal dari berbagai suku bangsa dan agama. Suku Dayak menjadi suku terbesar yang ada di kota ini, diikuti oleh berbagai suku lainnya, seperti Suku Jawa, Melayu, Madura, Bugis, dan masih banyak lagi. Islam menjadi agama mayoritas di wilayah ini. Dari waktu ke waktu, kota ini terus mengalami perkembangan dari berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pertanian, perdagangan, perkebunan, hingga sektor industri.

Bandara di Kota Pontianak

Bandara Internasional Supadio (PNK) menjadi satu-satunya bandara yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Bandara ini menghubungkan langsung Kota Pontianak dengan berbagai kota lain di seluruh Indonesia, seperti Aceh, Jakarta, Bandung, Medan, Padang, Semarang, Solo, Yogyakarta, Bali, Lombok, Labuan Bajo, Manado, dan masih banyak lagi kota lainnya.

Bandara Internasional Supadio juga memiliki rute langsung menuju Kuala Lumpur dan Kuching, serta melayani penerbangan perintis ke beberapa daerah kecil di kawasan Kalimantan Barat, seperti Putussibau, Ketapang, dan Sintang yang dipromotori oleh maskapai terbaik Tanah Air, Garuda Indonesia dan dioperasikan oleh “Explore”.

Selain dari maskapai Garuda Indonesia, bandara internasional yang satu ini juga tetap melayani penerbangan dari berbagai maskapai domestik seperti maskapai Citilink, maskapai Lion Air, maskapai Batik Air, maskapai Wings Air, maskapai Sriwijaya Air, maskapai Nam Air, maskapai Trigana Air, maskapai Xpress Air, maskapai Transnusa.

Kode Bandara Internasional Supadio berdasarkan IATA adalah PNK. Dari Kota Pontianak, bandara ini berjarak 17 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit dengan menggunakan kendaraan.  Bandara ini memiliki dua buah terminal, yaitu Terminal Penerbangan Domestik dan Terminal Penerbangan Internasional dengan fasilitas lengkap dan sesuai dengan standar internasional.

Transportasi Bandara di Pontianak

Untuk menuju atau meninggalkan bandara, ada beberapa transportasi umum yang bisa digunakan, seperti taksi bandara, bus, angkutan umum, dan kendaraan berbasis aplikasi online. Namun, beberapa wisatawan biasanya lebih memilih untuk menyewa mobil untuk memudahkan akomodasi menuju ke destinasi wisata tujuan.

Pajak Bandara Pontianak

Dahulu, Bandara Internasional Supadio (PNK) menerapkan sistem biaya pajak bandara sebesar Rp40.000,00 untuk penerbangan domestik dan Rp75.000,00 untuk penerbangan internasional yang harus dibayarkan oleh calon penumpang setelah melakukan check-in dan hendak menuju ruang tunggu atau boarding. Kini, sistem tersebut telah disatukan dengan biaya pembelian tiket oleh penumpang. Untuk mendapatkan harga tiket pesawat terbaik jangan lupa pesan tiket Anda di Airy ya.

Transportasi Dalam Kota Pontianak

Selain pesawat, Kota Pontianak juga memiliki beberapa transportasi umum lainnya. Sebut saja oplet, angkutan umum khas Provinsi Kalimantan Barat yang pintunya ada di bagian belakang, bukan di samping seperti angkutan umum yang ada di kota lain.

Ada pula bus kota yang hanya melayani beberapa rute. Jenis transportasi ini juga tidak terlalu banyak jumlahnya, sehingga wisatawan harus menunggu cukup lama di halte untuk menggunakan kendaraan ini. Sementara itu, taksi menjadi alat transportasi utama di wilayah bandara. Meski demikian, wisatawan perlu bernegosiasi dengan pengemudi mengenai tarif yang dibayarkan, karena hampir semua taksi di kota ini tidak menggunakan argo.

Kota Pontianak juga memiliki kapal sebagai sarana transportasi yang digunakan oleh masyarakat untuk menyeberangi Sungai Kapuas, sungai terbesar di Indonesia. Di sini, masyarakat setempat menyebut kapal feri dengan “pelampong”. Transportasi sungai ini menghubungkan Kota Pontianak dengan Kota Singkawang.

Tips Bepergian ke Kota Pontianak

Seperti halnya kota-kota lain di seluruh Nusantara, waktu terbaik untuk berkunjung dan menghabiskan waktu di Kota Pontianak adalah antara bulan April hingga September atau pada saat musim panas di Indonesia sedang berlangsung. Kunjungan pada saat musim penghujan akan membuat wisatawan tidak bisa menikmati berbagai atraksi menarik di kota ini, juga berbagai wisata alam Kota Pontianak yang mengagumkan.

Saat berkunjung ke ibu kota Provinsi Kalimantan Barat ini, sebaiknya siapkan pakaian dengan bahan yang mudah menyerap keringat. Suhu udara di Kota Pontianak terbilang tinggi saat musim kemarau tiba, dan ini akan membuat tubuh mudah mengeluarkan keringat. Selain itu, jangan lupa untuk selalu membawa pakaian ganti setiap bepergian ke destinasi wisata tujuan.

Destinasi Wisata Populer di Kota Pontianak

Meski tak setenar Bali, Yogyakarta, Bandung, atau pun Lombok, Kota Pontianak tetap laik untuk masuk ke dalam daftar destinasi liburan. Kota Khatulistiwa ini juga punya berbagai destinasi wisata yang tak kalah menariknya dengan kota-kota besar lainnya, berikut beberapa di antaranya:

·                    Rumah Betang Radak

Pergeseran budaya menjadi lebih modern membuat wisatawan akan lebih sulit menemukan segala hal tradisional di suatu daerah. Namun, tidak dengan Kota Pontianak. Di sini, wisatawan bisa dengan mudah menemukan rumah adat khas Suku Dayak, yaitu Rumah Betang Radak. Hal unik dari rumah tinggal Suku Daya ini ada pada panjangnya yang mencapai 150 meter dan mampu menampung hingga 150 jiwa.

Meski hanya berupa replika, tetapi upaya pemerintah setempat untuk melestarikan budaya khas Suku Dayak patut diapresiasi. Pasalnya, destinasi wisata ini tercatat pernah memecahkan rekor sebagai rumah adat paling panjang yang ada di Indonesia. Tak mengherankan, karena rumah adat tiruan ini memiliki panjang 138 meter. Replika Rumah Betang Radak ini berada di Desa Pasir Panjang, Pangkalanbun, Kotawaringin Barat.

·                    Tugu Khatulistiwa

Pontianak menjadi satu-satunya kota yang dilalui oleh garis ekuador. Untuk mengabadikan momen ini, dibangunlah sebuah tugu sebagai simbol kota tersebut, namanya Tugu Khatulistiwa. Tugu yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Provinsi Kalimantan Barat ini memiliki puncak yang cukup unik, yaitu anak panah yang berada di dalam lingkaran, menunjukkan garis khatulistiwa yang melalui kota ini.

Pontianak juga menjadi kota yang mengalami kulminasi atau peristiwa alam saat matahari tepat berada di atas garis ekuador. Momen ini terjadi pada bulan Maret dan September. Pada saat matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa, semua benda tidak akan memunculkan bayangan. Selain itu, terjadinya kulminasi juga menyebabkan kuatnya gaya gravitasi pada daerah tersebut yang membuat telur mampu berdiri tegak.

·                    Museum Negeri Sejarah Budaya Khas

Wisata sejarah memang memiliki daya tarik tersendiri. Tanpa mengetahui bagaimana sejarah kota tujuan membuat liburan atau kunjungan menjadi tidak lengkap. Bagi para wisatawan yang tertarik untuk mengetahui koleksi benda-benda sejarah di Pontianak bisa berkunjung ke Museum Negeri Sejarah Budaya Khas yang berlokasi di Jalan Jenderal A. Yani, Pontianak.

Museum ini terbagi menjadi empat kategori, yaitu kelembagaan, peralatan, koleksi, dan edukasi. Ada banyak koleksi menarik yang dipamerkan di museum ini, mulai dari berbagai jenis batuan alam, koleksi senjata zaman perjuangan, hingga berbagai keramik lokal khas Singkawang. Museum Negeri Sejarah Budaya Khas menjadi tempat yang tepat untuk wisata keluarga atau wisata edukasi bersama anak.

·                    Keraton Kesultanan Kadriyah

Istana atau Keraton Kesultanan Kadriyah adalah salah satu bangunan peninggalan Sultan Syarif Abdurrahman. Istana ini dibangun hampir bersamaan dengan Masjid Jami’ sebagai penanda pusat administrasi Kota Pontianak pada masa kepemimpinannya. Lokasi Keraton Kesultanan Kadriyah ini berada di Kampung Dalam Bugis, tepatnya sejauh empat kilometer dari pusat Kota Pontianak.

Sama seperti museum, keraton ini juga menjadi sarana wisata edukasi sekaligus wisata keluarga terbaik yang ada di Pontianak. Di sini, wisatawan dapat melihat langsung berbagai koleksi peninggalan pada saat Sultan Syarif Abdurrahman memimpin, mulai dari silsilah keluarga kesultanan pertama hingga kedelapan, kaca pecah seribu, singgasana sultan, hingga kitab suci Al-Quran yang ditulis dengan tangan.

·                    Tugu Bambu Runcing (Tugu Digulis)

Selain Tugu Khatulistiwa, Kota Pontianak masih memiliki sebuah tugu lain yang tidak kalah menariknya. Adalah Tugu Bambu Runcing, atau yang dikenal dengan sebutan Tugu Digulis, yang diresmikan pada tahun 1987 silam untuk mengenang jasa para pemuda Kalimantan dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

Wisatawan dapat dengan mudah menemukan Tugu Digulis yang berwujud 11 bambu runcing dengan ukuran yang beragam ini, karena letaknya yang amat dekat dengan Universitas Tanjungpura. Tak jauh dari tugu, terdapat sebuah taman wisata keluarga yang bernama Taman Digulis. Taman ini sering menjadi sarana bermain anak dan perkumpulan mahasiswa.

Budaya dan Adat di Kota Pontianak

Bahasa Asli Pontianak

Pontianak, seperti daerah-daerah lain di seluruh penjuru Nusantara, memiliki bahasa asli sebelum Bahasa Indonesia mulai dipelajari. Adalah Bahasa Melayu Pontianak sebagai bahasa utama yang digunakan oleh masyarakat di Tanah Borneo ini untuk berkomunikasi dengan satu sama lain sehari-hari.

Bahasa Melayu Pontianak memiliki sedikit persamaan dengan Bahasa Melayu yang biasa digunakan di kawasan Semenanjung Malaysia. Munculnya bahasa sehari-hari ini dipengaruhi oleh bahasa asli Suku Dayak, terutama dari rumpun Klemantan.

Keunikan Bahasa Melayu Pontianak ada pada pengucapan huruf ‘r’ yang menjadi sengau dan penambahan partikel ‘bah’ yang berfungsi sebagai penegas atau penguat dari kata-kata sebelumnya. Pada mulanya, orang akan mengira masyarakat Pontianak memiliki cara bertutur yang sedikit kasar. Namun, ternyata tidak demikian. Kasar atau tidaknya bahasa ini terlihat dari intonasi yang digunakan, karena tidak ada tingkatan kesopanan dalam Bahasa Melayu Pontianak.

Selain Bahasa Melayu Pontianak, kota ini juga menggunakan Bahasa Melayu Sambas dan Bahasa Senganan. Namun, penggunaan dua bahasa tersebut hanya ada di beberapa wilayah tertentu. Kini, masyarakat Pontianak modern berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia untuk memudahkan komunikasi dengan pengunjung yang datang ke kota tersebut.

Musik Tradisional Kota Pontianak

Cik Cik Periuk adalah lagu tradisional dari Pontianak. Lagu ini kerap dinyanyikan pada acara-acara adat masyarakat Suku Dayak. Bahkan, lagu dengan dialek khas Melayu Pontianak ini pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional melalui berbagai kompetisi paduan suara. Selain lagu daerah, Pontianak juga memiliki beberapa jenis alat musik tradisional, yaitu:

  1. Sapek

Sapek adalah alat musik petik yang berasal dari Suku Dayak. Alat musik ini memiliki dawai dan dimainkan seperti gitar. Bentuk Sapek cukup unik, yaitu kecil di bagian atas dan membesar di bagian bawahnya, seperti gitar khas Pontianak. Lukisan ornamen khas Kalimantan Barat memenuhi badan alat musik ini, membuat penampilannya begitu orisinil dan kedaerahan.

  1. Agukng

Agukng merupakan alat musik pukul yang bentuknya sangat mirip dengan gong. Pemukulnya pun terbuat dari kayu yang dilapisi sebuah karet atau kain di salah satu ujungnya untuk menabuh. Kabarnya, alat musik ini dipercaya oleh masyarakat Suku Dayak untuk mendatangkan roh para leluhur dan mengusir roh jahat. Uniknya, Agukng tak hanya dimainkan saat upacara atau perayaan adat, alat musik ini juga bisa digunakan sebagai mas kawin dan alat pembayaran yang sah dalam hukum adat Kalimantan Barat.

Seperti halnya gong, Agukng juga memiliki beberapa instrumen pelengkap, seperti Kakanong, Katukekng, Wayakng, Katuku, Kanayatn, Kampo, dan Katukong. Namun, selain Agukng, instrumen pelengkap yang sering digunakan adalah Katukekng dan Katuku.

  1. Kangkuang

Alat musik tabuh ini terbuat dari kayu dengan berbagai bentuk ukiran khas daerah Kalimantan Barat. Kangkuang dibuat oleh masyarakat Suku Dayak yang tinggal di wilayah Kapuas Hulu, yaitu Suku Dayak Banuaka.

  1. Keledik

Keledik memiliki nama lain Kedire, merupakan alat musik tiup khas Suku Dayak. Alat musik ini dibuat dari bahan bambu yang diikat dengan menggunakan benang. Keledik dimainkan sebagai pengiring lagu-lagu tarian, upacara adat Suku Dayak, juga pengiring lagu daerah Pontianak.

  1. Tawaq

Tawaq merupakan alat musik tradisional Pontianak yang biasanya digunakan sebagai pengiring lagu tarian tradisional masyarakat Suku Dayak. Alat musik yang juga disebut sebagai Kotavak oleh masyarakat Suku Dayak Uut Danum ini dimainkan dengan cara ditabuh. Bentuk alat musik ini menyerupai gong dengan ukuran yang lebih kecil.

Tari Daerah Pontianak

Sementara itu, Kota Pontianak pun memiliki beberapa tarian daerah yang hingga kini masih dijaga kelestariannya dan dipertunjukkan pada beberapa peristiwa perayaan atau upacara adat. Dalam menari, masyarakat setempat biasanya menggunakan pakaian adat Dayak dengan ciri khas tidak memiliki lengan dan dipenuhi oleh ornamen khas Suku Dayak. Biasanya, masyarakat wanita akan menggunakan hiasan bulu burung enggang, sementara laki-laki menggunakan Mandau sebagai aksesoris. Ada pun beberapa tarian tradisional Pontianak antara lain:

  1. Tari Monong

Tari Monong memiliki sebutan lain Tari Manang yang dilakukan dengan tujuan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit yang sedang dideritanya. Mulanya, tarian ini adalah tarian penyembuhan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak dengan cara menari sembari membaca beberapa mantra. Kini, Tari Monong juga dipertontonkan sebagai sarana hiburan sekaligus pengenalan budaya pada para wisatawan.

  1. Tari Zapin Tembung

Tarian ini menceritakan tentang bagaimana masyarakat wilayah Kalimantan Barat bersosialisasi atau bergaul. Setiap daerah di Kalimantan Barat memiliki ciri khas tersendiri saat melakukan tarian ini, tak terkecuali Pontianak. Tari Zapin Tembung juga sering dipertunjukkan dalam berbagai acara hiburan dan kesenian di Pontianak.

  1. Tari Mandau

Semangat perjuangan Suku Dayak dalam mempertahankan harkat dan martabat suku pun tertuang dalam sebuah tarian yang dinamakan Tari Mandau. Mandau sendiri merupakan senjata tradisional khas Pontianak yang berupa pedang dengan pegangan yang terbuat dari tanduk rusa dan besi pedang buatan sendiri.

  1. Tari Menoreh Getah

Tari menorah Getah menceritakan kehidupan masyarakat Suku Dayak yang sehari-hari bekerja sebagai penoreh getah untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Gerakan-gerakan pada tarian ini adalah paduan dari gerakan yang digunakan dalam Tari Dayak dan Tari Melayu.

Hal Menarik yang Harus Dilakukan di Kota Pontianak

Tidak banyak wisatawan yang tahu bahwa Pontianak menjadi salah satu destinasi yang wajib dijelajahi. Berikut berbagai hal menarik yang bisa dilakukan ketika berada di Kota Pontianak:

·                    Berkunjung ke Hutan Kota

Perkembangan zaman membuat pepohonan rindang nyaris tak lagi bisa ditemukan di kota-kota besar. Namun, Pontianak masih memilikinya. Adalah Hutan Kota atau yang bernama lain Arboretum Sylva Untan, sebuah area yang dipenuhi koleksi pepohonan dan aneka flora lain yang sekaligus berfungsi untuk sarana pendidikan, pengembangan hutan di wilayah perkotaan, dan hiburan serta rekreasi bagi masyarakat setempat.

Rindangnya pepohonan membuat udara di sekitar kawasan Hutan Kota sangat sejuk, bebas dari polusi serta masih terasa alami, sehingga wisatawan akan betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini. Tempat ini sangat cocok untuk wisatawan yang mencari suasana tenang dan bebas polusi udara.

·                    Bermain Air dan Pasir di Pantai Pasir Panjang

Siapa bilang Pontianak tidak memiliki destinasi wisata alam? Coba kunjungi Pantai Pasir Panjang yang berada di wilayah Singkawang, sekitar 20 menit berkendara dari pusat Kota Pontianak. Pantai yang membentang sejauh tiga kilometer di laut lepas ini memiliki ombak yang tenang dan pasir putih yang lembut. Berenang dan berjalan-jalan di sepanjang pesisir pantai menjadi aktivitas utama yang banyak dilakukan wisatawan di sini.

Suasana dan pemandangan alam di sekitar Pantai Pasir Panjang akan semakin menakjubkan saat matahari mulai pulang ke di ufuk barat secara perlahan. Berubahnya warna langit menjadi jingga akan sangat kontras dengan warna biru air dan putih pasir pantai. Sinarnya yang memantul ke air akan menimbulkan pemandangan yang begitu magis, membuat siapa pun yang melihatnya tak akan berhenti berdecak kagum.

·                    Mencicipi Aneka Kuliner Khas Pontianak

Bubur menjadi salah satu pilihan sajian yang tepat untuk sarapan. Di Pontianak, bubur pedas menjadi kuliner paling favorit dan banyak dicari. Berbeda dengan bubur pada umumnya, keunikan bubur pedas Pontianak ada pada campuran bahannya, seperti daun lengkuas, pucuk daun pakis, dan aneka rempah lain yang membuat masakan ini memiliki kelezatan yang tiada duanya.

Selain itu, ada pula burung punai yang diolah dengan cara dibakar atau digoreng. Lalu, ada chai kue, kudapan tradisional khas Provinsi Kalimantan Barat dengan bentuk menyerupai pastel berisi sayur-sayuran yang kulit pembungkus berwarna putih dan diolah dengan cara direbus. Jangan lupa pula untuk mencicipi segarnya es krim petrus dan es lidah buaya yang namanya sudah sangat populer di kawasan Kota Pontianak.

·                    Sensasi Serunya Naik Oplet

Naik angkutan umum pasti sudah menjadi sesuatu yang sudah biasa dilakukan saat bepergian. Namun, di Kota Pontianak, wisatawan tidak boleh melewatkan transportasi umum yang satu ini. Ya, oplet adalah sebutan yang diberikan masyarakat Pontianak untuk angkutan kota yang beroperasi di wilayah tersebut.

Oplet di Pontianak berbeda dengan angkutan umum lain. Kendaraan ini akan membawa wisatawan kembali pada zaman Si Doel Anak Sekolahan, dengan pintu masuk yang bukan berada di bagian samping mobil, melainkan di belakang. Wisatawan yang ingin berkeliling kota dengan bujet minimal bisa memanfaatkan transportasi umum ini.

·                    Mempelajari Budaya, Bahasa, dan Adat di Kampung Beting

Ingin mengetahui dan belajar serta berinteraksi langsung dengan berbagai adat dan budaya Kota Pontianak? Segera kunjungi Kampung Beting yang kabarnya merupakan kampung pertama di Kota Pontianak. Kampung ini letaknya di daerah pertemuan Sungai Landak dan Sungai Kapuas.

Keunikan dari Kampung Beting ada pada pembangunan rumah tinggal penduduknya. Oleh karena letaknya yang berada di atas air, rumah-rumah penduduk dibangun dengan kayu sebagai material utama. Sebuah jembatan panjang yang juga terbuat dari kayu menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya. Di sini, wisatawan juga bisa merasakan serunya berkeliling kampung dengan menggunakan perahu.

·                    Membeli Oleh-Oleh Khas Kota Pontianak

Sebelum mengakhiri liburan, jangan lupa untuk mampir ke pusat oleh-oleh dan membeli berbagai buah tangan khas Pontianak. Jangan sampai melewatkan oleh-oleh paling populer dari Kota Pontianak, mulai dari cokelat wijen, kue bingka, dan lempok. Pontianak juga memiliki beragam aksesori menarik khas Suku Dayak.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan dunia modern Kota Pontianak, beberapa pusat perbelanjaan yang bisa dikunjungi antara lain Ayani Megamall, Mal Matahari Pontianak, dan Mall of Borneo. Selain berbelanja berbagai produk berkelas, wisatawan juga bisa menghabiskan waktu dengan menyaksikan pemutaran film-film terbaru atau menikmati sajian kelas atas.

Demikian tadi ulasan singkat mengenai Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Semoga bermanfaat untuk pedoman bagi para wisatawan yang baru pertama berkunjung ke Tanah Borneo ini. Selamat berlibur!